src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kunjungi Berau, Menhut Soroti Ancaman Karhutla terhadap Hutan dan Satwa Liar

Kunjungi Berau, Menhut Soroti Ancaman Karhutla terhadap Hutan dan Satwa Liar

waktu baca 2 menit
Rabu, 26 Agu 2026 21:18 39 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni turun langsung memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau pada Rabu, 26 Agustus 2026. Kunjungan tersebut sekaligus menjadi perhatian serius terhadap ancaman kebakaran yang berpotensi mengganggu kawasan hutan dan habitat satwa liar.

Kedatangan Raja Juli Antoni di Bandara Kalimarau disambut Bupati Berau Sri Juniarsih Mas bersama Wakil Bupati Berau Gamalis. Dari bandara, rombongan bergerak menuju Pos Karhutla di Labanan untuk melihat kesiapan penanganan di lapangan.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan peninjauan langsung kawasan terdampak karhutla di Jalan Poros Kelay. Dari lokasi tersebut, rombongan menuju Kampung Merasa untuk penyerahan SK Landscape Karahitan yang dikelola Conservation Action Network (CAN), sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan kawasan berbasis konservasi.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas mengatakan, kondisi cuaca yang masih kering membuat potensi karhutla perlu terus diantisipasi. Pemerintah Kabupaten Berau pun memperkuat koordinasi bersama pemerintah provinsi dan pusat agar penanganan di lapangan dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

“Dukungan pemerintah pusat menjadi bagian penting dalam memperkuat langkah pencegahan maupun penanganan karhutla, terutama untuk memastikan kawasan hutan dan lingkungan Berau tetap terlindungi,” jelasnya.

Raja Juli Antoni menaruh perhatian khusus pada dampak karhutla terhadap habitat satwa liar. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan kebakaran tidak semata-mata diukur dari luas lahan yang berhasil dipadamkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kawasan konservasi tetap aman.

Menteri Kehutanan meminta agar kebakaran tidak sampai memutus ruang hidup satwa maupun menimbulkan korban akibat terjebak dalam kawasan yang terbakar. “Habitat satwa liar menjadi salah satu perhatian dalam penanganan tersebut,” bebernya.

Data penanganan karhutla di Berau menunjukkan ancaman yang masih cukup besar. Tercatat sekitar 5.096 titik hotspot dengan luasan terdampak mencapai 435 hektare. Sementara kejadian karhutla mencapai 208 kasus, meski angka tersebut masih berpotensi bertambah karena belum seluruh kejadian dilaporkan.

Sambaliung, Pulau Derawan dan Teluk Bayur menjadi tiga wilayah dengan intensitas karhutla yang tergolong tinggi. Sedangkan lima kecamatan lainnya masuk kategori intensitas sedang. Untuk memperkuat pengawasan dan respons di lapangan, pemerintah telah menyiapkan 11 pos pengendalian karhutla.

Dari ratusan kejadian yang tercatat, sebanyak 123 kasus telah berhasil ditangani dan dipadamkan. Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir sehingga kewaspadaan tetap harus dijaga.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga menyatakan kesiapan untuk membantu apabila masih terdapat kebutuhan tambahan sarana dan prasarana dalam penanganan karhutla. Dukungan tersebut nantinya dapat diarahkan melalui pendanaan FCPF untuk memperkuat kapasitas pengendalian di daerah. (Riska)

LAINNYA
x