src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Arief Murdiyatno. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kondisi harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dinilai cukup baik menjadi peluang bagi sektor perkebunan untuk memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, momentum tersebut dinilai perlu dijaga dari berbagai gangguan, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi mengurangi produksi perkebunan.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan produktivitas kebun menjadi hal yang harus dipertahankan agar sektor perkebunan mampu memberikan nilai tambah bagi daerah. Terlebih, Kaltim tengah mendorong penguatan subsektor pertanian sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap sektor ekonomi berbasis ekstraksi.
Dikatakannya, ketika kebun mengalami gangguan, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan lahan. Produksi yang menurun juga dapat berimbas terhadap pendapatan perusahaan maupun masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari perkebunan.
“Apalagi sekarang khususnya harga TBS ini agak lumayan bagus. Jangan sampai dengan harga yang bagus ini nanti ada berkurang misalnya lahannya karena karhutla. Itu yang kita hindari,” ujar Arief saat diwawancarai belum lama ini.
Perkebunan saat ini, kata dia, diharapkan dapat menjadi salah satu sektor yang ikut menopang perekonomian Kaltim. Oleh karena itu, berbagai risiko yang dapat menghambat kegiatan budidaya perlu diantisipasi, termasuk kebakaran yang terjadi di dalam maupun sekitar kawasan perkebunan.
Arief menilai karhutla dapat memberikan dampak ekonomi yang cukup besar apabila api sampai merambat ke area budidaya. Selain kehilangan tanaman, kebakaran juga berpotensi mengurangi kapasitas produksi dan pada akhirnya memangkas pemasukan pelaku usaha perkebunan.
“Ketika ini merembet ke kebun kita, tentunya ini akan menyebabkan gangguan kerugian ekonomi yang cukup lumayan,” sebutnya.
Bagi pemerintah daerah, menjaga perkebunan tetap produktif menjadi semakin penting seiring upaya mendorong transformasi ekonomi Kaltim. Arief menyebut pihaknya ingin sektor pertanian, termasuk perkebunan, semakin berkembang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Ia mengatakan perkembangan ekonomi Kaltim pada awal tahun sempat mengalami penurunan, tapi mulai menunjukkan perbaikan pada triwulan kedua. Kondisi tersebut menurutnya perlu dipertahankan dengan memastikan sektor-sektor yang memiliki potensi ekonomi tidak terganggu oleh persoalan seperti karhutla.
Pengendalian karhutla pun tidak hanya dibebankan kepada Dinas Perkebunan. Arief mengatakan pihaknya membangun koordinasi dengan subsektor lain serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim sebagai leading sector penanggulangan bencana.
Kolaborasi juga mencakup perusahaan perkebunan, petani, kelompok plasma maupun mitra. Untuk perusahaan, Arief menyebut masing-masing telah memiliki sarana dan standar operasional prosedur (SOP) dalam menghadapi potensi kebakaran.
Disbun Kaltim terus memberikan pembinaan, pendampingan dan sosialisasi kepada masyarakat. Langkah tersebut diperlukan agar petani memahami pentingnya menjaga kebun yang telah dikelola selama bertahun-tahun dari risiko kebakaran.
Arief bilang, ancaman terhadap perkebunan sebenarnya tidak hanya berasal dari karhutla. Hama, penyakit tanaman dan organisme pengganggu tanaman juga dapat memengaruhi hasil budidaya. Sebab itu, kesiapsiagaan terhadap berbagai gangguan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
“Kita tetap siap siagakan karena ini sebenarnya bukan hanya pada saat ini, dari sebelumnya kita juga banyak sekali gangguan untuk budidaya ini. Semua tantangan, semua hambatan, dan semua kendala yang akan menurunkan atau mengganggu budidaya kita, ini akan kita tanggulangi bersama-sama,” pungkas Arief Murdiyatno. (Retno)