src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Bara Api Masih Ada di Bawah Permukaan, Water Bombing Dipadukan Pemadaman di Darat

Bara Api Masih Ada di Bawah Permukaan, Water Bombing Dipadukan Pemadaman di Darat

waktu baca 3 menit
Rabu, 9 Sep 2026 19:28 16 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Samarinda belum selesai meski air sudah dijatuhkan dari udara. Sejumlah titik api masih menyimpan bara di bagian bawah lahan sehingga pemadaman harus dilakukan berulang dengan dukungan helikopter water bombing.

Pemantauan operasi dilakukan dari Bandara APT Pranoto, Sungai Siring, Samarinda, Rabu, 9 September 2026. Helikopter bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang tiba sehari sebelumnya kembali disiapkan untuk menyasar sejumlah titik karhutla yang dinilai sulit dipadamkan hanya dari darat.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri mengatakan dari hasil pemantauan bersama tim, terdapat sekitar lima titik karhutla yang perlu mendapat penanganan dari udara. Dua di antaranya disebut sebagai titik dengan kondisi paling besar, salah satunya berada di kawasan Kelurahan Bantuas yang api sudah merembet hingga menyeberangi jalan.

“Untuk karhutla itu ada beberapa titik yang harus ditembak nanti atau disiram air dengan helikopter. Di Kota Samarinda sendiri sekitar lima titik, tapi yang paling besar ada dua, salah satunya di Bantuas yang sudah menyeberang jalan. Insyaallah dari BPBD akan segera dieksekusi untuk memadamkan api tersebut,” kata Saefuddin usai memantau titik api dengan helikopter BNPB.

Bantuas menjadi salah satu lokasi yang kembali ditangani karena api belum sepenuhnya padam. Sebelumnya, upaya pemadaman dari udara telah dilakukan pada Rabu pagi.

Namun, air yang dijatuhkan dari helikopter belum sepenuhnya mematikan api. Saefuddin menjelaskan, beban air sekitar satu ton yang dijatuhkan dari udara menyebar saat mengenai area terbakar sehingga tidak seluruhnya mencapai bagian bawah lahan.

Setelah operasi dihentikan sementara, tim kembali melakukan pengecekan ke lokasi. Dari pemantauan tersebut, bara masih ditemukan di bawah permukaan. “Tadi pagi sudah diupayakan ditembak lagi, karena tembakan dan beban dari itu satu ton itu kan menyebar, otomatis tidak sampai ke bawah. Setelah kita cek lagi ternyata itu masih bara terus dari bawah,” ungkap dia.

Kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan satu metode. Tim darat tetap diperlukan untuk menjangkau bagian yang tidak terkena air secara langsung, sementara helikopter digunakan untuk membantu membasahi area yang sulit dijangkau dari permukaan.

Operasi water bombing sendiri mulai dijalankan Pemkot Samarinda bersama BNPB sejak Selasa, 8 September 2026. Pada penerbangan perdana, helikopter diarahkan ke kawasan Bantuas dan mengambil air dari void di sekitar lokasi untuk digunakan dalam pemadaman.

Pemkot Samarinda sebelumnya mengajukan dukungan helikopter kepada BNPB setelah kebakaran lahan semak kering meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Selain water bombing, pemadaman dari darat dan pemantauan titik kebakaran tetap dilakukan secara bersamaan.

Berdasarkan data kumulatif BPBD Kota Samarinda hingga 8 September 2026, tercatat 157 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 278,43 hektare, dengan Kecamatan Palaran sebagai wilayah dengan luasan kebakaran terbesar. Hasil pemantauan, kata Saefuddin, akan menjadi dasar untuk menentukan titik yang kembali mendapat penyiraman dari udara, terutama pada lokasi yang masih menunjukkan bara dan berpotensi kembali memicu kebakaran. “Memang harus ada dari udara sama dari itu yang harus untuk mematikan,” demikian Saefuddin Zuhri. (Retno)

LAINNYA
x