src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Kadisdikbud Kaltim (tengah) mengenakan baju Kustin khas Kutai pada acara pelantikan Komite Seni dan Budaya Nusantara Provinsi Kaltim. (Antara Kaltim/HO-Disdikbud Kaltim).HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tengah menyalakan obor semangat baru dalam pelestarian budaya lokal. Tekad itu tampak nyata dalam upaya mendorong kebudayaan daerah menuju panggung dunia, berlandaskan kolaborasi, pelibatan semua pihak, dan penguatan peran kelembagaan budaya. Kata kunci penting seperti Disdikbud Kaltim, budaya lokal, KSBN Kaltim, pelestarian budaya, promosi budaya menjadi fondasi arah kebijakan ini.
“Kami menekankan pentingnya kolaborasi yang kuat dan merangkul semua pihak demi mengharumkan budaya Kaltim di mata dunia,” kata Kepala Disdikbud Kaltim, Rahmat Ramadhan, dalam pelantikan Komite Seni dan Budaya Nusantara (KSBN) Provinsi Kaltim di Samarinda, Ahad (26/5).
Rahmat hadir mewakili Gubernur Kalimantan Timur untuk melantik pengurus baru KSBN, sebuah organisasi yang kini digadang-gadang sebagai motor penggerak pelestarian, pengembangan, dan promosi budaya lokal Bumi Etam di tengah arus modernisasi global.
Menurut Rahmat, eksistensi KSBN Kaltim diharapkan mampu membawa angin segar bagi dunia seni dan budaya di Kalimantan Timur. Organisasi ini diharapkan menjadi wadah yang bukan hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga menjadikannya relevan dengan zaman.
“Semoga amanah ini dijalankan dengan semangat gotong royong dan cinta terhadap seni budaya bangsa, khususnya budaya lokal Bumi Etam yang kita cintai,” ujarnya penuh harap.
Pelestarian budaya tak lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Kini, Rahmat menegaskan bahwa dibutuhkan sinergi berbagai elemen masyarakat: budayawan, seniman, akademisi, hingga pelaku usaha kreatif. Semua harus bergerak bersama dalam satu barisan menjaga kekayaan kultural yang ada.
Kalimantan Timur memiliki potensi budaya luar biasa yang belum sepenuhnya tereksplorasi. Suku-suku asli seperti Dayak, Kutai, Paser, dan Banjar menyimpan khazanah budaya yang unik—baik dalam bentuk bahasa, tarian, ritual adat, hingga kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Rahmat menyebutkan bahwa semua potensi ini perlu lebih digali dan diperkenalkan tidak hanya kepada masyarakat lokal, tapi juga ke tingkat nasional dan internasional. “Kaltim punya modal besar. Kita tidak boleh hanya puas pada pelestarian semata, tapi harus mampu mempromosikan secara kreatif dan inovatif,” tegasnya.
KSBN diharapkan menjadi penghubung antara akar budaya lokal dengan panggung yang lebih luas. Peran ini menjadi sangat penting, terlebih di era digital saat budaya visual dan konten kreatif menjadi jendela utama pengenalan budaya ke dunia.
“Disdikbud Kaltim berharap KSBN dapat menjadi motor penggerak berbagai inisiatif kreatif dan inovatif untuk mengangkat nilai-nilai lokal,” ucap Rahmat.
Salah satu langkah awal adalah membangun platform komunikasi lintas komunitas seni dan budaya di Kaltim. Dengan begitu, karya-karya budaya bisa lebih terstruktur dalam ekosistem yang sehat dan mendukung, mulai dari dokumentasi, promosi, hingga komersialisasi secara etis.
Lebih jauh, Rahmat menekankan bahwa budaya juga merupakan alat pemersatu. Di tengah keberagaman suku, agama, dan latar belakang sosial di Kalimantan Timur, seni dan budaya menjadi ruang netral yang memperkuat ikatan sosial.
“Perbedaan itu adalah kekuatan kita. Jika disatukan, akan menjadi energi besar untuk memajukan seni budaya Kalimantan Timur,” ucapnya.
Semangat inilah yang ingin dibawa KSBN dalam periode kerja ke depan. Organisasi ini tidak hanya bertugas mengarsipkan dan menghidupkan kembali budaya lama, tetapi juga menjadi laboratorium ide untuk karya-karya budaya baru yang berakar dari kearifan lokal.
Artikel Asli baca di antaranews.com
Berita Terkini di Ujung Jari Anda! Ikuti Saluran WhatsApp Headline Kaltim untuk selalu up-to-date dengan berita terbaru dan Temukan berita populer lainnya