src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Sambutan. (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA — Luasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Samarinda terus bertambah dari hari ke hari. Setelah sebelumnya titik api di kawasan Makroman dan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan, dilaporkan mencapai sekitar 30 hektare pada awal Oktober, Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, kini mengungkap akumulasi total karhutla di seluruh wilayah Samarinda sudah tembus 608,18 hektare.
Suwarso menjelaskan, angka tersebut merupakan data sampai hari sebelumnya, mengingat proses pemadaman pada hari berjalan baru bisa direkap setelah seluruh kegiatan penanganan rampung di sore hari. Sebaran kebakaran tidak hanya terpusat di Kecamatan Sambutan, melainkan meluas hingga Kecamatan Palaran, kawasan Lempake di Kecamatan Samarinda Utara, dan beberapa wilayah lain.
“Kurang lebih 608,18 hektare itu tersebar se-Kota Samarinda, mulai dari wilayah Kecamatan Sambutan, Kecamatan Palaran, kemudian ada di Lempake, Kecamatan Samarinda Utara, dan beberapa wilayah yang lainnya,” ujar Suwarso, Senin, 5 Oktober 2026.
Dari seluruh titik yang tersebar itu, kawasan Pulau Atas tetap menjadi lokasi dengan kejadian kebakaran paling sering dan paling luas. Suwarso merinci, dalam tiga hari terakhir saja tercatat tambahan sekitar 19 hektare lahan terbakar di Pulau Atas, menambah catatan sebelumnya yang sudah mencapai 34 hektare. Jika diakumulasikan, luas kebakaran di Pulau Atas kini diperkirakan mencapai sekitar 53 hektare, meski angka tersebut masih berpotensi bertambah karena pemadaman belum sepenuhnya tuntas.
“Tapi ini kan masih melakukan pemadaman terus, belum selesai. Nanti di terakhir baru kita ketahui berapa luasnya,” kata dia.
Karakteristik lahan di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat api sulit dipadamkan secara tuntas. Sebagian besar area merupakan lahan belukar yang sudah mengering akibat kemarau panjang, bercampur dengan lapisan gambut, bahkan di beberapa titik ditemukan lapisan batu bara di bagian bawah permukaan tanah, yang membuat lahan tersebut jauh lebih mudah terbakar dan sulit dipadamkan hingga ke akarnya.
Soal dukungan helikopter water bombing, Suwarso mengungkap armada tersebut sejatinya sudah ditarik sejak empat hari lalu. Keputusan itu diambil Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah menilai kondisi karhutla di provinsi lain, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, berada dalam kondisi yang lebih parah dibanding Kalimantan Timur, sehingga prioritas pengerahan heli dialihkan ke wilayah-wilayah tersebut.
“Helikopter itu sudah pergi sejak kurang lebih empat hari yang lalu. Menurut keputusan dan penilaian dari BNPB, ada yang lebih parah kondisi kebakarannya selain di Kalimantan Timur,” jelasnya.
Meski demikian, Suwarso memastikan dirinya tetap berkomunikasi aktif dengan koordinator water bombing, termasuk mengirimkan dokumentasi visual dari titik-titik kebakaran di Samarinda yang sulit dijangkau tim darat. Harapannya, data tersebut bisa menjadi pertimbangan agar helikopter kembali digeser ke Kalimantan Timur, dengan titik pendaratan di Bandara APT Pranoto, guna membantu pemadaman di area yang selama ini tidak terjangkau Satuan Tugas Penanganan Kekeringan dan Karhutla.
Tanpa dukungan udara, proses pemadaman saat ini sepenuhnya mengandalkan kekuatan tim darat, dibantu relawan yang menjangkau titik-titik api terdalam. Salah satu metode yang diandalkan adalah sistem estafet menggunakan water tank, di mana air diambil dari sungai terdekat, disambungkan ke tangki, kemudian disalurkan menuju titik api terdekat secara bertahap.
“Masih bertumpu dengan darat, sesuai kemampuan dibantu dengan relawan yang menjangkau titik-titik api terdalam. Ada beberapa kegiatan yang akhirnya dibantu dengan water tank, diambil dari sungai yang harus disambung lagi ke water tank, baru disedot untuk menuju titik-titik api terdekat,” paparnya.
Suwarso mengakui ada sejumlah kendala besar yang dihadapi tim di lapangan. Pertama, kondisi medan yang rata-rata berada jauh di dalam kawasan dan sulit dijangkau kendaraan roda dua maupun roda empat pembawa suplai air. Kedua, terbatasnya sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk pemadaman. Ketiga, kontur medan yang sangat curam di beberapa titik. Ditambah lagi, ketiadaan bantuan water bombing membuat titik api yang berada paling dalam dan paling jauh semakin sulit dijangkau.
“Medannya rata-rata di dalam, sulit dijangkau kendaraan yang menyuplai air. Terbatasnya sumber-sumber air yang bisa digunakan. Medan sangat curam, kemudian belum ada bantuan water bombing, ini juga mengalami kendala kita dalam menjangkau titik api terdalam dan terjauh,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, tim Satuan Tugas Penanganan Karhutla Kota Samarinda disiagakan hingga pukul 16.00 WITA setiap harinya. Apabila api belum sepenuhnya padam saat jam tersebut, petugas akan terus melakukan pemantauan, dengan prioritas utama pada titik-titik yang berpotensi berdampak besar terhadap kawasan permukiman warga.
“Kita lakukan pemantauan terus-menerus dan yang kira-kira berdampak besar terhadap pemukiman, itu yang harus kita jagai,” demikian Suwarso. (Retno)