src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Karhutla Kaltim Capai 1.595 Hektare, Paser Kasus Terbanyak, Kukar Terluas

Karhutla Kaltim Capai 1.595 Hektare, Paser Kasus Terbanyak, Kukar Terluas

waktu baca 4 menit
Jumat, 28 Agu 2026 18:57 40 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) terus meningkat sepanjang Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat 547 kejadian karhutla dengan total luas lahan terdampak mencapai 1.595,81 hektare hingga 26 Agustus 2026.

Dari total tersebut, Agustus menjadi periode dengan peningkatan paling signifikan. Dalam kurun 1-26 Agustus saja, tercatat 422 kejadian dengan luas lahan terdampak mencapai 1.362,59 hektare. Sementara pada Januari hingga Juli 2026 terdapat 125 kejadian dengan luas terdampak 233,23 hektare.

Kepala BPBD Kaltim Buyung Dodi mengatakan, dari sejumlah wilayah yang terdampak, Paser menjadi daerah dengan jumlah kejadian terbanyak, sedangkan berdasarkan luasan, Kutai Kartanegara (Kukar) berada di posisi tertinggi.

“Kalau mengenai lokasinya kelihatan ya tadi sudah ada di 10 kawasan kabupaten/kota. Yang terbesar ada di Kukar rasanya, tapi kejadian yang paling banyak ada di Paser,” kata Buyung saat ditemui, Kamis 27 Agustus 2026.

Berdasarkan data BPBD Kaltim, Kukar mencatat 53 kejadian dengan luas terdampak 480,38 hektare. Berikutnya Kutai Barat dengan 77 kejadian seluas 383,67 hektare, kemudian Paser dengan 151 kejadian seluas 358,93 hektare.

Sementara Samarinda mencatat 91 kejadian dengan luas lahan terdampak 126,26 hektare. Daerah lainnya yakni Berau 49 kejadian seluas 102,94 hektare, Kutai Timur 33 kejadian seluas 57,75 hektare, Penajam Paser Utara 50 kejadian seluas 51,54 hektare, Balikpapan 22 kejadian seluas 14,74 hektare, Bontang 10 kejadian seluas 13,51 hektare dan Mahakam Ulu 11 kejadian seluas 6,10 hektare.

Kata Buyung, tingginya jumlah kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terbakar. Paser menjadi contoh dengan jumlah kejadian paling banyak, tetapi luasan lahannya masih berada di bawah Kukar dan Kutai Barat.

Salah satu lokasi yang masih menjadi perhatian BPBD Kaltim adalah kawasan Pendingin, Kutai Kartanegara. Api di wilayah tersebut kembali muncul meski sebelumnya telah dilakukan pemadaman sehingga tim kembali dikerahkan untuk melakukan penanganan. “Kemarin sudah pemadaman, tapi masih terbakar, kami juga lagi kirim tim lagi ke sana,” ujarnya.

Terkait penyebab, Buyung mengatakan BPBD masih melihat adanya sejumlah kemungkinan. Ia tidak menutup kemungkinan sebagian kebakaran dipicu aktivitas manusia, termasuk unsur kesengajaan. Namun, kondisi lingkungan yang sangat kering juga membuat bara atau sisa kebakaran lebih mudah kembali menyala dan memicu kebakaran di lokasi lain.

“Memang ada salah satunya unsur kesengajaan juga kalau kami lihat, tetapi ada juga potensi asap abu itu, kebakaran itu pindah ke tempat lain dan sementara karena kekeringan tinggi jadi mudah sekali terbakar, mudah menyulut api lagi,” jelas dia

Di samping itu, Buyung mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan angka hotspot dengan jumlah kejadian kebakaran. Titik panas merupakan hasil pembacaan satelit terhadap anomali suhu sehingga masih membutuhkan validasi di lapangan.

“Hotspot itu potensi, itu kan bacaan dari satelit bahwa ada anomali suhu di sana. Nah, bisa jadi itu kebakaran, bisa jadi orang yang lagi bakar-bakaran atau obor, bisa jadi atap seng, bisa jadi lahan tambang,” tambahnya.

BPBD bersama instansi terkait kemudian melakukan pengecekan terhadap titik-titik tersebut untuk memastikan apakah benar merupakan titik api. Langkah validasi diperlukan agar penanganan di lapangan dapat diarahkan pada lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran.

Selain persoalan api, keterbatasan sumber air juga menjadi kendala dalam penanganan karhutla. Kondisi tersebut, sebut Buyung, salah satunya dirasakan di kawasan Pendingin yang memiliki medan dan sumber air yang tidak mudah dijangkau.

Untuk mengantisipasi persoalan serupa, BPBD Kaltim tengah berkoordinasi dengan BPBD Kukar mengenai kebutuhan sumber air. Salah satu opsi yang dibahas yakni pembangunan sumur dalam atau deep well yang dapat menjadi sumber air ketika memasuki musim kemarau.

“Kalau memang tidak sumber air, sumur air, tapi yang deep, yang memang dalam, deep well namanya. Itu kita minta pelaksanaannya jangan pada saat musim hujan,” tutur Buyung.

Buyung bilang, pembangunan sumber air perlu dipersiapkan jauh sebelum musim kemarau agar fasilitas tersebut dapat benar-benar digunakan ketika kebutuhan air untuk pemadaman meningkat. BPBD juga akan mengusulkan penambahan armada tangki air untuk mendukung penanganan di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Sementara untuk sistem peringatan dini, BPBD Kaltim mengandalkan informasi dari BMKG yang kemudian diteruskan kepada BPBD kabupaten/kota. Informasi tersebut selanjutnya diharapkan diteruskan hingga tingkat kecamatan dan kelurahan/desa agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan.

Buyung menegaskan, tingginya angka kebakaran pada Agustus harus menjadi evaluasi bersama, terutama terhadap kejadian yang dipicu aktivitas manusia. Kebakaran yang disebabkan manusia memiliki dampak yang tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi, tetapi juga dapat mengganggu masyarakat di wilayah lain.

“Kalau memang terjadi karena faktor alam, ya oke lah, kita terima. Tapi yang faktor manusia ini kalau misalkan kita kurangi, ya memang siapa sih yang mau bahwa itu salah satu memang ada keperluan atau sebagainya, tapi efeknya sampai ke masyarakat yang lain,” demikian Buyung Dodi. (Retno)

LAINNYA
x