HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menanti perkembangan cuaca dari hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menentukan kemungkinan penerapan kembali pembelajaran jarak jauh (PJJ) di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, mengatakan keputusan penerapan PJJ akan bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat keparahan asap di masing-masing daerah. Jika kondisi kembali mengkhawatirkan, pihaknya akan segera mengambil langkah untuk mengalihkan pembelajaran dari sekolah ke rumah. “Kalau memang sudah mengkhawatirkan lagi, tentu kita harus melakukan langkah cepat untuk PJJ lagi. Sesuai dengan arahan Pak Gubernur,” ujar Armin belum lama ini. Dijelaskannya, pelaksanaan PJJ tidak harus menunggu arahan baru dari gubernur apabila kondisi di lapangan sudah menunjukkan situasi yang perlu ditindaklanjuti. Kondisi setiap daerah berbeda sehingga kebijakan pembelajaran harus disesuaikan dengan situasi setempat. Hingga saat ini sekolah di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) dan Berau masih menerapkan pembelajaran dari rumah karena kondisi asap yang dinilai masih buruk. Sementara itu, sekolah di Samarinda dan Balikpapan telah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka setelah sebelumnya sempat menerapkan PJJ. Selain kondisi asap, sekolah juga dapat mengajukan PJJ apabila berada dekat dengan titik kebakaran atau mengalami kekurangan air. Meski demikian, pengajuan dari sekolah bukan satu-satunya pertimbangan dalam menentukan kebijakan tersebut. “Ada juga sekolah yang mengajukan karena kondisi di sekolahnya, biasanya agak dekat dengan kebakaran dia langsung minta. Atau juga karena faktor kekurangan air,” tutur dia. Hasil pemantauan BMKG akan menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika kondisi cuaca dan asap kembali memburuk, Disdikbud Kaltim siap menerapkan PJJ sesuai kebutuhan di daerah terdampak. Sementara itu, mengenai lokasi guru mengajar selama PJJ, Armin menyebut hal tersebut menjadi kebijakan masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan. Ia menyarankan guru tetap mengajar dari sekolah apabila situasi memungkinkan karena ruangan tertutup dan berpendingin udara dinilai lebih nyaman serta memudahkan pengawasan. “Tapi saran kita sih kalau bisa di sekolah aja supaya lebih enak diawasi. Di satu ruangan kan artinya tertutup, ber-AC, sehingga lebih nyaman. Tapi kita nggak larang sih kalau mereka di rumah,” pungkas Armin. (Retno)