src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Satu Bulan Tanpa Pengairan, Petani di Samarinda Mulai Kehilangan Harapan untuk Panen

Satu Bulan Tanpa Pengairan, Petani di Samarinda Mulai Kehilangan Harapan untuk Panen

waktu baca 3 menit
Selasa, 8 Sep 2026 16:17 16 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda berencana memompa air dari anak Sungai Karang Mumus untuk menyelamatkan puluhan hektare sawah di Betapus. Para petani berharap agar air segera mengalir sebelum tanaman mereka benar-benar mati.

Arlan, salah satu petani, menggarap sekitar seperempat hektare lahan sawah di Betapus, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara. Lahan tersebut merupakan bagian dari satu hektare lahan keluarga yang sudah dibagi-bagi kepada anak-anaknya. Padi yang ia tanam sebulan terakhir kini mulai mengering akibat kemarau yang tak kunjung diselingi hujan.

“Ya, tanaman padi kayak kering gini. Habis tanam, berapa minggu kemudian kering, sudah tidak ada hujan,” ujar Arlan saat ditemui di lahan sawahnya, Senin, 7 September 2026.

Padi yang ditanamnya merupakan varietas unggul dengan bibit yang dibeli dari kantor pertanian, dengan usia panen sekitar tiga bulan lebih sedikit. Namun, tanpa pasokan air yang cukup selama sebulan terakhir, Arlan mengaku tanamannya tidak tumbuh subur seperti biasanya meskipun ia menilai kondisinya belum sampai gagal panen total.

“Ya, mungkin panennya kecil-kecil aja, sebagian kayak yang ini. Kalau yang kayak itu enggak ada panen,” katanya sambil menunjuk sejumlah bagian sawahnya yang kondisinya mulai menguning.

Dalam kondisi normal, Arlan bisa memanen sekitar satu ton dari lahan seperempat hektare miliknya. Namun tahun ini, ia memperkirakan hasil panennya tidak akan sampai setengah ton. “Wah, ini paling ya sekitar tidak sampai setengah ton, ya mungkin sekwintal dapat,” ujarnya.

Arlan menyebut kemarau panjang seperti ini pernah ia alami puluhan tahun lalu, meski ia tak lagi ingat persis tahunnya. Sumber air andalannya selama ini berasal dari sebuah bendungan kecil di dekat lahannya. Namun, kini bendungan tersebut juga sudah kering dan ditutup sehingga sawahnya sama sekali tidak mendapat pengairan selama kemarau berlangsung. “Selama kemarau ini nggak ada pengairan,” ungkap Arlan.

Tanpa air yang cukup, pemberian pupuk pun menjadi percuma karena akan langsung menguap. Beberapa waktu lalu, ia bahkan terpaksa membeli air sendiri untuk menyemprot tanamannya pada malam hari, meski hasilnya tetap tidak maksimal.

Di tengah kondisi itu, Arlan mengaku sempat merasa putus asa untuk sekadar merawat sawahnya karena hasil yang tidak sepadan dengan usaha yang dikeluarkan. “Gimana lagi, ya, pasrah aja sudah. Mau merumput rasanya sudah males, nanti kalau merumput buang-buang waktu juga, percuma aja kalau tidak panen,” imbuhnya lesu.

Meski begitu, Arlan tetap berharap rencana Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapangtani) Samarinda untuk mengalirkan air dari anak Sungai Karang Mumus ke lahan pertanian Betapus bisa segera terealisasi. Ia menilai, sekecil apa pun pasokan air yang bisa didapat akan sangat berarti bagi petani seperti dirinya untuk tetap bisa memanen, meski hasilnya tak akan sebanyak biasanya.

“Mudah-mudahan bisa terlaksana, secepatnya bisa mengairi, jadi sedikit-sedikit masih bisa panen. Jadi ada harapan lah untuk makan,” pungkas Arlan. (Retno)

LAINNYA
x