src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kondisi lahan pertanian di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara terlihat mulai mengalami kekeringan. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Hamparan lahan pertanian di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, mulai mengalami kekeringan serius. Bahkan, permukaan sawah terlihat retak-retak akibat minimnya pasokan air dan hujan yang belum kunjung turun.
Kondisi tersebut terlihat saat Wakil Wali Kota Samarinda Saefuddin Zuhri bersama BPBD, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani), serta sejumlah OPD terkait meninjau lokasi pada Senin, 7 September 2026. Lokasi lahan pertanian ini berada berdekatan dengan kawasan yang sebelumnya dilanda kebakaran lahan pada akhir pekan.
Pemkot Samarinda, kata Saefuddin, tengah menyiapkan langkah darurat dengan memanfaatkan sumber air dari anak Sungai Karang Mumus untuk dialirkan ke saluran pertanian. Kondisi tanah yang mulai pecah menunjukkan kebutuhan air sudah cukup mendesak. Oleh karena itu, BPBD bersama Ketapangtani diminta segera mencari solusi agar tanaman yang masih bisa diselamatkan tidak berujung puso atau gagal panen.
“Kita prihatin dengan adanya kemarau panjang ini. Salah satunya kita melihat di lokasi, dan ini moga-moga besok segera untuk BPBD dan Dinas Ketapangtani untuk memberikan solusi, salah satunya adalah memompa air dari anak Sungai Karang Mumus bisa masuk ke saluran air yang ada di sini,” ungkap Saefuddin.
Sekitar 48 hektare lahan pertanian di kawasan tersebut saat ini menjadi bagian yang perlu diselamatkan. Ia berharap pasokan air dapat segera masuk ke persawahan sehingga tanaman masih memiliki kesempatan untuk tumbuh hingga masa panen.
Namun, proses pengairan tidak bisa dilakukan seperti mengisi lahan dalam kondisi normal. Tanah yang sudah mengering dan retak perlu terlebih dahulu menyerap air sebelum aliran dapat bergerak lebih jauh ke bagian persawahan lainnya.
“Tanah ini kan pecah-pecah, tentunya nantinya memerlukan waktu mengisi di sini, tapi ini tidak sedikit waktu karena tidak bisa mengalir langsung, alirannya menutupi daerah-daerah yang pecah dulu, baru mengalir ke seterusnya,” jelasnya.
Saefuddin menyebut, kebutuhan air untuk menyelamatkan lahan tersebut cukup besar. Jika produksi padi mencapai sekitar 8 ton per hektare dalam satu kali panen, menurutnya, lahan seluas 48 hektare memiliki nilai manfaat yang cukup besar bagi masyarakat apabila berhasil dipertahankan hingga masa panen.
Untuk itu, ia meminta seluruh perangkat daerah bergerak bersama untuk menangani dampak kekeringan, khususnya pada lahan pertanian yang masih memiliki peluang untuk diselamatkan. “Maka dari itu, untuk teman-teman, ayo kita sama-sama, istilahnya memberi kehidupan, menanggulangi permasalahan yang ada. Kita sama-sama bergerak bersama-sama untuk Kota Samarinda,” imbaunya.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketapangtani Samarinda, Noke Pattipawaej, mengatakan pihaknya menyiapkan alternatif pengairan dengan menggunakan pompa berkapasitas besar.
Sumber air yang akan dimanfaatkan berasal dari anak Sungai Karang Mumus. Pompa tersebut ditujukan untuk mengalirkan air menuju lahan pertanian di Betapus dan kawasan Lempake Jaya.
“Untuk saat ini kami dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Samarinda mencoba mencari alternatif pengairan, yaitu dengan cara pemompaan pada sumber yang tadi dijelaskan, pada sumber anak Sungai Karang Mumus,” kata Noke.
Dijelaskannya, kawasan sawah di Betapus dan Lempake memiliki areal persawahan sekitar 40 hektare. Selain itu, terdapat sekitar 30 hektare lahan hortikultura yang ditanami sayuran dan komoditas lainnya. Untuk tahap awal, dua unit pompa akan ditempatkan di dua titik yang telah ditentukan, dengan penempatan alat ditargetkan mulai dilakukan pada Selasa, 8 September 2026.
“Jadi dengan harapan itu kita mencoba di dua titik, yaitu di Betapus dan Lempake Jaya tadi. Artinya, dengan menggunakan pompa, tapi dengan sumber air yang sama, yaitu anak Sungai Karang Mumus,” papar dia.
Upaya tersebut terutama diarahkan untuk lahan yang tanamannya masih berada pada fase membutuhkan banyak air. Noke mengatakan tanaman padi yang baru berusia sekitar 30 hari setelah tanam menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan karena masih membutuhkan pasokan air untuk mempertahankan pertumbuhannya.
Dengan intervensi pengairan tersebut, pemerintah berharap tanaman tidak mati dan petani masih dapat memperoleh hasil panen, meski produksi berpotensi terdampak apabila kekeringan berlangsung lebih lama. Program pengairan ini diperkirakan memberikan manfaat kepada sekitar lima kelompok tani, atau sekitar 100 petani, di kawasan tersebut.
“Yang jelas kita berharap tidak gagal panen, tidak puso lah ibaratnya. Walaupun ada dampak kekeringan, tapi kita berharap mereka bisa menghasilkan, walaupun mungkin tadi yang dikatakan Pak Wakil Wali Kota itu, turun jumlah produksinya,” harap Noke Pattipawaej. (Retno)