src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Diskusi Penguatan Kapasitas Media yang digelar Dewan Pers di Hotel Senyiur, Samarinda, Selasa 2 Oktober 2023. (Foto: huldi amal/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA—Dewan Pers menggelar kegiatan pendampingan verifikasi perusahaan pers dirangkai peningkatan kapasitas media di Kalimantan Timur. Kegiatan digelar di Hotel Senyiur, Jalan Diponegoro, Samarinda pada Selasa 3 Oktober 2023.
Hadir Ketua Komisi Penelitian, Pendataan dan Ratifikasi Pers Atmaji Sapto Anggoro yang membawakan materi tentang pendataan perusahaan pers dan pengembangan ekosistem yang sehat. Narasumber lain adalah CEO Suara.com Suwarjono yang membeberkan model bisnis media di era digital.
Diskusi dimoderatori oleh Winarto, tenaga ahli Komisi Pendataan Dewan Pers. Pada sesi akhir, Analis Kebijakan Ahli Muda Dewan Pers, Sri Lestari membimbing sejumlah pemilik dan pengelola media terkait teknis dan syarat-syarat pendataan media.
Sapto memaparkan, jumlah media siber saat ini semakin bertumbuh. Mendesak jumlah media konevensional. Dari hasil survei, media massa di Indonesia berjumlah 43 ribu. Media siber mendominasi 52 persen, 25 persen media cetak, disusul radio dan TV.
”Jumlah media siber saat ini diyakini lebih banyak. Karena itu, akhir tahun ini kita akan riset untuk memastikan jumlah media massa di Indonesia melalui pendataan,” terangnya.
Biasanya, kata dia, riset lebih dulu dilakukan untuk mendapatkan rekomendasi hal-hal yang didapatkan di lapangan. Namun, pihaknya memilih memulai kegiatan pendataan dan penguatan kapasitas media tanpa menunggu dana riset turun.
Sapto menekankan pentingnya pendataan media oleh Dewan Pers. Pendataan adalah tugas dan fungsi lembaga ini sesuai amanat UU No 40/1999 tentang Pers.
Setelah terdata, media juga bisa didampingi agar bisa memenuhi syarat sebagai media terverifikasi secara administrasi dan faktual oleh Dewan Pers. Pentingnya media massa yang terverifikasi, terang Sapto, agar menjadi corong tepercaya dalam menyuarakan kepentingan publik.
”Media bukan hanya memenuhi syarat verifikasi administrasi dan faktual saja, juga bagaimana setelah itu tetap sehat dan menghasilkan hal-hal substansial, kontennya berpihak pada publik,” tegasnya.
Sebab, tidak bisa dipungkiri, banyak media siber yang hanya berkutat pada berita advertorial yang dananya bersumber dari APBD. Pada akhirnya, hal ini menggerus fungsi pers sebagai corong kepentingan publik. ”Itu tidak salah, tapi advertorial bukan satu-satunya sumber bisnis media,” tegasnya.
CEO Suara.com, Sumarjono, memberikan banyak tips tentang bisnis media di era digital. Namun, dia menegaskan, tak ada rumus baku. ”Jika ada 100 media siber, maka seharusnya ada 100 model bisnis yang bisa muncul,” ujarnya.
Kreativitas para pengelola media memang dituntut agar medianya tidak bergantung pada iklan langsung seperti advertorial pemerintah. Selain lebih sehat secara finansial, ketidakbergantungan pada dana pemerintah membuat media cenderung lebih independen dan mandiri. ”Bisa lebih kritis,” tukasnya.
Dia bercerita resep bagaimana memulai grup Suara.com dari nol. Caranya, dia dan rekan-rekannya lebih dulu membeli sebuah perusahaan. Perusahaan ini disiapkan sebagai senjata utama sebelum memulai bisnis media. Diversifikasi bisnis dilakukan di semua lini. Hingga akhirnya, perusahaan media menjadi sehat dan kini sudah go public.
”Ada 8.000 pemilik saham perusahaaan di bursa saham dan kami punya datanya secara detil. Ini yang membuat saya senang, karena kami tidak didikte oleh pemilik modal atau pemilik media. Lebih independen,” bebernya.
Kata dia, tantangan bermedia di era digital memang luar biasa. Perubahan terjadi sangat cepat. Mulai dari platform global yang semau-maunya mengubah algoritma, matinya agregator berita yang menjadi sumber pendapatan, hingga bergesernya iklan ke pesaing non media seperti influencer.
Celakanya, kata dia, konten yang bagus ternyata tak selalu berbanding lurus dengan pendapatan. ”Kita bikin konten yang berbobot, data didukung riset bagus, naskahnya panjang, belum tentu good revenue juga,” imbuhnya. (huldi amal)