src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Ratusan Hektare Sawah di Samarinda Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

Ratusan Hektare Sawah di Samarinda Terancam Gagal Panen Akibat Kemarau

waktu baca 4 menit
Sabtu, 22 Agu 2026 17:46 21 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kemarau panjang yang dipicu El Nino menjadi ancaman bagi lahan pertanian di Kota Samarinda. Sekitar 200 hektare sawah yang tersebar di sejumlah kawasan tercatat belum memasuki masa panen dan masih membutuhkan pasokan air. Jika tak ditangani, ratusan hektare sawah ini terancam puso alias gagal panen.

Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapangtani) Samarinda, Noke Pattipawaej, mengatakan lahan yang belum panen tersebut tersebar di Sambutan, Palaran, Loa Janan, dan Samarinda Utara.

Dijelaskannya, kondisi tanaman di setiap wilayah berbeda. Sebagian lahan telah selesai dipanen, sementara lainnya masih berada pada fase pengisian bulir padi yang sangat membutuhkan ketersediaan air. “Total kalau yang belum panen untuk keseluruhan kita masih menghitung, masih koordinasi, tapi mungkin sekitar 200 hektare untuk Kota Samarinda. Artinya Sambutan, Palaran, Loa Janan, sama Samarinda Utara,” kata Noke saat diwawancarai Jum’at, 21 Agustus 2026.

Salah satu kawasan yang menjadi perhatian berada di Sambutan. Dari sekitar 180 hektare lahan sawah di kawasan tersebut, sebagian telah memasuki masa panen. Namun, masih terdapat lahan yang belum dipanen dan berisiko mengalami puso apabila kekeringan terus berlanjut hingga akhir Agustus.

Noke mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena tanaman padi yang sedang memasuki fase pengisian bulir membutuhkan air dalam jumlah cukup. Jika pasokan air tidak terpenuhi, produktivitas tanaman dapat menurun bahkan berpotensi menyebabkan gagal panen. “Yang kita khawatirkan itu jika sampai akhir bulan ini tidak ada hujan, khawatirnya mengalami puso atau kekeringan,” tutur dia.

Untuk menekan risiko tersebut, Distapangtani Samarinda mulai mengoptimalkan sumber air yang masih tersedia bersama kelompok tani. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggunakan pompa air untuk mengalirkan air ke lahan pertanian. Namun, penggunaan pompa juga menghadapi tantangan karena sumber air seperti anak sungai berpotensi ikut mengering. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan alternatif dengan memanfaatkan sumber air lain, seperti sumur maupun embung.

Pihaknya, lanjut Noke, juga mempertimbangkan penggunaan pompa portabel yang lebih mudah dipindahkan. Pemerintah dapat membantu kelompok tani dengan sarana pendukung seperti pipa atau selang agar sumber air yang tersedia dapat menjangkau lahan persawahan.

“Kalau sumber air yang utama, misalnya anak sungai, juga mengering, kita coba mungkin menggunakan sumur atau embung yang ada. Makanya kita coba nanti menggunakan pompa air yang portable,” jelasnya.

Selain Sambutan, kawasan Samarinda Utara juga menjadi perhatian karena termasuk salah satu lumbung pangan Kota Samarinda. Distapangtani bersama kelompok tani telah berkoordinasi dengan pengelola waduk untuk membuka jalur irigasi guna membantu mengairi persawahan.

Langkah tersebut, menurut Noke, sudah mulai dilakukan untuk mendukung kebutuhan air lahan pertanian di Samarinda Utara. Ia menilai perlindungan terhadap kawasan lumbung pangan menjadi penting karena gangguan produksi pertanian berpotensi berdampak terhadap ketersediaan pangan dan harga komoditas di pasar. Terlebih, sejumlah komoditas pertanian seperti sayuran juga turut berpengaruh terhadap inflasi.

“Kita mencoba supaya tetap tidak gagal panen di daerah-daerah lumbung pangan kita karena terkait masalah pemenuhan kebutuhan pangan, sehingga tidak mengganggu harga pasar,” tambahnya.

Meski demikian, Noke belum menghitung potensi kerugian ekonomi maupun dampak inflasi apabila sebagian lahan benar-benar mengalami gagal panen. Menurutnya, fokus Distapangtani saat ini adalah menekan luas lahan yang mengalami puso dan menjaga produktivitas tanaman yang masih bisa diselamatkan.

Jika kondisi terburuk terjadi, pemerintah akan tetap mengupayakan berbagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan air. Salah satunya dengan mendatangkan bantuan tangki air, meski langkah tersebut dinilai sebagai opsi terakhir karena kebutuhan air lahan pertanian cukup besar.

“Kalau berbicara gagal panen, kami tetap berharap ini tidak gagal, tapi kalaupun itu gagal panen, setidaknya kami mengupayakan persentase lahan puso itu tidak terlalu besar,” ungkap Noke.

Dikatakannya, kebutuhan air tanaman padi berbeda berdasarkan fase pertumbuhannya. Menjelang panen, kebutuhan air relatif menurun, tetapi pada fase pengisian bulir justru tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup untuk mempertahankan hasil produksi.

Oleh karena itu, lahan yang saat ini belum memasuki panen menjadi prioritas pemantauan. Distapangtani juga terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan kelompok tani untuk menyesuaikan pola pengelolaan air dengan kondisi di lapangan. Kondisi kekeringan tidak hanya terjadi di satu titik, sebut dia, melainkan tersebar di sejumlah kawasan pertanian Samarinda. Namun, tingkat dampaknya berbeda karena sebagian lahan telah lebih dulu memasuki masa panen. “Semua itu terpapar, cuma sebagian ada yang sudah panen, sebagian lagi ada yang belum,” katanya.

Sementara itu, kawasan Tanah Merah, termasuk wilayah Serayu, juga menjadi salah satu lokasi yang mengalami kekurangan air. Distapangtani masih berharap tanaman di kawasan tersebut mampu beradaptasi dengan kondisi kekeringan sehingga tidak seluruh lahan mengalami puso.

Di tengah ancaman kemarau yang masih berlanjut, Noke mengimbau petani untuk menggunakan air secara efisien. Pemerintah juga berharap hujan segera turun sehingga dapat membantu menutup kekurangan pasokan air yang saat ini dialami sejumlah lahan pertanian.

“Untuk petani kita tetap berupaya untuk efisiensi air. Harapan kita tetap hujan, artinya bisa menutupi kekurangan air pada saat ini sehingga dampak terhadap produksi tidak terlalu buruk,” harap Noke Pattipawaej. (Retno)

LAINNYA
x