src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Tim Basarnas dan kepolisian berada di TKP korban tenggelam di Sungai Mahakam, kawasan pangkalan kapal di Jalan Tanjung Aru, Gang Awang Abdullah, RT 14, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Seorang pelajar kelas I SMP berusia sekitar 13 tahun tenggelam di Sungai Mahakam, kawasan pangkalan kapal di Jalan Tanjung Aru, Gang Awang Abdullah, RT 14, Kelurahan Masjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Selasa, 6 Oktober 2026 sore.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 17.30 Wita, saat korban datang menemui pamannya yang sedang berada di atas kapal. Korban saat itu disebut sempat menyampaikan keinginannya untuk mandi di sungai.
Pamapta III Polresta Samarinda Aiptu Joko Wahyudi mengatakan, sang paman kemudian meminta korban untuk mandi di rumah. Saat itu kondisi di sekitar lokasi sedang mati lampu. “Hari ini kita mendapat laporan dari masyarakat, adanya anak tenggelam di pangkalan di Jalan Tanjung Aru, anak umur sekitar 13 tahun, kelas 1 SMP,” ujar Joko.
Tidak lama setelah itu, paman korban kembali melakukan aktivitasnya di atas kapal. Saat sedang mengecek alkon, ia mendengar suara air dari arah depan kapal. Paman korban kemudian menuju bagian depan dan melihat keponakannya sudah berada di sungai. Dari atas kapal, korban terlihat seperti sedang meminta pertolongan.
Melihat kejadian tersebut, sang paman berusaha menolong dengan melemparkan tali ke arah korban. Namun, tali yang dilempar tidak sampai. Paman korban juga diketahui tidak bisa berenang sehingga tidak dapat langsung turun ke sungai.
“Jadi si omnya ini karena tidak bisa berenang juga, dia melempar tali, tapi tali itu tidak sampai,” kata Joko.
Menurut keterangan sang paman kepada polisi, korban masih sempat terlihat mengapung di permukaan sungai sekitar lima menit. Setelah itu, korban kembali tenggelam dan tidak terlihat lagi.
“Jadi menurut keterangan omnya saat itu ada sekitar 5 menitan untuk mengapung sebelum tenggelam,” jelas Joko.
Keluarga kemudian diberitahu mengenai kejadian tersebut. Laporan selanjutnya diteruskan kepada petugas untuk dilakukan pencarian. Begitu menerima laporan, polisi langsung mengamankan lokasi kejadian dan berkoordinasi dengan Basarnas serta Polairud. Pencarian korban kemudian dilakukan oleh tim yang memiliki kemampuan untuk menangani pencarian di perairan.
“Jadi kita di sini mengamankan TKP, berkoordinasi juga dengan Basarnas dan Polair untuk mencari korban. Nanti selanjutnya Polair dan Basarnas yang akan bekerja di perairan,” tutur dia.
Koordinator Pos Basarnas Samarinda, Aries Setiawan, mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai seorang pelajar kelas I SMP yang tenggelam di kawasan tersebut.
Namun, pencarian dilakukan dalam kondisi jarak pandang yang sudah terbatas karena hari sudah gelap. Tim Basarnas terlebih dahulu melakukan pendeteksian kedalaman air sebelum menentukan langkah pencarian berikutnya.
“Untuk proses pencariannya saat ini karena ini sudah jarak pandang terbatas, kami melakukan untuk pendeteksian kedalaman air dulu,” kata Aries.
Jika kondisi memungkinkan, penyelaman akan dilakukan pada malam hari. Basarnas akan terlebih dahulu melihat kondisi perairan dan hasil pendeteksian sebelum menurunkan penyelam. “Kalaupun nanti bisa dioptimalkan dalam penyelaman, memungkinkan untuk bisa menyelam, kami optimalkan untuk penyelaman,” ujarnya.
Namun, apabila penyelaman tidak memungkinkan dilakukan pada malam hari, pencarian akan dilanjutkan pada Rabu pagi dengan menurunkan personel untuk melakukan penyelaman. Selain jarak pandang, tim juga menghadapi kendala saat menurunkan armada ke lokasi pencarian. Aries menyebut tim sempat melakukan mobilisasi untuk menempatkan armada yang dibutuhkan dalam operasi pencarian.
“Untuk kendala di lapangan saat ini kami kebetulan tadi susahnya menurunkan armada, jadi kami sifat tadi sempat mobile untuk menurunkan armada,” demikian Aries Setiawan melaporkan. (Retno)