src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Sungai Bawang, sisi barat landasan pacu Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto Samarinda, turut memengaruhi kondisi jarak pandang pada pagi hari selama sepekan terakhir.
Sungai Bawang sendiri merupakan desa budaya masyarakat adat Dayak Kenyah yang secara administratif masuk wilayah Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, letaknya sangat berdekatan dengan kawasan Bandara APT Pranoto yang berada di Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara. Karhutla di titik tersebut sudah berlangsung sekitar tiga hingga empat hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II APT Pranoto BMKG Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan kondisi cuaca di sekitar bandara terus dipantau untuk mendukung operasional penerbangan. Informasi meteorologi diperbarui setiap 30 menit, meliputi jarak pandang, kecepatan angin, kondisi awan, dan sejumlah parameter cuaca lainnya, mengingat kondisi cuaca di sekitar runway dapat berubah dalam waktu singkat, terutama ketika terdapat asap dari kebakaran lahan.
Meski karhutla terjadi di sisi barat landas pacu bandara, arah angin selama sepekan terakhir tidak secara langsung membawa asap menuju landasan pacu sehingga visibilitas pada siang hari masih tergolong baik.
“Anginnya nggak langsung mengarah ke runway karena visibility-nya masih cukup bagus sehingga operasi penerbangan secara umum tidak banyak terganggu,” kata Riza, Selasa, 15 September 2026.
Kondisi berbeda terjadi pada pagi hari ketika jarak pandang turun cukup drastis hingga menyentuh titik terendah sekitar 50 meter. Riza menyebut, penurunan jarak pandang itu tidak sepenuhnya disebabkan asap karhutla, melainkan juga karakteristik kawasan APT Pranoto yang memang kerap berkabut setiap pagi. Ketika kabut tersebut bercampur dengan asap kebakaran dari sekitar bandara, jarak pandang pun menjadi semakin pendek.
“Karena memang karakteristik bandara di APT Pranoto ini, walaupun nggak ada asap juga biasanya pagi memang berkabut, ditambah lagi dengan adanya pembakaran-pembakaran di sekitar bandara sehingga kabut itu tercampur dengan asap, dan mengurangi jarak pandang atau visibilitas di sekitar bandara,” terang Riza.
Kondisi tersebut belum sampai menimbulkan gangguan berarti terhadap operasional penerbangan sepanjang pekan ini, karena visibilitas yang sempat anjlok pada pagi hari selalu berangsur pulih ke atas 5 kilometer begitu memasuki pukul 08.00 hingga 09.00 WITA.
“Selama seminggu ini tidak ada permasalahan, karena jam 8 sampai jam 9 itu visibility sudah di atas 5 kilo, artinya secara operasional itu tidak mengganggu,” demikian Riza Arian Noor. (Retno)