src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
©Ilustrasi dibuat AIHEADLINEKALTIM.CO – Dalam tradisi Islam, penyakit ain bukan sekadar mitos atau takhayul. Ia diyakini sebagai gangguan nyata yang bersumber dari pandangan mata, sering kali disertai perasaan iri, dengki, atau kekaguman berlebihan tanpa menyebut nama Allah SWT. Meskipun tidak dikenal dalam dunia medis, umat Islam meyakini kehadiran penyakit ain sebagai sesuatu yang harus diwaspadai.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan kebenaran fenomena ini dalam sabdanya: “Ain itu nyata (Haq), kalau saja ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ain akan mendahuluinya.” (HR. Muslim)
Dalam bahasa Arab, istilah “ain” berasal dari kata aana – ya’iinu, yang secara harfiah berarti terkena sesuatu melalui mata. Menurut penjelasan dalam Fatawa Al Lajnah Ad Daimah yang dikutip dari ANTARA News, penyakit ini terjadi saat seseorang memandang dengan kekaguman atau niat jahat, kemudian memancarkan semacam ‘racun jiwa’ melalui tatapan tersebut.
Gangguan ini dipercaya bisa menyebabkan masalah fisik, kerusakan, bahkan kematian—semuanya atas izin Allah. Oleh karena itu, memahami ciri-ciri penyakit ain dan cara pencegahannya merupakan langkah penting bagi setiap Muslim.
Karena bersifat non-medis, tanda-tanda penyakit ain kerap sulit dijelaskan melalui diagnosa medis. Berikut beberapa ciri yang disebutkan oleh Syaikh Abdul Aziz As-Sadhan dalam Ar-Ruqyah Syar’iyyah, yang bisa muncul jika seseorang terkena ain:
Gejala tersebut bisa berbeda-beda tergantung pada seberapa kuat pengaruh ain terhadap individu yang terkena.
Secara umum, ain dibagi menjadi dua jenis:
Jin dan setan diyakini memanfaatkan celah-celah tersebut untuk memengaruhi manusia secara psikis maupun fisik.
Islam telah mengajarkan langkah-langkah untuk mencegah ain agar tidak menyerang diri sendiri maupun orang lain. Berikut di antaranya:
Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak:
“أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ. اَللَّهُمَّ بَارِكْ فِيْهِ وَلَا تَضُرَّهُ”
U‘îdzuka bikalimâtillâhit tâmmati min kulli syaithânin, wa hâmmatin, wa min kulii ‘ainin lâmmah. Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah.
Artinya: “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.”
Doa ini dibaca Rasulullah SAW kepada cucunya, Hasan dan Husain. Praktik ini kini sangat dianjurkan untuk para orang tua sebagai proteksi spiritual terhadap anak-anak mereka.
Karena bukan penyakit medis, ain tidak bisa diobati dengan obat-obatan biasa. Dalam Islam, ruqyah syar’iyyah merupakan metode utama untuk menyembuhkan ain, yakni dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa yang diajarkan Nabi.
Disarankan pula untuk selalu:
Artikel Asli baca di liputan6.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya