src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Pesona wisata Pulau Besing. (Riska/headlinekaltim.co)WISATA Pulau Besing kini semakin populer. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan sejumlah wisatawan baik dari mancanegara maupun lokal. Mereka dapat melihat langsung pesona hewan endemik Kalimantan yaitu Bekantan.
Pulau Besing merupakan salah satu kampung di Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan dari Kota Tanjung Redeb. Kampung ini dikelilingi sungai dan merupakan habitat alami dari ratusan Bekantan.
Bekantan adalah primata endemik Kalimantan yang unik dengan hidung panjang. Hewan ini memiliki warna bulu kemerahan dengan bagian bawah tubuh yang lebih pucat. Mereka aktif pada siang dan sore hari, serta menghabiskan waktu mencari makan di pohon. Makanan utamanya adalah daun muda, buah-buahan, dan biji-bijian.
Bekantan dikenal memiliki perilaku sosial yang kompleks sehingga membuat hewan ini semakin menarik. Primata unik ini dapat ditemukan di hutan mangrove dan hutan rawa di Kalimantan sehingga habitat Bekantan sangat penting untuk dilindungi. Selain itu, Pulau Besing juga merupakan habitat bagi kalong atau kelelawar besar dengan jumlah sekitar ratusan ribu ekor. Hewan ini mulai beraktivitas dan beterbangan saat senja tiba.
Wisatawan yang datang juga dapat menikmati kuliner khas serta kearifan lokal di Pulau Besing. Wisata Pulau Besing ini menjadi pilihan destinasi istimewa yang menawarkan keindahan alam lebih dekat dan pengalaman unik tak terlupakan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bakiau Pulau Besing, Apriyanto menyampaikan, untuk sementara ada dua paket wisata yang ditawarkan. Paket pertama meeting point-nya di Dermaga Pulau Besing sebesar Rp600.000. Paket kedua meeting point-nya di Dermaga Rajjanta, Tanjung Redeb harganya Rp1,5 juta. Kapasitas dari kedua paket tersebut untuk 8 orang, termasuk dengan welcome drink, life jacket, guide, teropong, dan motoris.
“Harganya masih tetap karena kami belum ada membuat harga khusus untuk wisatawan asing dan lokal,” jelasnya.
Wisata Pulau Besing ini kebanyakan melayani tamu dari mancanegara seperti dari Belanda, Swiss, Jerman, Jepang, Australia, India dan lainnya. Apalagi saat musim libur, pihaknya melakukan susur sungai ini seminggu bisa sampai dua atau tiga kali. “Biasanya tamu kami kebanyakan wisatawan asing,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Pokdarwis Bakiau ini berada di bawah naungan Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Pulau Besing. Mereka bekerja sama mengelola wisata susur sungai termasuk perahu dan lainnya. “Kami bagian unit dari BUMK,” ucapnya.
Beberapa bulan yang lalu Pokdarwis Bakiau mengajukan proposal ke Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim terkait bantuan sarana dan prasarana serta peningkatan kapasitas untuk pengurus Pokdarwis sendiri.
Menurutnya, di Kampung Pulau Besing ini anggotanya banyak, karena kebanyakan anak muda jadi masih harus dikembangkan kapasitasnya. “Terutama untuk speaking dan interaksinya dengan tamu-tamu yang datang,” tuturnya.
Apriyanto berharap agar tahun depan dinas-dinas terkait bisa membantu sarana prasarana, pembinaan, serta peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang merupakan warga lokal. Kata dia, untuk saat ini SDM terbilang cukup, namun yang siap mengakomodir memang terhitung jumlah keaktifannya.
“Kami juga terus melakukan perbaikan ke depannya agar Wisata Pulang Besing semakin populer dan dikenal banyak orang,” ucapnya.
Sebagai bentuk komitmen dalam mendukung promosi pariwisata dan budaya lokal, Mercure Berau mengajak influencer (pemengaruh), fotografer, Duta Budaya Kaltim, Putri Pariwisata Berau dan rekan-rekan media untuk mengikuti kegiatan Familiarization Trip (Fam Trip) ke destinasi wisata di Pulau Besing pada 13 Desember 2025 lalu.
Executive Secretary & Marcomm Mercure Berau, Fransiska Prihandini menyampaikan, pihaknya tertarik untuk melakukan Fam Trip ke Pulau Besing, salah satu kawasan yang menyimpan kekayaan alam dan kearifan lokal Kabupaten Berau.
Kegiatan ini dirancang sebagai perjalanan eksplorasi singkat yang memberikan pengalaman autentik, mulai dari proses kehidupan masyarakat setempat hingga keindahan alam saat matahari terbenam.
“Fam Trip dimulai dengan titik kumpul di Lobby Lounge Mercure Berau, dilanjutkan dengan perjalanan menuju Pulau Besing,” ucapnya.
Saat tiba di lokasi, peserta disambut pemandu lokal. Kemudian diajak menyaksikan dan mencoba proses pembuatan atap dari daun Nipah. Ini sebuah tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Pulau Besing. Perjalanan kemudian berlanjut dengan menikmati panorama sunset alami yang unik, ditemani pemandangan bekantan dan kelelawar di habitat alaminya.
Setelah rangkaian eksplorasi Pulau Besing selesai, rombongan kembali ke Mercure Berau dan ditutup dengan makan malam bersama di Le 360. Outlet terbaru Mercure Berau yang menawarkan pengalaman bersantap dengan suasana modern dan pemandangan kota.
Melalui kegiatan Fam Trip ini, Mercure Berau berharap dapat memperluas eksposur destinasi wisata lokal Berau. “Sekaligus mempererat hubungan dengan media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan cerita positif tentang pariwisata, budaya, dan pengalaman menginap di Berau,” tutupnya. (Riska)