HEADLINEKALTIM.CO, SENDAWAR – Budidaya ikan nila masih menjadi sumber penghasilan yang terus dikembangkan Kelompok Nila Berjaya di Sendawar, Kabupaten Kutai Barat. Meski dihadapkan pada tantangan berupa kualitas air yang tidak stabil, tingginya angka kematian benih, hingga kenaikan harga pakan, kelompok pembudidaya ini tetap berupaya menjaga produktivitas melalui perbaikan pengelolaan budidaya.
Dilansir dari Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Barat, Kelompok Nila Berjaya mulai mengembangkan budidaya ikan nila sekitar 2022 hingga 2023. Awalnya, kelompok hanya memiliki empat keramba berukuran kecil sebelum secara bertahap menambah jumlahnya dan memfokuskan usaha pada komoditas ikan nila serta ikan mas.
Sebelum menjadikan ikan nila sebagai komoditas utama, kelompok tersebut juga pernah membudidayakan sejumlah ikan air tawar lain seperti baong, jelawat, serta haruan atau gabus. Namun, setelah mempertimbangkan peluang pasar dan nilai ekonomi, ikan nila dipilih sebagai komoditas yang dinilai lebih menjanjikan.
Dalam menjalankan budidaya ikan nila, persoalan terbesar yang dihadapi kelompok adalah perubahan kualitas air yang terjadi secara tiba-tiba. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap tingkat kelangsungan hidup benih, terutama pada masa awal pemeliharaan.
Berdasarkan pengalaman para pembudidaya, fase satu hingga dua bulan setelah benih ditebar menjadi periode paling krusial. Pada masa tersebut, tingkat kematian benih bahkan dapat mencapai sekitar 80 persen akibat kondisi air yang kurang stabil.
“Kendala terbesar ada di kualitas air. Kalau kondisi air berubah, benih banyak yang tidak bertahan.”
Setelah melewati usia lebih dari tiga bulan, ikan cenderung memiliki daya tahan yang lebih baik sehingga angka kematiannya menurun secara signifikan. Kelompok juga menyebut penyakit bukan menjadi persoalan utama karena kasusnya relatif jarang ditemukan selama proses pemeliharaan.
Untuk mendukung keberlangsungan budidaya ikan nila, Kelompok Nila Berjaya memperoleh bantuan dari pemerintah berupa pasokan yang digunakan untuk menunjang kegiatan produksi. Bantuan tersebut dinilai membantu pembudidaya memenuhi kebutuhan usaha, meski keberhasilannya tetap sangat bergantung pada pengelolaan kualitas air.
Kelompok menilai perhatian terhadap pengelolaan lingkungan budidaya perlu terus ditingkatkan agar bantuan yang diberikan mampu memberikan hasil maksimal dan tidak berujung pada kerugian akibat tingginya kematian benih.
Selain menghadapi persoalan teknis, pembudidaya juga merasakan dampak kenaikan harga pakan. Harga pakan yang sebelumnya berada di kisaran Rp430 ribu kini meningkat menjadi sekitar Rp445 ribu sehingga biaya produksi ikut bertambah.
Untuk menjaga keberlangsungan usaha, kelompok memilih memasarkan hasil panen melalui penampung yang kemudian mendistribusikan ikan ke pasar. Cara tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan menjual hasil panen secara langsung.
Kelompok berharap kenaikan biaya produksi dapat diimbangi dengan penyesuaian harga jual ikan sehingga keuntungan para pembudidaya tetap terjaga.
Saat ini Kelompok Nila Berjaya memiliki sekitar 10 anggota aktif. Meski sempat mengalami perubahan kepengurusan dan sebagian anggota berpindah lokasi, kegiatan budidaya ikan nila tetap berjalan.
Ke depan, kelompok menilai pengelolaan kualitas air menjadi faktor paling menentukan keberhasilan usaha. Dengan kondisi lingkungan budidaya yang lebih baik, tingkat kematian benih diharapkan dapat ditekan sehingga produktivitas budidaya ikan nila terus meningkat di tengah tantangan kenaikan harga pakan dan perubahan kondisi lingkungan.