src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
epala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin. HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Timur memburuk seiring masih berlangsungnya musim kemarau dan munculnya titik-titik api. Kondisi ini turut diikuti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), meski Dinas Kesehatan Kaltim menyebut kenaikannya belum terlalu signifikan dibandingkan awal tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengatakan kasus ISPA mulai kembali meningkat setelah sempat mengalami penurunan pada pertengahan tahun. Memasuki September, atau sekitar pekan ke-34 dalam kalender epidemiologi, jumlah kasus berada di kisaran 9.400.
“Memang ada peningkatan kasus, tetapi peningkatannya jika dibandingkan dengan Januari, Februari, dan Maret itu kecil. Masih seputar sekitar 9.400 kasus,” ungkap Jaya, dua hari lalu.
Peningkatan kasus tersebut, jelas dia, tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang kembali dipengaruhi titik-titik api. Selain asap dari kebakaran di wilayah Kaltim, kondisi udara juga diperburuk asap kiriman dari Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Selatan (Kalsel).
Kondisi semakin sulit ketika hujan belum turun secara merata, sehingga akumulasi asap dan minimnya hujan membuat kualitas udara di sejumlah daerah berpotensi terus menurun.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian Dinkes Kaltim adalah Kutai Barat. Beberapa hari lalu, kualitas udara di wilayah tersebut sempat mencapai kategori berbahaya dengan angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang dilaporkan mencapai 318 mikrogram per meter kubik udara. Angka tersebut jauh di atas batas kondisi sehat yang seharusnya di bawah 55. Meski kemudian turun menjadi sekitar 280, kondisi tersebut masih berada dalam kategori sangat tidak sehat.
Kasus ISPA di Kutai Barat pun turut meningkat seiring memburuknya kualitas udara di wilayah tersebut. Oleh karena itu, tim krisis dari Kementerian Kesehatan bersama dan Dinkes Kaltim dijadwalkan kembali berangkat ke Kutai Barat untuk memantau langsung perkembangan kondisi di sana.
Secara keseluruhan, peningkatan kasus ISPA juga terjadi di sejumlah daerah lainnya. Hingga Agustus, Balikpapan mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 66.468 kasus, disusul Samarinda 48.230 kasus dan Kutai Kartanegara 29.453 kasus. Selanjutnya, kasus ISPA tercatat sebanyak 22.284 kasus di Paser dan 22.032 kasus di Kutai Timur. Berau mencapai 20.549 kasus, Penajam Paser Utara 10.386 kasus, Bontang 7.670 kasus, serta Mahakam Ulu 1.482 kasus.
Namun, Jaya mengingatkan tingginya angka kasus di suatu daerah tidak serta-merta menunjukkan kondisi penyakit yang lebih parah dibandingkan daerah lain. Jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang turut memengaruhi besarnya angka kasus ISPA yang tercatat.
Dikatakan Jaya, kondisi kualitas udara terus dipantau melalui sistem ISPU Net. Ia menyebut sejumlah wilayah Kaltim saat ini memiliki indeks di atas 200 atau masuk kategori sangat tidak sehat, dengan kondisi udara sehat berada di bawah angka 55.
“Kondisi udara yang paling mengkhawatirkan berada di Kutai Barat dan Berau, kemudian Kutai Kartanegara,” sebut dia.
Kondisi tersebut, lanjut dia, masih sangat dinamis. Kualitas udara dapat berubah mengikuti perkembangan titik api, ketebalan asap, hingga kondisi cuaca di masing-masing wilayah. Ketika konsentrasi asap meningkat sementara hujan belum turun, kualitas udara berpotensi bergerak dari kondisi sehat menjadi tidak sehat, sangat tidak sehat, bahkan hingga kategori berbahaya.
“Tapi ini dinamis. Ketika asap semakin tebal dan hujan tidak kunjung turun, kualitas udara dapat memburuk. Kondisi tersebut dapat berubah dari sehat menjadi tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya,” pungkas Jaya Mualimin. (Retno)