src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Gubernur Harum Rancang Wisata Malam di Sungai Mahakam, Tongkang Dilarang Melintas

Gubernur Harum Rancang Wisata Malam di Sungai Mahakam, Tongkang Dilarang Melintas

3 minutes reading
Monday, 26 May 2025 14:38 238 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud merintis langkah strategis untuk menyulap Sungai Mahakam menjadi destinasi wisata malam berkelas internasional. Dalam konsep besarnya, gubernur yang akrab disapa Gubernur Harum ini menyebut bahwa wisata malam Sungai Mahakam, pariwisata Kaltim, larangan tongkang malam hari, pengembangan ekonomi daerah, dan rekreasi susur sungai adalah kunci menggerakkan ekonomi masyarakat Samarinda dan sekitarnya.

Berbicara di Samarinda pada Minggu (26/5), Rudy menyampaikan visinya menjadikan Sungai Mahakam sebagai ikon wisata air layaknya Sungai Nil di Kairo atau sungai-sungai besar di Asia Tenggara seperti di Thailand dan Vietnam. Namun, ada satu syarat mutlak untuk mewujudkannya: tidak boleh ada aktivitas ponton, tongkang, atau pengangkutan batu bara di malam hari.

“Sungai Mahakam ini punya potensi sangat besar untuk pariwisata. Kalau malam tidak ada lewat ponton, kita bisa hidupkan Sungai Mahakam kira-kira seperti di Shanghai, Vietnam, Kamboja, Filipina, dan Thailand,” ujar Rudy.

Selama bertahun-tahun, Sungai Mahakam dikenal sebagai urat nadi perdagangan dan logistik Kalimantan Timur. Berbagai komoditas strategis seperti batu bara dan hasil hutan diangkut melalui jalur sungai ini ke berbagai penjuru. Namun, Gubernur Harum melihat potensi lain yang belum digarap optimal: Mahakam sebagai destinasi wisata air modern yang mampu menyedot kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara.

“Kalau malam waktunya Sungai Mahakam jadi tempat rekreasi. Tapi catatannya, jangan ada kapal (ponton/tongkang) pengolongan (melintasi Jembatan Mahakam),” tegas Rudy.

Ia menekankan bahwa keberadaan tongkang dan ponton pada malam hari tidak hanya mengganggu suasana wisata, tetapi juga membahayakan keselamatan dan keindahan kota.

“Kan tidak menarik saat wisatawan sedang berwisata di Sungai Mahakam, tiba-tiba ada kabar pilar jembatan ditabrak ponton lagi,” keluhnya.

Rudy mengusulkan model pengembangan wisata malam yang mencakup susur sungai, tampilan lampu-lampu kota yang menawan, pertunjukan budaya di tepi sungai, hingga pusat kuliner terapung. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan tempat hiburan baru, melainkan membentuk ekosistem ekonomi kreatif dan membuka lapangan kerja baru.

Menurutnya, wisata malam bisa menjadi penyumbang besar untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) jika digarap dengan serius. Lebih jauh lagi, keberadaan wisata ini akan memperkuat daya saing Kota Samarinda di sektor pariwisata, sekaligus mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah seperti batu bara.

“Dengan cara itu, Kaltim bisa mengumpulkan pundi-pundi pendapatan daerah dan menghidupkan perekonomian masyarakat daerah dengan semakin meningkat jumlah wisatawan, pebisnis, dan pekerja yang datang ke daerah ini,” papar Rudy.

Selain bicara pariwisata, Rudy juga menyinggung perlunya penataan lalu lintas air yang lebih rapi di Sungai Mahakam. Ia menyoroti bahaya tabrakan ponton terhadap pilar jembatan dan kerusakan lingkungan yang bisa terjadi akibat aktivitas logistik tak terkendali.

Ia menekankan bahwa pengaturan waktu operasional tongkang harus menjadi prioritas. Siang hari bisa difokuskan untuk kegiatan industri, sementara malam menjadi milik pariwisata dan masyarakat.

Tak hanya itu, Rudy juga menyarankan pengerukan sungai sebagai upaya pengurangan risiko banjir di Kota Samarinda. Langkah ini sekaligus memperlancar jalur wisata air dan mencegah sedimentasi berlebihan.

Artikel Asli baca di antaranews.com

 

Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya

LAINNYA
x