src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Samarinda mengalami peningkatan sepanjang Agustus 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat rata-rata kasus ISPA akut mencapai 206,2 kasus per hari pada periode 1–22 Agustus, naik 22,8 persen dibandingkan rata-rata Juli yang berada di angka 167,9 kasus per hari.
Kepala Dinkes Kota Samarinda Ismed Kusasih mengatakan, peningkatan tersebut perlu dilihat dalam konteks kondisi lingkungan yang sedang kering. ISPA sendiri merupakan penyakit yang berkaitan langsung dengan saluran pernapasan dan kondisi lingkungan sehingga perubahan kualitas udara dapat ikut memengaruhi munculnya keluhan.
Meski meningkat, Ismed menilai kondisi kesehatan masyarakat Samarinda secara umum masih terkendali. Ia juga mengingatkan ISPA bukan penyakit yang hanya muncul ketika terjadi kekeringan atau karhutla, sebab gangguan pernapasan tersebut memang termasuk penyakit yang cukup sering ditemukan di masyarakat. “Makanya kalau peningkatan itu wajar. Kenapa wajar? Karena masih 22 sekian persen peningkatan ISPA dibandingkan bulan sebelumnya,” ujar Ismed saat diwawancarai, Senin, 31 Agustus 2026.
Berdasarkan pencatatan Dinkes, rata-rata kasus ISPA akut memang menunjukkan kenaikan dalam tiga bulan terakhir. Pada Juni 2026 rata-rata kasus berada di angka 162,5 per hari, kemudian meningkat menjadi 167,9 kasus per hari pada Juli. Memasuki 1–22 Agustus, angkanya kembali naik menjadi 206,2 kasus per hari.
Sementara itu, dalam data kelompok keluhan dan diagnosis yang masuk kategori ISPA pada tingkat provinsi, Samarinda tercatat berada di posisi kedua setelah Balikpapan. Data SKDR Dinkes Kaltim yang dihimpun hingga 22 Agustus mencatat akumulasi Samarinda mencapai 48.230 kasus, sedangkan Balikpapan 66.468 kasus. Angka tersebut mencakup sejumlah diagnosis dan keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan, bukan hanya ISPA spesifik.
Pencatatan kelompok ISPA tersebut mencakup beberapa keluhan dominan seperti batuk-pilek atau flu, radang tenggorokan, hingga ISPA. Karena itu, angka akumulasi perlu dibedakan dengan data ISPA spesifik yang dicatat Dinkes Kota Samarinda. Untuk periode 1–22 Agustus sendiri, ISPA spesifik tercatat sebanyak 799 kasus atau rata-rata 36,3 kasus per hari. Data tersebut berasal dari fasilitas kesehatan pemerintah dan sejumlah rumah sakit di Samarinda.
Dikatakan Ismed, peningkatan kasus belum sampai membuat pelayanan kesehatan di rumah sakit mengalami lonjakan. Sebagian besar kasus ISPA yang muncul masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas maupun klinik.
Kendati demikian, Ismed mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap remeh gangguan pernapasan. Sebab, ISPA yang tidak ditangani dengan baik dapat berkembang menjadi kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan. “Kalau sejauh ini artinya penyakit ISPA meskipun terjadi peningkatan, masih cukup di fasilitas kesehatan tingkat pertama, di Puskesmas, di klinik untuk pengobatan. Dan dari rumah sakit itu belum ada peningkatan,” jelas dia.
Dinkes juga terus melakukan surveilans untuk melihat perkembangan penyakit di tengah kondisi kemarau dan karhutla. Pemantauan tersebut, kata Ismed, penting agar perubahan kasus dapat diketahui lebih cepat dan langkah pencegahan bisa segera dilakukan sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Ia menilai upaya kesehatan tidak hanya berada pada tahap pengobatan. Pencegahan dan promosi kesehatan juga menjadi bagian penting, termasuk peran puskesmas, klinik, serta masyarakat dalam mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan.
Terkait aktivitas masyarakat di luar rumah, Ismed mengatakan Dinkes tidak menjadi pihak yang menetapkan boleh atau tidaknya aktivitas luar ruangan. Keputusan tersebut berada dalam koordinasi Satgas yang dipimpin Wali Kota Samarinda. Dinkes hanya memberikan masukan berdasarkan kondisi kesehatan masyarakat. “Jadi kita hanya memberi masukan, ada enggak peningkatan-peningkatan yang signifikan terhadap ISPA,” pungkas Ismed Kusasih. (Retno)