src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Wakil Bupati Berau, Gamalis didampingi Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau kini menghadapi tantangan lain. Bukan hanya api dan asap, tetapi juga ketersediaan sumber air yang mulai menipis akibat musim kemarau.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama untuk mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang. Salah satu opsi yang dinilai penting adalah membangun embung air di sejumlah wilayah yang rawan karhutla.
Menurutnya, pembangunan embung merupakan langkah preventif jangka panjang untuk memastikan ketersediaan sumber air ketika terjadi kebakaran. “Kalau untuk preventif, untuk jangka panjang, itu bagus sekali. Kita bisa pikirkan lokasi-lokasi yang cocok untuk penempatan embung,” ucapnya.
Namun, Gamalis menegaskan bahwa untuk kondisi saat ini, pemerintah masih harus fokus menangani kebakaran yang tengah terjadi. Pembangunan infrastruktur sumber air menjadi bagian dari evaluasi dan persiapan setelah situasi karhutla dapat dikendalikan.
“Kalau hari ini kita sedang berjibaku untuk memadamkan api yang saat ini terjadi. Kalau membuat embung untuk preventif, jangka panjang, itu bagus sekali,” ujarnya.
Selain embung, pemerintah juga mempertimbangkan sumur bor sebagai alternatif sumber air. Pilihan tersebut nantinya akan disesuaikan dengan kondisi geografis dan ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah.
Kepala BPBD Berau, Masyhadi Muhdi, menjelaskan persoalan sumber air menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas dalam penanganan karhutla.
Menurutnya, kemarau panjang membuat sejumlah sumber air untuk pemadaman mulai mengering. Bahkan, pada beberapa lokasi, permukaan air sumur ikut turun sehingga menyulitkan mobil maupun mesin pemadam untuk mengambil air.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan terhadap sumber air alternatif semakin mendesak. Karena itu, BPBD bersama pemerintah daerah akan memetakan lokasi yang memungkinkan untuk pembangunan embung maupun sumur bor setelah penanganan karhutla saat ini selesai.
Masyhadi menyebut keberadaan sumber air permanen di titik-titik rawan akan sangat membantu ketika terjadi kebakaran, sehingga petugas tidak harus mencari sumber air yang lokasinya jauh dari titik api.
Di tengah keterbatasan sumber air, persoalan lain juga muncul pada armada pemadam kebakaran. Masyhadi mengakui jumlah armada yang dapat beroperasi saat ini belum sepenuhnya mencukupi. “Kalau kondisi sekarang sebenarnya tidak mencukupi karena beberapa ada yang sedang rusak,” katanya.
Intensitas penanganan kebakaran yang berlangsung hampir setiap hari membuat armada harus bekerja lebih keras. Kondisi tersebut berpotensi mempercepat kerusakan kendaraan maupun peralatan pendukung.
Meski demikian, BPBD bersama instansi terkait terus memaksimalkan armada yang tersedia. Pemerintah juga kembali mengaktifkan peran kecamatan hingga kampung untuk membantu memenuhi kebutuhan air di lapangan.
“Kami memaksimalkan yang ada. Kemudian kami mengaktivasi lagi para camat untuk melibatkan anggota di kampung, termasuk Karang Taruna yang punya fasilitas untuk turut menyuplai air,” ujarnya.
Kata dia, penanganan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan armada pemerintah. Dukungan masyarakat, pemerintah kampung, serta berbagai pihak menjadi penting, terutama ketika sumber air dan armada pemadam menghadapi keterbatasan. (Riska)