HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Udara Kota Tenggarong dalam beberapa hari terakhir tidak lagi nyaman dihirup. Aroma asap menyengat, mata terasa pedih, dan pandangan di sejumlah ruas jalan memendek akibat kabut asap yang menggantung sejak pagi.
Kondisi itu bukan sekadar perasaan warga. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara memastikan kualitas udara Tenggarong telah masuk level buruk. Karena itu, DLHK meminta warga mengenakan masker setiap kali beraktivitas di luar rumah.
“Kami sarankan, jika keluar rumah pakai masker,” kata Sekretaris DLHK Kukar, Taupiq, Rabu (16/9/2026).
Taupiq menjelaskan, asap tebal yang menyelimuti Tenggarong merupakan imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Dusun Bengkinang, Kelurahan Loa Tebu, Tenggarong. Kebakaran tersebut berlangsung selama tiga hari dan kini sudah memasuki tahap pemadaman.
Ironisnya, proses pemadaman itu sendiri turut menyumbang pekatnya asap. Lahan yang telah terbakar berhari-hari dan terus disiram air justru menghasilkan asap dalam volume lebih besar.
“Lahan kebakaran yang berhari-hari disiram air, maka akan menimbulkan asap yang lebih banyak dan pekat,” ucapnya.
Untuk memantau sebaran dan tingkat pencemaran, DLHK Kukar telah melakukan uji sampel kualitas udara di sejumlah kecamatan, di antaranya Kecamatan Sangasanga dan Tabang. Hasil pengujian tersebut, kata Taupiq, akan terus disampaikan kepada publik agar masyarakat memiliki gambaran yang jelas mengenai kondisi udara di wilayah masing-masing.
Selain pemantauan, DLHK juga telah menerbitkan surat edaran (SE) yang mengatur pembatasan aktivitas masyarakat di luar ruangan selama kabut asap berlangsung. “Kami juga sudah membuat surat edaran (SE) pembatasan aktifitas masyarakat di luar ruangan, jika terdesak harus memakai masker,” jelasnya.
Pembagian Masker dan Ancaman ISPA
Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Kukar disebut sudah bergerak membagikan masker kepada masyarakat. Taupiq mengingatkan warga agar tidak meremehkan penggunaan masker, mengingat paparan asap dalam waktu lama berpotensi memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menurut dia, solusi paling cepat untuk mengurai asap tebal saat ini adalah turunnya hujan secara merata di seluruh wilayah Kukar. Namun, hingga kini kondisi cuaca belum menunjukkan tanda-tanda bakal turun hujan. “Kita perkirakan asap tebal akan berlangsung sampai empat hari ke depan,” ungkapnya
Di sisi lain, kabut asap membuat warga Tenggarong menghadapi pilihan yang sama-sama tidak ideal. Maryam, salah seorang warga, berharap kabut asap segera hilang karena situasi saat ini membuatnya serba salah, terutama menyangkut anak-anak.
Jika sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah, ia menilai anak-anak cenderung tidak serius belajar dan lebih banyak bermain. Namun membiarkan anak beraktivitas di luar rumah juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri. “Jika keluar rumah, khawatir berdampak terhadap kesehatannya,” ujarnya. (Andri)

















