src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
ilustrasi AiHEADLINEKALTIM.CO – Saraf kejepit merupakan kondisi ketika saraf mendapat tekanan berlebih dari jaringan di sekitarnya. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat, mati rasa, kesemutan, hingga kelemahan otot. Saraf kejepit ringan dapat membaik dengan sendirinya atau melalui terapi rutin, sedangkan kondisi yang lebih parah terkadang membutuhkan tindakan operasi.
Dilansir dari Alodokter, saraf kejepit dapat terjadi di berbagai bagian tubuh karena saraf tersebar di seluruh tubuh. Keluhan umumnya berupa rasa nyeri hebat atau kebas yang muncul pada posisi tertentu, misalnya ketika tubuh membungkuk.
Keluhan saraf kejepit terkadang mereda setelah beberapa waktu sehingga dianggap sebagai nyeri biasa. Namun, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan. Saraf yang terus mengalami tekanan dapat semakin parah dan berisiko menyebabkan cedera atau peradangan permanen pada saraf.
Saraf kejepit kerap disalahartikan sebagai nyeri pada sendi. Padahal, terdapat sejumlah gejala yang dapat menjadi ciri kondisi tersebut.
Beberapa gejala saraf kejepit antara lain:
Gejala tersebut dapat semakin terasa ketika seseorang sedang tidur. Pemeriksaan ke dokter dianjurkan apabila keluhan berlangsung selama beberapa hari dan tidak membaik meski sudah beristirahat atau mengonsumsi obat pereda nyeri.
Tekanan pada saraf dapat meningkat akibat posisi tubuh tertentu. Kebiasaan menopang kepala menggunakan tangan dengan siku sebagai tumpuan atau menyilangkan kaki dalam waktu lama, misalnya, dapat meningkatkan tekanan di sekitar saraf.
Cedera, memar, maupun kondisi yang menimbulkan pembengkakan juga dapat menjadi pemicu saraf kejepit. Selain itu, beberapa kondisi kesehatan turut dikaitkan dengan munculnya masalah tersebut.
Kondisi yang dapat menyebabkan saraf kejepit meliputi:
Saraf kejepit juga lebih berisiko dialami oleh wanita, orang yang sering melakukan aktivitas berulang menggunakan pergelangan tangan atau bahu, serta orang yang mengalami kegemukan dan edema.
Selain itu, kondisi seperti hipotiroidisme, kehamilan, diabetes, serta kebiasaan berbaring dalam waktu lama juga disebut dapat meningkatkan risiko terjadinya saraf kejepit.
Penanganan saraf kejepit pada dasarnya dilakukan dengan mengurangi aktivitas pada bagian tubuh yang terdampak. Aktivitas yang diduga menjadi penyebab atau berpotensi memperburuk tekanan pada saraf sebaiknya dihentikan.
Pada kasus tertentu, dokter dapat merekomendasikan penggunaan pembebat. Misalnya pada saraf kejepit yang berkaitan dengan carpal tunnel syndrome, pembebat tangan dapat digunakan untuk membantu mengurangi tekanan pada saraf. Pembebat tersebut dapat dianjurkan untuk digunakan sepanjang waktu, termasuk saat tidur.
Selain mengurangi aktivitas pemicu, beberapa metode penanganan yang disebutkan dalam sumber meliputi fisioterapi, obat penghilang nyeri, hingga operasi.
Fisioterapi dapat dilakukan untuk memperkuat otot di sekitar area yang mengalami saraf kejepit. Penguatan otot bertujuan membantu mengurangi tekanan pada saraf. Terapi fisik juga dapat disertai anjuran memperbaiki postur tubuh ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.
Obat penghilang nyeri juga dapat diberikan untuk membantu meredakan keluhan. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen atau naproxen, dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Dokter juga dapat memberikan suntikan kortikosteroid untuk membantu mengurangi peradangan dan nyeri.
Sementara itu, operasi dapat menjadi pilihan ketika saraf kejepit berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan tidak menunjukkan perbaikan setelah mendapatkan perawatan. Jenis operasi bergantung pada lokasi masalah, salah satunya percutaneous endoscopic lumbar discectomy (PELD).
Saraf kejepit memang tidak selalu dapat dihindari. Namun, risiko kondisi tersebut dapat dikurangi dengan menerapkan gaya hidup sehat, menjaga berat badan ideal, berolahraga secara rutin, dan berhenti merokok.
Postur tubuh juga perlu diperhatikan, baik ketika beraktivitas maupun beristirahat. Kebiasaan seperti menyilangkan kaki atau berbaring hanya pada satu sisi dalam waktu lama sebaiknya dihindari.
Pemeriksaan sedini mungkin dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai sehingga kondisi saraf kejepit tidak berkembang menjadi lebih parah.