src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Asap Karhutla Berdampak pada Kesehatan, ISPA Berau Capai 3.587 Kasus

Asap Karhutla Berdampak pada Kesehatan, ISPA Berau Capai 3.587 Kasus

waktu baca 3 menit
Jumat, 28 Agu 2026 19:00 39 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai terasa pada sektor kesehatan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seiring meluasnya kejadian karhutla dan memburuknya kualitas udara akibat paparan asap.

Kepala Dinas Kesehatan Berau, Lamlay Sarie, mengatakan peningkatan kasus ISPA terlihat pada laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR). Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan kasus terjadi setelah memasuki periode meluasnya karhutla di sejumlah wilayah.

“Memang dengan adanya karhutla ini mempengaruhi kondisi kualitas udara. Jadi memang ada peningkatan kasus ISPA di wilayah puskesmas kita,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinkes Berau, sepanjang minggu 1 hingga minggu 18 tahun 2026, kasus ISPA belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, tren mulai meningkat sejak minggu ke-19.

Peningkatan tersebut terus terlihat hingga mencapai puncaknya pada periode minggu ke-29 hingga minggu ke-33, dengan jumlah 3.587 kasus ISPA. Sebelumnya tercatat 3.012 kasus pada minggu ke-24 hingga ke-28 dan 2.714 kasus pada minggu ke-19 hingga ke-23. Kondisi ini dinilai sejalan dengan semakin pekatnya asap akibat karhutla yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Berau.

“Jadi itu mau ada kebakaran atau apa, itu tetap dipantau. Karena memang sudah ada sistem surveillance dari Kementerian Kesehatan untuk mengawasi pergerakan dan kenaikan sejumlah penyakit,” jelasnya.

Tak hanya ISPA, Dinkes juga mewaspadai potensi gangguan kesehatan lainnya yang berkaitan dengan buruknya kualitas udara, termasuk keluhan iritasi mata. Data terkait jenis penyakit tersebut masih dalam proses evaluasi dan pemantauan melalui fasilitas pelayanan kesehatan.

Berdasarkan data sebaran titik panas (hotspot) dari satelit SIPONGI per Rabu, 19 Agustus 2026, tercatat 276 titik panas di Kabupaten Berau. Kecamatan Pulau Derawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 93 titik. Disusul Kecamatan Segah 64 titik, Gunung Tabur 38 titik, Sambaliung 28 titik, dan Teluk Bayur 21 titik.

Sementara itu, hingga 22 Agustus 2026 tercatat 169 kejadian karhutla di Kabupaten Berau. Kecamatan Sambaliung menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 35 kejadian, disusul Teluk Bayur 29 kejadian dan Pulau Derawan 26 kejadian.

Di tengah kondisi tersebut, Dinkes telah meminta seluruh puskesmas meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan bertambahnya kasus gangguan kesehatan akibat asap karhutla.

“Teman-teman puskesmas kita suruh untuk siap siaga mengantisipasi adanya kasus-kasus emergency yang mungkin bakal muncul,” katanya.

Perhatian Dinkes semakin serius setelah dilakukan pengukuran partikel udara halus atau PM2,5 menggunakan sanitarian kit yang tersedia di puskesmas.

Pasalnya, sejumlah kampung yang terdampak asap diketahui memiliki kadar PM2,5 di atas ambang batas baku mutu. Pengukuran juga dilakukan di dalam ruangan di wilayah Tanjung Redeb, salah satunya di Gedung Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Berau.

Hasil pengukuran menunjukkan angka 1.050, sementara ambang batas yang seharusnya berada di bawah 25 µm/m³. Angka tersebut menunjukkan kondisi paparan partikel halus yang perlu menjadi perhatian serius.

Pengukuran ISPU untuk kualitas udara luar ruangan sendiri semestinya dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Namun, Kabupaten Berau belum memiliki alat pemeriksaan ISPU. Karena itu, Dinkes memanfaatkan sanitarian kit di puskesmas untuk mengukur PM2,5, khususnya sebagai indikator kualitas udara dalam ruangan.

“Dengan melihat hasil pengukuran kualitas udara dan perkembangan kasus penyakit, Dinkes menilai diperlukan penyesuaian aktivitas masyarakat untuk mengurangi risiko kesehatan akibat asap karhutla,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x