src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Transformasi Empat Puskesmas Samarinda, Puskesmas Harapan Baru Langsung Kantongi Predikat Paripurna

Transformasi Empat Puskesmas Samarinda, Puskesmas Harapan Baru Langsung Kantongi Predikat Paripurna

waktu baca 4 menit
Senin, 31 Agu 2026 17:51 20 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda meresmikan sejumlah fasilitas kesehatan baru sekaligus, meliputi Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSUD I.A. Moeis, Gedung Cathlab Jantung RSUD I.A. Moeis, empat puskesmas hasil transformasi yakni Puskesmas Harapan Baru, Puskesmas Sungai Kapih, Puskesmas Mangkupalas dan Puskesmas Bantuas, serta Gedung Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Peresmian berlangsung di Gedung KIA RSUD I.A. Moeis, Jalan H.A.M. Rifaddin, Senin, 31 Agustus 2026.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menyebut capaian paling membanggakan dari transformasi ini adalah keberhasilan Puskesmas Harapan Baru meraih akreditasi Paripurna dari Kementerian Kesehatan, predikat akreditasi tertinggi yang bisa diraih sebuah puskesmas. Pencapaian ini, kata dia, terbilang luar biasa mengingat kondisi puskesmas tersebut sebelumnya dinilai jauh dari layak, namun setelah dilakukan transformasi menyeluruh berhasil langsung melompat ke tingkat akreditasi tertinggi.

“Yang tadinya puskesmas ini sama sekali kurang layak, tapi setelah kita melakukan transformasi, bukan naik satu dua tingkat, tapi langsung mendapatkan akreditasi Paripurna, itu akreditasi paling tinggi di bidang puskesmas,” ujar Andi Harun.

Dijelaskannya, tiga puskesmas lainnya turut mengalami transformasi signifikan, baik dari sisi kemodernan fasilitas, kualitas pelayanan, maupun kelengkapan sarana pendukung. Alasan peresmian keempat fasilitas kesehatan ini digabung dalam satu waktu, menurut Andi Harun, semata-mata untuk efisiensi anggaran, mengingat pelaksanaan seremoni peresmian secara terpisah untuk masing-masing lokasi akan memakan biaya lebih besar.

Salah satu fasilitas yang mendapat sorotan khusus adalah Gedung KIA yang sudah dilengkapi fasilitas cukup lengkap. Ia bahkan menyebut ada masukan dari salah satu dokter di RSUD I.A. Moeis, dr. Rustam, mengenai potensi pengembangan fasilitas tersebut untuk layanan bayi tabung, dengan estimasi kebutuhan anggaran sekitar Rp10 hingga 12 miliar. Andi Harun menyebut sudah meminta agar proposal pengembangan itu segera disusun, dengan harapan bisa direalisasikan tahun depan. “Di Kalimantan ini cuma Kalimantan Barat yang punya. Syukur-syukur kalau kita tahun depan sudah bisa mengadakan alatnya, jadi warga Kaltim tidak perlu lagi jauh-jauh, cukup datang ke RSUD I.A. Moeis,” katanya.

Selain fasilitas medis, Andi Harun turut menyoroti peresmian gedung gizi yang akan mengelola produksi asupan nutrisi bagi pasien rumah sakit secara mandiri. Ia menekankan proses penyembuhan pasien tidak semata ditentukan oleh pengobatan medis, melainkan juga asupan gizi yang terukur sesuai kondisi masing-masing pasien dan memenuhi standar higienitas.

Andi Harun menegaskan, seluruh capaian pembangunan fasilitas kesehatan ini merupakan buah dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan Pemkot Samarinda secara konsisten. Ia mengungkap, belanja perjalanan dinas serta makan minum di lingkungan Pemkot Samarinda sudah dipangkas hingga lebih dari 95 persen, sebuah langkah yang menurutnya harus dilakukan secara radikal, bukan sekadar slogan semata. “Kalau belanja makan minum, perjalanan dinas dikurangi, angkanya kalau perlu sampai 90 sampai 95 persen. Kalau masih 50 persen, itu belum berhemat namanya,” tegasnya.

Ia menilai mayoritas perjalanan dinas selama ini tidak memberikan manfaat signifikan bagi pelayanan publik, bahkan menyebut sebagian di antaranya berpotensi masuk ranah pelanggaran hukum apabila benar-benar ditelusuri secara mendalam. Andi Harun menyatakan keterbukaannya apabila ada pihak yang ingin membedah data perjalanan dinas Pemkot Samarinda untuk diverifikasi kebermanfaatannya. “Saya sangat amat yakin, rata-rata perjalanan dinas itu di atas 50 persen, bahkan mungkin di atas 60 persen tidak memberi dampak faedah, pemborosan memang,” ungkapnya.

Menurutnya, hasil penghematan dari pos-pos belanja yang tidak prioritas itulah yang kemudian dialihkan untuk membiayai pembangunan fasilitas publik yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, seperti puskesmas dan infrastruktur jalan. Ia menegaskan prinsip efisiensi yang diterapkan bukan berarti menghentikan seluruh belanja, melainkan berhenti membiayai pos-pos yang tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Lebih lanjut, dikatakannya, peresmian empat fasilitas kesehatan ini menjadi bukti nyata komitmen Pemkot Samarinda dalam menjalankan mandat kebijakan nasional maupun arahan Presiden terkait penggunaan anggaran daerah secara tepat sasaran. “Kita masih berutang, kita masih harus kerja keras. Kalau enggak, mungkin saja kelihatannya bagus di atas permukaan, tapi di tahun berikutnya akan muncul masalah yang sebelumnya tidak kita prediksi kalau kita tidak berhemat,” pungkas Andi Harun. (Retno)

LAINNYA
x