src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Festival BaBaDa yang diselenggarakan Komunitas Gerobooks Berau. (Foto: Ist)WARISAN budaya Berau mulai dikenalkan kepada generasi muda melalui cerita yang penuh imajinasi dan ilustrasi. Semangat itu dibawa Komunitas Gerobooks Berau lewat Festival BaBaDa “Tumbuh dan Bertemu” pada 3-4 Oktober 2026 di Tumbuh Space. Festival ini menjadi bagian dari Program Penulisan Buku Cerita Anak Bergambar Berbasis Objek Pemajuan Kebudayaan Berau.
Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengatakan Festival BaBaDa dirancang bukan sekadar sebagai kegiatan literasi, tetapi sebagai upaya mengubah kekayaan budaya lokal menjadi karya yang dapat diperkenalkan kepada generasi muda melalui medium yang dekat dengan dunia anak.
“Cerita lokal Berau sebagian besar masih diwariskan secara lisan sehingga belum terdokumentasikan dalam kemasan yang menarik. Maka dari itu kami menginisiasi Festival BaBaDa yang mengangkat tema Objek Pemajuan Kebudayaan Berau,” ujarnya.
Menurutnya, tiga suku besar yang hidup di Berau, yakni Banua, Bajau dan Dayak, memiliki kekayaan cerita yang sangat beragam. Mulai dari adat istiadat, seni budaya, bangunan dan arsitektur khas, kuliner hingga destinasi wisata.
Berbagai kekayaan tersebut kemudian menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan cerita anak yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa nilai budaya dan kehidupan yang diwariskan masyarakat Berau.

Konsep yang diusung Festival BaBaDa adalah “Dari Warisan Budaya Menjadi Cerita Anak Bergambar”. Melalui pendekatan ini, objek pemajuan kebudayaan diterjemahkan menjadi cerita yang hangat, imajinatif dan relevan dengan kehidupan anak masa kini.
“Objek Pemajuan Kebudayaan yang ada di Berau menjadi sumber inspirasi untuk menghadirkan cerita yang hangat dan dekat dengan dunia anak, penuh imajinasi dan mengandung nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dan dilestarikan hingga saat ini,” jelasnya.
Tidak berhenti pada penciptaan buku, Gerobooks juga membangun ekosistem kreatif dengan mempertemukan penulis, ilustrator, budayawan, akademisi, guru, komunitas literasi, pemerintah daerah hingga masyarakat. Rangkaian kegiatan dimulai dari open call, kurasi peserta, lokakarya penulisan dan ilustrasi, klinik karya, hingga penerbitan buku dan puncak Festival BaBaDa.
Menariknya, festival ini menjadi kegiatan pertama Gerobooks yang berskala nasional. Peserta tidak hanya berasal dari Berau, tetapi juga dari Bali, Depok, Bandung, Jakarta, Bogor, Sangatta hingga Samarinda. “Dalam open call peserta, kami membuka peluang bagi penulis dan ilustrator dari seluruh Indonesia. Akhirnya terpilih penulis dan ilustrator dari berbagai daerah,” katanya.
Dari proses tersebut, lahir sejumlah karya yang membawa cerita dan kekayaan lokal Berau ke dalam buku anak bergambar. Di antaranya Petualangan Raya di Kota Sanggam, Si Mohan, serta Tumpi Udang si Andang.
Petualangan Raya di Kota Sanggam mengangkat delapan destinasi melalui karya delapan penulis dan delapan ilustrator. Sementara Si Mohan membawa kisah tentang kerajinan tangan dan caping atau tudung khas Pulau Besing.
Ada pula Tumpi Udang si Andang yang mengisahkan kemandirian seorang anak dalam mengikuti perlombaan kuliner di Kampung Radak sekaligus memperkenalkan kreativitas dalam mengolah makanan khas daerah.
Bagi Gerobooks, kehadiran karya-karya tersebut sekaligus menjadi ruang munculnya penulis dan ilustrator baru dari Berau. “Festival kali ini sekaligus menandai kemunculan penulis dan ilustrator baru dari Berau,” ungkapnya.
Antusiasme terhadap kegiatan tersebut juga terlihat dari keterlibatan sekitar 200 peserta yang berasal dari 60 sekolah se-Kabupaten Berau, terdiri dari 40 TK dan 20 SD. Setiap sekolah mengirimkan satu guru, satu murid dan satu wali murid.
Festival juga melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Berau, Pemandu Keraton Sambaliung, Museum Batiwakkal dan Museum Siraja.
Rangkaian puncak festival turut diisi peluncuran buku, dongeng interaktif, diskusi karya, pameran ilustrasi, lokakarya kreatif untuk anak dan keluarga, hingga pertunjukan seni tradisi tari Dalling dari Sanggar Tari Pagtipunan.
Risna menilai pendekatan kreatif seperti ini penting untuk menjawab tantangan literasi di tengah kuatnya pengaruh teknologi dan penggunaan gawai di kalangan generasi muda. Minat baca generasi muda Berau masih perlu ditingkatkan dan terus diupayakan dengan aktivitas literasi yang menyenangkan dan bermakna.
“Pengaruh teknologi dan penggunaan gadget memang tidak terelakkan, namun kita bisa mengimbanginya dengan mulai mengenalkan kegiatan yang merangsang kreativitas anak,” tuturnya.
Ia menyebut, berdasarkan data Perpustakaan Nasional RI mengenai Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Kalimantan Timur pada 2025, Berau berada pada urutan keenam dengan skor 57,65. Karena itu, Gerobooks berharap Festival BaBaDa dapat menjadi salah satu langkah nyata untuk memperkuat budaya literasi sekaligus memperluas dokumentasi budaya Berau.
Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada lahirnya buku. Gerobooks ingin karya tersebut membuka peluang bagi tumbuhnya ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan penulis, ilustrator, editor, seniman dan pelaku industri kreatif daerah.
“Harapannya, dokumentasi Objek Pemajuan Kebudayaan Kabupaten Berau bertambah dalam bentuk karya buku cerita anak bergambar yang mudah diakses pelajar dan masyarakat. Sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi penulis, ilustrator, editor, seniman dan industri kreatif di Berau,” demikian Risna. (Riska)