src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO – Bulan Safar, bulan kedua dalam kalender hijriah setelah Muharam, kerap kali diselimuti anggapan negatif di tengah masyarakat. Banyak yang meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan sial, sehingga mereka memilih menunda pernikahan, perjalanan, atau aktivitas penting lainnya selama bulan ini.
Namun, benarkah keyakinan itu memiliki dasar dalam ajaran Islam? Atau hanya mitos yang diwariskan turun-temurun dari masa lampau?
Untuk memahami hal ini secara komprehensif, kita perlu merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW dan penjelasan para ulama terkait pandangan Islam terhadap bulan Safar.
Mengutip dari baznas.go.id, salah satu nilai penting dari kehadiran bulan Safar justru sebagai bantahan terhadap kepercayaan takhayul yang berkembang di zaman Arab Jahiliyah. Islam hadir untuk meluruskan anggapan keliru bahwa ada bulan tertentu yang membawa sial atau kesialan.
Rasulullah SAW dengan tegas menolak keyakinan semacam itu dalam sabdanya:
“Tidak ada penyakit, tidak ada kesialan, tidak ada pengaruh buruk dari burung hantu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Ahmad)
Pesan ini mempertegas bahwa semua kejadian baik dan buruk adalah atas izin Allah SWT, bukan karena waktu, benda, atau peristiwa tertentu.
Senada dengan itu, NU Online juga menukil sabda Rasulullah SAW dalam hadits lain:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
“Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR Bukhari)
Hadits ini menunjukkan penolakan Rasulullah terhadap keyakinan jahiliah yang meyakini sesuatu bisa membawa pengaruh buruk dengan sendirinya.
Dalam kitab Hâsiyyah I’ânatuth Thâlibîn karya Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, disebutkan bahwa hadits-hadits tersebut bertujuan menghapus kepercayaan sesat yang mempercayai keberuntungan atau kesialan berasal dari waktu atau benda, bukan dari ketentuan Allah.
Lebih lanjut, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa semua bulan dalam setahun memiliki kedudukan yang sama di sisi Allah SWT:
“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan…” (QS. At-Taubah: 36)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada satu bulan pun yang lebih buruk atau lebih baik dari yang lain secara esensial. Maka, keyakinan bahwa bulan Safar membawa sial tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an maupun Sunnah.
Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya untuk tetap beramal, berusaha, dan bertawakal kepada Allah dalam setiap waktu. Justru, bulan Safar bisa menjadi momentum memperkuat keimanan, menyucikan niat, dan menjauhi segala bentuk syirik kecil seperti mempercayai kesialan bulan.
Artikel Asli baca di liputan6.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya