src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ilustrasi (sumber: ChatGPT)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Keterbatasan sumber air di tengah musim kemarau bukan hanya menyulitkan kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut juga dapat menimbulkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika masyarakat terpaksa berhadapan dengan lingkungan yang kurang bersih dan sumber air yang rentan tercemar.
Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim), Jaya Mualimin mengatakan diare menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai ketika ketersediaan air terbatas. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila kondisi lingkungan banyak terdapat tikus, ayam maupun hewan lainnya. “Risiko diare juga perlu diwaspadai, terutama di wilayah yang sumber airnya terbatas,” kata Jaya belum lama ini.
Persoalan lingkungan tersebut juga berkaitan dengan ancaman leptospirosis. Penyakit ini disebabkan bakteri Leptospira yang dapat dibawa tikus melalui urine. Ketika urine tikus mencemari lingkungan atau sumber air, masyarakat berpotensi terpapar bakteri tersebut.
Risiko paparan dapat terjadi ketika masyarakat menggunakan atau bersentuhan dengan sumber air maupun lingkungan yang telah tercemar, terlebih jika kebersihan tangan tidak dijaga sebelum makan.
“Jika tikus membawa bakteri Leptospira dari urine yang mencemari lingkungan atau sumber air, masyarakat dapat terpapar ketika tidak mencuci tangan sebelum makan,” jelasnya.
Leptospirosis bukan penyakit yang bisa dianggap sepele. Paparan bakteri Leptospira dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti demam, menggigil hingga gangguan pencernaan. Karena itu, kebersihan lingkungan menjadi bagian penting untuk memutus risiko paparan, terutama di kawasan yang mengalami keterbatasan air.
Kondisi tersebut membuat kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan menggunakan sabun menjadi penting. Masyarakat juga diminta memastikan makanan tetap bersih dan terlindung dari lingkungan yang berpotensi tercemar.
“Karena itu, masyarakat diimbau untuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan menjaga kebersihan makanan,” ujar Jaya.
Selain persoalan air dan sanitasi, kondisi kemarau juga membuat lingkungan lebih mudah dipenuhi debu. Paparan debu secara berlebihan dapat memicu keluhan pada kulit, termasuk gatal-gatal maupun reaksi alergi. “Selain ISPA, gangguan kesehatan lain yang berpotensi meningkat akibat kondisi udara dan lingkungan adalah diare serta gatal-gatal atau alergi akibat debu,” ungkapnya.
Dengan kondisi lingkungan yang berubah selama kemarau, Jaya mengingatkan masyarakat untuk tidak hanya memperhatikan ketersediaan air, tetapi juga kualitas dan kebersihannya. Menjaga lingkungan dari keberadaan tikus, mencuci tangan sebelum makan dan memastikan makanan tetap higienis menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyakit.
“Paparan bakteri tersebut dapat menyebabkan leptospirosis dengan gejala seperti demam, menggigil, dan gangguan pencernaan,” pungkas Jaya Mualimin. (Retno)