src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih tinggi di tengah kondisi kering yang melanda sejumlah wilayah. Jumlah titik panas atau hotspot di Kaltim disebut rata-rata mencapai hampir 500 titik dalam sehari.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi, mengatakan tingginya jumlah hotspot tersebut perlu menjadi perhatian karena di lapangan juga mulai ditemukan sejumlah kejadian kebakaran. Bahkan, data kejadian yang diterima BPBD belum sepenuhnya mencakup seluruh wilayah Kaltim.
“Jumlah hotspot rata-rata hampir 500 per hari, itu potensi. Kalau kejadian hari kemarin saja tanggal 18 itu 20-an kejadian ada,” kata Buyung saat diwawancarai Jumat, 21 Agustus 2026.
Ia menyebut beberapa daerah masih dalam proses pembaruan data, salah satunya Berau. Kondisi tersebut membuat jumlah kejadian yang tercatat berpotensi bertambah seiring masuknya laporan dari daerah.
Dari sejumlah wilayah yang dipantau, Paser menjadi salah satu daerah dengan kejadian paling banyak. Buyung menyebut terdapat lebih dari 70 kejadian yang tercatat di wilayah tersebut dalam periode sekitar dua hari sebelumnya. “Kalau di sini paling banyak kejadian di Paser mungkin sekitar sampai 70 lebih lah, mungkin 70 dari dua hari yang lalu, ya,” ungkap dia.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD Kaltim meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan. Imbauan tersebut juga telah diperkuat melalui surat edaran gubernur yang diteruskan kepada pemerintah kabupaten dan kota untuk disosialisasikan hingga tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa.“Oleh karena itu kami mohon sama masyarakat untuk tidak membakar lahan,” tegas Buyung.
Apabila pembakaran terlanjur terjadi, sebut dia, masyarakat diminta memastikan api benar-benar terkendali agar tidak meluas. Kebakaran yang tidak segera ditangani berpotensi menimbulkan asap dan mengganggu kualitas udara di wilayah sekitar.
Kondisi tersebut menjadi semakin sulit ketika titik kebakaran berada di lokasi yang tidak mudah dijangkau petugas BPBD.
Di samping itu, BPBD Kaltim tengah mempersiapkan usulan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengantisipasi kondisi kering. Kata Buyung, rancangan usulan tersebut akan dibahas dalam rapat gubernur sebelum diajukan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).“Kami saat ini sedang menyusun draft untuk diusulkan, nanti ada rapat gubernur kita usulkan kepada BNPB untuk melakukan operasi modifikasi cuaca,” jelasnya.
Sejumlah daerah di Kaltim disebut telah lebih dahulu mengusulkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Sementara itu, Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) juga disebut berencana menjalankan operasi modifikasi cuaca secara mandiri dengan pendanaan sendiri.
Buyung menyebut pelaksanaan tersebut diharapkan berlangsung sekitar 22 hingga 27 Agustus. Jika terealisasi, dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan di kawasan IKN, tetapi juga wilayah di sekitarnya seperti Penajam Paser Utara (PPU) dan Balikpapan.
Terkait kemungkinan kebakaran di area perkebunan, BPBD Kaltim masih menunggu data dari instansi terkait. Pemantauan titik panas di kawasan perkebunan dan kehutanan dilakukan bersama Dinas Perkebunan dan Kehutanan, terutama terhadap hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Buyung mengatakan hingga saat ini belum menerima laporan mengenai kebakaran yang terjadi di dalam area konsesi perkebunan. “Kalau misalnya di titik hotspot ada yang warna hijau dan merah, ya, yang merah itu diperhatikan. Tapi saat ini kami belum dapat laporan terkait dengan kebakaran di dalam area konsesi perkebunan,” tutur dia.
Sementara mengenai kualitas udara dan jarak pandang, BPBD Kaltim masih mengacu pada pemantauan dan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk data dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC). Buyung mengatakan kondisi jarak pandang dapat berbeda berdasarkan lokasi dan metode pengamatan. Namun, sejumlah wilayah Kaltim sempat terpantau mengalami kondisi udara yang agak pekat, meski belum merata.
Dikatakannya kondisi tersebut sempat terpantau di kawasan Kutai Kartanegara, Paser yang berbatasan dengan Kalimantan Selatan, Samarinda, hingga Berau. Namun, kondisi asap di wilayah-wilayah tersebut disebut masih relatif tipis.
Untuk memastikan apakah kondisi tersebut berdampak terhadap operasional penerbangan, Buyung menyerahkan penilaian kepada pihak bandara. Otoritas penerbangan, lanjutnya, memiliki parameter tersendiri dalam menentukan kelayakan jarak pandang untuk aktivitas penerbangan. “Kalau penerbangan, nanti dari teman-teman dari pihak bandara yang menyatakan,” pungkas Buyung. (Retno)