src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Komunitas Gerobooks Berau hadirkan kelas berbagi perspektif baru pada taman kanak-kanak dengan kebutuhan khusus di Jerman bersama Aldelta Zoraya Putra. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Komunitas Gerobooks Berau kembali menghadirkan ruang berbagi yang tidak sekadar membahas buku, tetapi juga membuka perspektif baru tentang pendidikan dan pendampingan anak berkebutuhan khusus. Melalui kegiatan kelas berbagi, komunitas ini menghadirkan Aldelta Zoraya Putra untuk membagikan pengalamannya mendampingi anak berkebutuhan khusus di sebuah taman kanak-kanak (TK) di Jerman.
Kegiatan yang berlangsung di Pour Cafe, Jalan Durian III, Kabupaten Berau pada Rabu, 26 Agustus 2026, mempertemukan orang tua, pendidik, tenaga kependidikan, serta sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap isu inklusivitas.
Aldelta yang memiliki pengalaman bekerja di lingkungan pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jerman mengajak peserta melihat autisme dan kebutuhan khusus dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, hal paling mendasar yang perlu dilakukan pendidik maupun orang tua adalah memahami bagaimana anak dengan autisme memandang dunia.
Ia menjelaskan, anak dengan autisme dapat memiliki karakteristik yang berbeda, mulai dari keterlambatan bicara atau speech delay, kesulitan melakukan kontak mata, hingga tantangan dalam membangun interaksi sosial. Kondisi tersebut juga dapat muncul bersamaan dengan gangguan lain atau yang dikenal sebagai komorbiditas. “Ketika dia (anak berkebutuhan khusus) melihat dunia itu berbeda dengan kita,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan pendidikan terhadap anak berkebutuhan khusus tidak dapat disamaratakan. Di tempatnya bekerja di Jerman, satu kelompok terdiri dari delapan anak dengan pendampingan dua tenaga pedagogi spesialis. Komposisi anak pun beragam, termasuk anak dengan spektrum autisme, keterlambatan bicara, maupun gangguan perkembangan lainnya.
Keberagaman tersebut justru menjadi bagian dari pendekatan inklusif. Anak dengan autisme diberikan kesempatan untuk belajar melalui interaksi dengan teman-temannya. “Kenapa dicampur? Supaya anak autisme bisa belajar dari temannya. Itu pentingnya integrasi dan inklusivitas supaya anak bekerja sama dan melihat pengalaman dengan teman-temannya,” jelasnya.
Salah satu hal yang menarik dari pengalaman Aldelta adalah bagaimana pendidikan anak berkebutuhan khusus di Jerman sangat menekankan struktur, rutinitas, dan visualisasi. Dalam kesehariannya, anak-anak tidak hanya diberikan instruksi secara verbal, tetapi juga dibantu dengan gambar, foto, warna, simbol, hingga jam pasir. Hal tersebut dilakukan karena sebagian anak berkebutuhan khusus mengalami kesulitan memahami konsep yang abstrak.
Oleh karena itu, setiap kegiatan memiliki urutan yang jelas. Mulai dari bermain di taman, masuk kelas, mencuci tangan, mengikuti kegiatan pagi, makan, bermain bebas, hingga waktu istirahat. Bahkan, perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lain diberikan sinyal yang konsisten agar anak mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
Penggunaan jam pasir menjadi salah satu contoh sederhana. Ketika anak diminta duduk atau menunggu selama beberapa menit, durasi tersebut divisualisasikan melalui jam pasir sehingga anak dapat melihat kapan aktivitas akan berakhir. Menurut Aldelta, cara tersebut membantu anak merasa lebih aman sekaligus mengurangi kecemasan karena mereka dapat memprediksi rutinitas yang akan dijalani.
Hal lain yang menjadi sorotan adalah konsep Freispiel atau bermain bebas. Dalam sesi ini, tenaga pendidik tidak serta-merta mengintervensi permainan anak, melainkan mengambil jarak dan mengamati terlebih dahulu. Pendekatan tersebut memungkinkan guru melihat bagaimana anak berinteraksi secara alami, termasuk ketika terjadi perselisihan kecil antaranak.
Menurutnya, konflik atau pertengkaran sederhana justru dapat menjadi pintu masuk untuk melihat kemampuan sosial anak. Dari sana, pendidik dapat mengetahui apakah anak mulai tertarik kepada teman, mampu mempertahankan interaksi, atau membutuhkan dukungan lebih lanjut. “Dalam Freispiel kita diajarkan untuk sedikit jaga jarak, mengamati dulu,” ungkapnya.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu perspektif yang menarik bagi peserta, khususnya karena praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia memiliki tantangan dan kondisi yang berbeda.
Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang yang penting bagi masyarakat Berau untuk saling berbagi pengalaman dan kegelisahan terkait pendidikan maupun pendampingan anak berkebutuhan khusus.
Menurutnya, diskusi yang berlangsung sederhana justru menghasilkan pembahasan yang sangat kaya dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. “Isi diskusi ini sangat bermanfaat karena kami di Berau butuh ruang berbagi, bercerita dan mendengar kisah, meluapkan kegelisahan, serta saling menguatkan,” ungkapnya.
Ia menilai forum tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun keberlanjutan gerakan inklusivitas di Kabupaten Berau. Terlebih, kegiatan itu mempertemukan berbagai pihak yang memiliki pengalaman dan tantangan berbeda, mulai dari orang tua hingga pendidik dan tenaga kependidikan.
Kata dia, pertukaran pengalaman dan pengetahuan juga dapat menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman masyarakat terhadap isu-isu sosial, termasuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus. “Ini adalah awal yang baik dari keberlanjutan inklusivitas di Berau. Karena di forum tersebut kita dapat mempertemukan orang tua, pendidik, tenaga kependidikan dan bidang lain yang sedang berjuang,” pungkasnya. (Riska)