src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Teks Foto: Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Di tengah euforia peresmian empat fasilitas kesehatan baru di Samarinda, Senin, 31 Agustus 2026, ada satu fakta menarik yang justru datang dari Puskesmas yang tidak masuk dalam daftar yang diresmikan hari itu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengungkap bahwa Puskesmas Palaran yang bangunannya belum mengalami peningkatan fisik seperti empat puskesmas lain, justru menempati peringkat kedua dari 78 unit pelayanan publik terbaik se-Kota Samarinda versi SK Wali Kota tahun lalu.
Pengakuan ini muncul saat Ismed menjelaskan latar belakang peresmian Gedung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) RSUD I.A. Moeis, Gedung Cathlab Jantung, serta empat puskesmas hasil transformasi, yakni Puskesmas Harapan Baru, Mangkupalas, Sungai Kapih, dan Bantuas.
Ia menyebut RSUD I.A. Moeis menempati posisi pertama, sementara posisi ketiga diisi Puskesmas Mangkupalas, salah satu puskesmas yang juga baru menerima gedung baru.
“Dari 78 pelayanan publik di Kota Samarinda, lima teratas itu SK Bapak Wali Kota langsung. Nomor satu Rumah Sakit Moeis, nomor dua Puskesmas Palaran. Ketiga Puskesmas Mangkupalas,” ujar Ismed saat diwawancarai Senin, 31 Agustus 2026.
Fakta bahwa Puskesmas Palaran bisa menembus posisi dua besar tanpa dukungan gedung baru ini, menurut Ismed, justru menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak selalu berbanding lurus dengan kemewahan fisik bangunan. Meski dari sisi sarana fisik ada puskesmas yang kondisinya lebih baik dibanding lainnya, secara kualitas pelayanan kepada masyarakat, seluruh puskesmas di Samarinda relatif setara.
“Kalau dari sisi pelayanan, saya bisa pastikan sebenarnya pelayanannya kurang lebih sama, antara puskesmas yang sudah bagus bangunan fisiknya maupun yang masih kurang layak,” kata dia.
Meski begitu, Ismed tidak menampik bahwa peningkatan fasilitas fisik tetap punya peran penting, khususnya untuk jenis pelayanan yang membutuhkan dukungan sarana dan alat kesehatan tertentu. Ia mencontohkan pembangunan Gedung KIA RSUD I.A. Moeis yang mendapat dukungan hibah dari Kementerian Kesehatan, termasuk peralatan Cathlab untuk penanganan jantung, sebagai bentuk dukungan yang memang membutuhkan infrastruktur khusus.
Dijelaskannya, peningkatan fasilitas kesehatan ibu dan anak ini punya kaitan erat dengan pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan, khususnya SPM 1 hingga 4 yang mencakup pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan, bayi baru lahir, hingga balita.
Menurutnya, sejak gedung baru ini mulai beroperasi beberapa bulan terakhir, capaian pemenuhan SPM tersebut sudah menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. “SPM satu sampai empat itu berhubungan dengan ibu anak, dan untuk rujukan ini sudah paling tidak terwujud. Dari operasional beberapa bulan, sudah sangat signifikan peningkatannya,” jelasnya.
Soal proses pembangunan empat fasilitas yang baru diresmikan ini, Ismed menjelaskan pengerjaannya sebenarnya sudah dimulai sejak 2024 dan rampung sepenuhnya di akhir 2025. Bahkan, seluruh fasilitas tersebut sudah mulai beroperasi jauh sebelum peresmian resmi dilakukan, karena Pemkot Samarinda ingin memastikan kesiapan operasional terlebih dahulu sebelum acara seremoni digelar.
“Sebenarnya ini bisa diresmikan di awal tahun, tapi untuk kepastian pembangunan sudah berjalan, bahkan sudah operasional, baru diresmikan pada hari ini,” ungkapnya.
Ditanya soal rencana peningkatan fasilitas serupa di wilayah lain, Ismed menyebut hal itu akan sangat bergantung pada kondisi fiskal Pemkot Samarinda tahun depan. Ia turut mengaitkan rencana ini dengan program nasional yang disampaikan Presiden RI untuk merehabilitasi 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia.
Di Samarinda sendiri, kata dia, hanya tersisa satu hingga dua puskesmas yang kondisi fisiknya masih tergolong kurang layak. “Kalau di Samarinda kayaknya mungkin tinggal satu dua puskesmas yang belum, yang kurang layak dari sisi fisik, tapi dari sisi pelayanan, kurang lebih sama,” pungkas Ismed Kusasih. (Retno)