src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Menu MBG yang dikelola SPPG Sukarame.(Sumber : Istimewa)
HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG– Sekretaris Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Sunggono mengarahkan agar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di Kukar untuk memperhatikan ketentuan yang berlaku di Badan Gizi Nasional (BGN). Standar kelayakan mengelola pangan untuk program MBG harus benar-benar diperhatikan.
Hal ini untuk mencegah terulangnya kasus keracunan MBG di Kecamatan Sebulu, beberapa waktu yang lalu.
”Dapur MBG di Sebulu sudah kita kenakan sanksi penutupan dapur,” tegas Sekda Sunggono, belum lama ini di aula DPRD Kukar.
Menurut Sunggono, jika ketentuan dan peraturan yang ditetapkan BGN diperhatikan benar-benar oleh SPPG, maka tak akan ada kejadian keracunan siswa. ”Prinsipnya ikuti ketentuan yang berlaku,” tegas Sunggono.
dia mencontohkan standardisasi dapur SPPG Sukarame Tenggarong. Sejak awal, penetapan dapur yang representatif dengan luasan 300-400 meter per segi. Tata kelola ruangan dapur juga menjadi perhatian, tempat mencuci bahan pangan basah dan kering dipisahkan dengan jarak tertentu, prinsip kesegaran bahan pangan juag sangat dijaga.
Kapasitas Sumber Daya Manusia(SDM) meliputi tim dan tenaga kerja MBG terus ditingkatkan karena mengelola bahan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia harus ekstra hati-hati. ”Kalau salah kelola bahan pangan bisa fatal,” ungkap Mitra SPPG Sukarame, Aldi.
Salah satu hal yang harus diperhatikan pengelola dapur adalah soal jam operasional dalam ketentuan terbaru. Pada jam 21.00 WITA, personel persiapan bahan makanan datang, dan tim memasak harus sudah mulai memasak pada pukul 03.00 Wita.
Makanan yang sudah selesai dimasak juga ditangani ekstra hati-hati. Makanan yang masih panas tidak boleh langsung dikemas. Bahkan, pengelola dapur SPPG Sukarame harus rela membeli pendingin agar makanan bisa cepat disajikan.
Inisiatif menguji makanan yang diolah juga sudah dilakukan oleh anggota tim kerja SPPG Sukarame dan Panjaitan sebelum tim distribusi menyimpan satu ompreng sampel ke dalam mobil. ”Sudah ke sekolah juga dicobain untuk memastikan menu MBG aman sehat. Sampel diuji kembali, setelah jam makan siang sebagai bahan koreksi, apakah terjadi perubahan rasa. Kegiatan tersebut diarsipkan setiap hari melalui video,” ujarnya.
Dari tahapan uji sampel pagi hingga siang hari, hingga saat ini, tidak ada ditemukan perubahan rasa ketika relawan memakan sampel tersebut setelah jam makan siang. Menu MBG yang disajikan SPPG Sukarame sudah terjadwal dalam 5 hari yakni daging sapi, ikan, telur, serta dua kali ayam yang dipastikan memenuhi gizi protein hewani. Plus sayur, buah dan susu.
Hampir dua tahun mengelola MBG, penerima manfaat dari dapur ini lebih sering menghubungi pihak dapur jika waktu libur. ”Kenapa libur MBG, anak kami senang sarapan MBG-nya. Selaku orang tua murid mereka sangat terbantu dengan adanya MBG,” jelasnya.(Andri)