src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> 102 Kasus Karhutla Terjadi di Samarinda, Luas Lahan Terbakar Capai 160 Hektare

102 Kasus Karhutla Terjadi di Samarinda, Luas Lahan Terbakar Capai 160 Hektare

waktu baca 3 menit
Jumat, 28 Agu 2026 11:39 20 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kebakaran lahan terus terjadi di sejumlah wilayah Kota Samarinda selama musim kemarau. Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda mencatat sedikitnya 102 kejadian kebakaran lahan dengan total luas area yang terbakar mencapai sekitar 160 hektare.

Plh Kepala Pelaksana BPBD Samarinda Romiansyah mengatakan, kejadian tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan di Samarinda. Hanya Kecamatan Samarinda Kota yang hingga kini tidak tercatat mengalami kejadian kebakaran lahan.

“Pada hari ini, tanggal 27 Agustus 2026, sudah terjadi kurang lebih 102 kejadian kebakaran lahan. Kurang lebih hampir seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Samarinda Kota,” ujar Romiansyah saat diwawancarai pada Kamis, 27 Agustus 2026.

Dari ratusan kejadian tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 160 hektare. Kondisi ini menjadi salah satu dasar pemerintah meningkatkan penanganan bencana yang berkaitan dengan kemarau, termasuk kebakaran lahan dan potensi kekurangan air bersih.

Sebelumnya, Pemkot Samarinda menetapkan status siaga darurat pada 20 Agustus 2026. Status tersebut kemudian ditingkatkan menjadi tanggap darurat mulai 26 Agustus hingga 7 September 2026 atau selama 14 hari.

Romiansyah menjelaskan, perubahan status tersebut diikuti dengan pengaktifan sistem komando dan pendirian posko sebagai pusat koordinasi penanganan. Posko tersebut melibatkan perangkat daerah, instansi terkait, relawan hingga media untuk memperbarui informasi mengenai perkembangan situasi di lapangan.

Selain penanganan kebakaran lahan, BPBD juga mulai melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang terdampak berkurangnya operasional layanan air perpipaan. Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan pengerahan personel dan peralatan untuk menangani kebakaran.

“Truk tangki air bertugas untuk di dua kejadian secara bersamaan. Kami melakukan penanganan kebakaran lahan dan di sisi lain juga melakukan perbantuan distribusi air bersih ke beberapa kelurahan, kecamatan yang saat ini sudah mulai terdampak,” jelas dia.

Untuk mendukung pemadaman, BPBD Samarinda saat ini mengandalkan dua unit mobil tangki yang masih beroperasi. Selain itu, terdapat sekitar 8 hingga 10 mesin portable yang dapat digunakan untuk menjangkau lokasi yang tidak bisa dimasuki kendaraan tangki.

Peralatan tersebut ditempatkan pada kendaraan lain sehingga dapat dibawa mendekati titik kebakaran. Penanganan juga diperkuat personel Dinas Pemadam Kebakaran, posko-posko terdekat serta relawan yang dikerahkan sesuai kebutuhan di lapangan.

Di tengah meningkatnya kejadian, BPBD juga memantau sebaran titik panas. Berdasarkan informasi dari BMKG Stasiun APT Pranoto, terdapat sekitar lima titik hotspot yang terpantau di wilayah Samarinda pada Kamis.

Meski sejumlah kebakaran terjadi di lokasi yang relatif dekat dengan permukiman, Romiansyah memastikan hingga saat ini belum ada warga yang harus mengungsi akibat kebakaran lahan. “Alhamdulillah sampai saat ini tidak ada pengungsian untuk yang kebakaran lahan, karena memang sampai kejadian terakhir itu relatif, meskipun sudah dekat tapi masih relatif aman dari titik permukiman warga,” kata Romiansyah.

Terkait kemungkinan adanya unsur kesengajaan dalam sejumlah kebakaran, BPBD memilih tidak mengambil kesimpulan karena tugas utama mereka berada pada penanganan kebakaran. Romiansyah mengatakan pihaknya memang menemukan beberapa orang yang terlihat melakukan aktivitas pembakaran di lapangan, namun persoalan tersebut menjadi kewenangan aparat setempat untuk ditindaklanjuti.

Sementara itu, menghadapi potensi kebakaran yang meluas, Pemkot Samarinda telah mengusulkan dukungan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Salah satu usulan tersebut berupa pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu memicu hujan melalui penaburan bahan tertentu ke atmosfer.

Selain OMC, pemerintah juga mengusulkan dukungan water bombing apabila kebakaran berkembang menjadi lebih luas dan tidak dapat ditangani dari darat. Namun, Romiansyah berharap kondisi tersebut tidak sampai terjadi. “Sedang kita usulkan ke BNPB,” tandas Romiansyah. (Retno)

LAINNYA
x