“Ada yang nyinyir, Erau itu menghamburkan dana di tengah efisiensi anggaran yang sedang terjadi saat ini di daerah kita,” kata Aulia, saat memberikan arahan jelang pelaksanaan Erau, Selasa 15 September 2026.
Aulia menegaskan, Erau merupakan acara adat istiadat leluhur Kukar yang dilaksanakan setiap tahun. Menurutnya, Pemkab Kukar wajib memberikan dukungan penuh demi mempertahankan adat istiadat dan kebudayaan Kutai.
“Perwakilan Kesultanan pernah berkomunikasi dengan saya, apakah ada acara yang dipangkas atau tetap dilaksanakan secara penuh? Saya pastikan, laksanakan secara penuh,” tegasnya.
Aulia juga menyoroti pasokan daya listrik yang dikhawatirkan dapat mengganggu pelaksanaan Erau. Ia meminta panitia menyiapkan mesin genset sebagai antisipasi. Selain itu, ketersediaan air bersih juga perlu diantisipasi mengingat kondisi kemarau saat ini. “Saya juga minta PDAM untuk mempersiapkan air bersih selama pelaksanaan Erau,” ucapnya.
Ia menambahkan, festival adat Erau tahun ini rencananya juga akan dihadiri pejabat dari Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan RI. Karena itu, ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) dan kecamatan turut bergotong royong menyukseskan pelaksanaan Erau agar berlangsung lebih meriah.
“Apabila ditemukan kendala di lapangan, silakan koordinasikan ke pihak panitia Erau, pasti akan ada solusinya,” jelasnya.
Aulia turut mengingatkan potensi gangguan di tengah musim kemarau panjang saat ini, termasuk kemungkinan adanya pihak yang berupaya melakukan sabotase. Ia berharap tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan selama pelaksanaan Erau.
“Erau itu milik masyarakat Kukar, bukan hanya Tenggarong. Seluruh masyarakat di 20 kecamatan sama-sama sukseskan Erau,” pungkasnya.
Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Adji Muhammad Arifin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat guna menyukseskan Erau tahun ini. “Erau ciri khas Kukar yang harus dipertahankan,” pesan Sultan Adji Muhammad Arifin. (Andri)