src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus. (Sumber: Andri)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Sebelum tahun 2024, SMPN 2 Tenggarong memang mengalami krisis literasi. Namun, kondisi itu kini berbalik. Sekolah tersebut sudah berlimpah karya literasi. Civitas akademiknya menghasilkan sebanyak 249 karya tulis hingga kini.
“Sebanyak 12 karya tulis sudah dibukukan, 50 karya tulis masih menunggu proses, dan sisanya masuk ke perpustakaan digital sekolah,” ujar Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, Sabtu 29 Agustus 2026.
Yunus bercerita, awal mula produksi ratusan karya tulis tersebut berawal dari kegelisahannya saat pertama kali ditunjuk menjadi kepala sekolah. Ia melihat ada sisi yang belum menonjol di SMPN 2, dan ternyata hal itu adalah minimnya literasi.
Dengan kondisi tersebut, ia menilai perlu ada kebijakan berani agar guru dan siswa bisa mencintai literasi. Langkah itu diawali dari guru yang harus lebih dulu cinta literasi dan mau menulis karya tulis ilmiah.
“Kan yang mendampingi murid menulis karya tulis itu gurunya. Bagaimana mau mendampingi, kalau gurunya sendiri tidak terbiasa menulis karya ilmiah,” jelasnya.
Praktik menulis pun diterapkan bagi siswa kelas IX pada semester II. Pada semester tersebut, tidak ada lagi pelajaran reguler, dan seluruh fokus diarahkan pada penguatan literasi sebelum lulus, agar siswa mampu menulis buku meski dengan tulisan sederhana.
“Sementara untuk kelas VII dan VIII juga dibiasakan menulis karya tulis. Sebab, sangat sayangkan jika siswa yang sudah diberi amanah memegang Chromebook, hanya digunakan untuk bermain, bukan untuk hal yang bermanfaat,” tegasnya.
Membiasakan siswa menghubungkan peristiwa nyata dengan mata pelajaran juga menjadi kebiasaan yang diterapkan. Misalnya, jika ada orang tua siswa yang memiliki usaha produksi gula aren, siswa diarahkan untuk mengaitkannya dengan mata pelajaran IPA, IPS, dan Matematika. “Nanti siswa diuji secara langsung oleh guru, dan disaksikan oleh orang tuanya,” ungkapnya.
Dalam pendampingan penulisan buku, SMPN 2 Tenggarong menggandeng Nyalanesia, lembaga pengembang program literasi sekolah terpadu yang memfasilitasi siswa dan guru untuk menerbitkan buku, mendapatkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi, serta akses pada program-program apresiasi untuk tingkatkan capaian literasi dan prestasi.
Berkat banyaknya karya literasi yang dihasilkan, sekolah yang berada di Kelurahan Mangkurawang tersebut masuk menjadi salah satu nominator sekolah literasi nasional dari 501 sekolah se-Indonesia yang terdaftar. “Kalau hasil karya guru, termasuk saya, sudah ada 20 judul buku yang dibuat. Sebagian sudah dicetak, dan sebagian lagi masih menunggu proses cetak,” pungkasnya. (Andri)