src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Asap Karhutla Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Memburuk Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Asap Karhutla Selimuti Samarinda, Kualitas Udara Memburuk Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

waktu baca 3 menit
Rabu, 16 Sep 2026 19:21 83 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kondisi udara di Kota Samarinda memburuk seiring masih berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah. Kepulan asap dari lahan yang terbakar turut memengaruhi jarak pandang dan kualitas udara yang dirasakan masyarakat.

Koordinator Bidang Logistik dan Sarana Prasarana sekaligus Satgas PDB BPBD Kota Samarinda, Ifran, mengatakan kondisi berkabut yang terjadi di Samarinda tidak semata-mata disebabkan faktor cuaca. Asap dari kebakaran lahan di sekitar kota turut menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas udara.

“Ini mendung. Pertama, memang operasi udara kita, OMC (Operasi Modifikasi Cuaca) sedang berjalan, penyemaian juga sedang dilakukan, tapi awannya agak tersebar. Kondisi ini juga dipengaruhi kebakaran lahan di sekitar Kota Samarinda,” terang Ifran saat dikonfirmasi Rabu, 16 September 2026

Berdasarkan pemantauan pada pagi hari, kualitas udara Samarinda berada di angka 64,9 dan telah masuk kategori tidak sehat. Kondisi tersebut membuat masyarakat, khususnya yang beraktivitas di luar ruangan, diminta meningkatkan kewaspadaan.

“Kalau aktivitas di luar rumah sebaiknya memakai masker,” imbaunya.

Namun, pemantauan kualitas udara pada sore hari sekitar pukul 17.00 WITA di Stasiun Meteorologi Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda menunjukkan konsentrasi partikulat halus (PM2.5) mencapai 168,4 µg/m³ dengan kategori sangat tidak sehat. Dalam pemantauan tersebut, tren konsentrasi PM2.5 tercatat menurun, tetapi levelnya masih berada pada kategori yang perlu diwaspadai.

Api Karhutla Kembali Menyala

Di tengah kondisi tersebut, tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) juga masih melakukan penanganan kebakaran lahan. Dikatakan Irfan, personel kembali disiapkan untuk menuju kawasan Irigasi setelah titik api dilaporkan kembali muncul. “Teman-teman sudah siap lagi meluncur ke daerah irigasi karena lahan di sana menyala kembali,” ujar dia.

Penanganan di lokasi tersebut tidak mudah. Selain wilayah yang cukup luas, titik kebakaran juga tersebar dan berada di area gambut. Kata Irfan, karakteristik kebakaran di lahan gambut berbeda dengan kebakaran lahan biasa. Jika kebakaran lahan pada umumnya terlihat dari kobaran api, kebakaran gambut cenderung menghasilkan asap dalam jumlah besar karena api dapat membakar lapisan di bawah permukaan tanah.

“Kalau gambut bedanya dengan kebakaran lahan biasa. Kalau lahan biasa itu langsung api, kalau gambut lebih banyak asapnya. Nah, itu bisa mengganggu kesehatan,” tambahnya.

Kondisi Terparah

Ifran menilai kondisi pada hari ini menjadi salah satu yang terparah selama penanganan karhutla di Samarinda. Situasi tersebut terlihat dari kondisi langit yang tertutup asap hingga matahari nyaris tidak terlihat.

“Hari ini sebenarnya yang terparah. Kita lihat di Samarinda, matahari saja sudah tidak kelihatan sama sekali,” ungkapnya.

Kondisi itu terjadi ketika masa tanggap darurat telah memasuki hari ke-24. Meski penanganan terus dilakukan, kondisi karhutla belum menunjukkan penurunan yang berarti.

Ia berharap situasi tersebut tidak berlangsung berkepanjangan. Hujan rintik yang sempat turun pada pagi hari menjadi sedikit harapan untuk membantu meredam kebakaran lahan. “Memang ada hujan tadi pagi, rintik-rintik, tapi kita syukuri saja,” demikian Irfan. (Retno)

LAINNYA
x