src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Muhammad Faisal. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memberi perhatian lebih pada potensi wisata bahari di wilayah pesisir, termasuk Pulau Miang di Kabupaten Kutai Timur. Selain panorama pantai, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi bawah laut. Keberadaan hiu tutul salah satunya.
Kepala Dispar Kaltim, Muhammad Faisal, mengatakan selama ini promosi pariwisata Kaltim lebih banyak menonjolkan wisata sungai dan budaya. Ke depan, pihaknya ingin memberikan ruang lebih besar bagi destinasi pesisir dan pulau-pulau yang dinilai memiliki potensi besar tetapi belum banyak dikenal wisatawan. “Pulau Miang itu bagus, bagus banget. Bawah lautnya juga ternyata bagus,” kata Faisal saat diwawancarai belum lama ini.
Potensi lain yang tidak kalah menarik adalah keberadaan hiu tutul di sekitar perairan Pulau Miang. Berdasarkan survei yang dilakukan Faisal dan timnya, ditemukan sekitar enam hingga tujuh ekor hiu tutul di kawasan tersebut.
Menurut dia, keberadaan satwa laut tersebut dapat menjadi daya tarik khusus karena wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan pantai dan laut, tetapi juga memiliki kesempatan melihat langsung hiu tutul di habitatnya.
“Jadi tidak hanya melihat keindahan, tapi juga kita bisa dapat hiu tutul. Nah, ini yang sedang saya coba pelajari dengan baik bagaimana semua wisatawan nanti akhirnya bisa lihat itu,” tuturnya.
Namun, Faisal mengakui potensi wisata hiu tutul di Pulau Miang memiliki tantangan tersendiri. Kemunculan hiu tutul tidak dapat dipastikan setiap saat karena keberadaannya dipengaruhi kondisi perairan dan ketersediaan makanan.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah destinasi lain yang dapat menawarkan pengalaman melihat hiu tutul secara lebih konsisten. Oleh karena itu, Dispar Kaltim masih mempelajari pola kemunculan hiu tutul sekaligus kemungkinan pengembangan paket wisata yang tetap memperhatikan kondisi alami satwa tersebut.
Selain Pulau Miang, Faisal menyebut kawasan pesisir di Kutai Timur memiliki sejumlah destinasi yang tidak kalah menarik, seperti Kaniungan, Teluk Sulaiman, dan Teluk Sumbang. Persoalannya, sebagian destinasi tersebut masih menghadapi kendala akses yang cukup jauh.
Dijelaskannya, jarak tempuh yang panjang harus diimbangi dengan pengalaman wisata yang sepadan. Wisatawan yang sudah menempuh perjalanan jauh harus menemukan destinasi dengan kualitas pelayanan dan fasilitas yang mampu membuat perjalanan tersebut terasa layak.
“Kita harus membuat sesuatu yang wah di sana. Jadi ketika sampai lelah, ekspektasinya bisa berubah bahwa ternyata layak didatangi karena memang bagus,” tuturnya.
Karena itu, pengembangan destinasi tidak hanya berkaitan dengan promosi. Faisal menilai kesiapan pengelola, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur, hingga amenitas seperti air bersih, listrik, dan internet harus berjalan beriringan.
Khusus Pulau Miang, ia menyebut perkembangan fasilitas dasar wisata sebenarnya sudah menunjukkan kemajuan. Saat ini terdapat sekitar 20 homestay dan vila yang dapat menjadi pilihan akomodasi wisatawan. Bahkan, menurut Faisal, tingkat kunjungan pada akhir pekan cukup tinggi sehingga homestay dan vila yang tersedia kerap penuh. Kondisi tersebut menjadi modal awal untuk mengembangkan Pulau Miang sebagai destinasi wisata bahari yang lebih siap menerima wisatawan.
“Secara umum sih sudah separuh jalan, dia sudah bagus. Homestay, kemudian vila-vilanya sudah ada sekitar 20-an homestay dan vila. Setiap weekend penuh di sana,” jelasnya.
Meski demikian, Faisal menilai peningkatan kualitas pelayanan masih menjadi pekerjaan rumah. Untuk itu, ia berencana menggandeng pelaku industri pariwisata, termasuk manajemen hotel, untuk berbagi pengetahuan dengan pengelola wisata di Pulau Miang.
Konsep yang ditawarkan bukan semata-mata mengandalkan pembiayaan dari APBD, melainkan melalui kolaborasi antarpelaku pariwisata. Faisal berencana membawa tenaga berpengalaman dari industri perhotelan untuk memberikan pelatihan kepada pengelola homestay maupun pelaku usaha lokal. “Saya akan bawa beberapa instruktur yang bisa membantu peningkatan pelayanan di sana,” katanya.
Peningkatan kompetensi juga akan diarahkan kepada pemandu wisata. Terlebih untuk wisata bawah laut, Faisal menilai aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Pemandu yang membawa wisatawan menyelam harus memiliki kompetensi dan lisensi yang sesuai agar aktivitas wisata tidak membahayakan wisatawan maupun pemandunya sendiri. “Apalagi kalau ke bawah laut, kalau dia tidak punya lisensi, nanti berbahaya buat dirinya, berbahaya apalagi bawa orang lain,” tegas Faisal.
Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), hingga Dinas Pariwisata Kutai Timur untuk memperkuat pembinaan secara bertahap.
Menurut Faisal, transfer pengetahuan dari pelaku industri yang sudah berpengalaman dapat menjadi salah satu cara meningkatkan kualitas pengelolaan tanpa harus selalu menunggu program dengan anggaran besar. Di samping itu, Faisal menegaskan pengembangan destinasi wisata yang belum optimal tetap menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah. Pemerintah, kata dia, memiliki peran untuk membantu masyarakat dan pengelola lokal meningkatkan kualitas destinasi agar potensi wisata yang ada dapat memberikan manfaat ekonomi lebih besar.
“Kalau itu kan kewajiban, kewajiban pemerintah untuk membantu peningkatan kualitas itu. Terus tugas pemerintah apa kalau enggak?” tandas Faisal. (Retno)