src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Najemudin Pimpin PMI Berau Periode 2026-2029, Bawa Semangat Organisasi yang Solid dan Humanis

Najemudin Pimpin PMI Berau Periode 2026-2029, Bawa Semangat Organisasi yang Solid dan Humanis

waktu baca 3 menit
Senin, 24 Agu 2026 17:28 16 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Berau memasuki babak baru kepengurusan. Najemuddin kini menjabat sebagai Ketua PMI Kabupaten Berau periode 2026-2029 yang dilantik pada Senin, 24 Agustus 2026 di Ruang Sangalaki. Najemudin, menegaskan jabatan yang diembannya bukan sekadar kedudukan, melainkan amanah besar untuk memastikan pelayanan kemanusiaan berjalan bagi masyarakat.

“PMI hadir bukan untuk membedakan siapa yang harus dibantu. PMI hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, ketika terjadi bencana, ketika darah dibutuhkan, dan ketika nilai-nilai kemanusiaan harus kita tegakkan bersama,” ucapnya.

Ia mengajak seluruh pengurus, anggota, relawan, dan keluarga besar PMI Berau membangun organisasi yang semakin solid, profesional, responsif, dan dekat dengan masyarakat. Dirinya juga membuka ruang komunikasi dan kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, relawan, serta masyarakat luas.

Menurutnya, kekuatan PMI tidak hanya berada pada struktur organisasi, tetapi juga pada semangat pengabdian para relawan dan dukungan berbagai pihak. Ia turut memberikan penghargaan kepada kepengurusan sebelumnya yang telah meletakkan pondasi bagi PMI Berau. “Apa yang telah dilakukan akan menjadi pondasi bagi kami untuk melanjutkan dan meningkatkan pelayanan kemanusiaan ke depan,” ungkapnya.

Najemudin pun mengajak seluruh jajaran PMI menyatukan langkah dan memperkuat soliditas agar PMI Berau tidak hanya hadir sebagai organisasi, tetapi benar-benar menjadi kekuatan kemanusiaan yang bergerak ketika masyarakat membutuhkan. “Bersama PMI kita hadir untuk kemanusiaan. Bersama relawan kita bergerak untuk sesama. Bersama masyarakat kita wujudkan PMI yang semakin kuat dan bermanfaat,” bebernya.

Ketua PMI Kalimantan Timur, Sayid Irwan, menilai Berau sejatinya telah memiliki modal yang cukup kuat untuk membangun organisasi yang lebih baik. Modal tersebut antara lain gedung PMI dan Unit Donor Darah (UDD) yang representatif, kepengurusan dengan latar belakang beragam, staf markas dan UDD yang bekerja penuh waktu, serta relawan yang dinilai memiliki kapasitas dalam mendukung kerja-kerja kemanusiaan.

Menurutnya, perjalanan organisasi selama dua tahun terakhir juga harus menjadi bahan evaluasi. Hal-hal yang telah berjalan baik perlu ditingkatkan, sementara berbagai kekurangan harus dikoreksi agar tidak kembali terjadi. “Kepemimpinan yang kuat dengan semangat kolektif-kolegial serta pembagian peran dan tanggung jawab yang proporsional dapat mewujudkan PMI yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menekankan terdapat tiga aspek mendasar yang perlu menjadi perhatian kepengurusan baru, yakni tata kelola organisasi, sumber daya organisasi, dan kinerja organisasi.

Sayid juga memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Berau, jajaran pengurus, dunia usaha, dan masyarakat yang selama ini mendukung keberadaan PMI. Bahkan, PMI Berau disebut masuk dalam lima besar organisasi PMI kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Namun, di balik capaian tersebut, Sayid mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama terkait keberlangsungan Unit Donor Darah. Ia mencontohkan persoalan yang pernah terjadi di Balikpapan, Samarinda, hingga Penajam Paser Utara ketika terdapat lebih dari satu sumber layanan darah. Kondisi tersebut berpotensi membuat UDD PMI harus bekerja lebih keras dalam memperoleh ketersediaan darah. “Karena jumlahnya terbatas, kemudian dua sumber yang ada, sehingga UDD PMI yang ada menjadi agak lebih susah payah mendapatkan darah,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi serupa perlu diantisipasi Berau agar keberadaan layanan kesehatan baru maupun perkembangan fasilitas kesehatan tidak justru berdampak pada ketersediaan darah di UDD PMI. “Saya mendorong PMI Berau kembali membangun jejaring kerja sama dalam penanganan kebencanaan, khususnya di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x