src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Kukar Miliki 40 Poktan Milenial, Distanak Ajak Anak Muda Bertani

Kukar Miliki 40 Poktan Milenial, Distanak Ajak Anak Muda Bertani

2 minutes reading
Thursday, 30 Dec 2021 21:39 232 Muhammad Yamin

HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG- Pertanian di Kabupaten Kukar semakin bergeliat. Ini terlihat para kelompok pertanian milenial, yang terus bertambah sudah mencapai 40 poktan (kelompok tani).

Pemerintah pun optimistis, jumlah petani milenial di Kukar bisa menembus 200 poktan dalam lima tahun ke depan.

“Target kita 200 Poktan milenial selama periode kepemimpinan Bupati Edi dan Wabup Rendi, ” jelas Kadis Pertanian dan Peternakan (Distannak) Kukar, Sutikno, Rabu 29 Desember 2021.

Sutikno merasa optimis, target capaian poktan milenial akan terwujud, karena untuk tahun ini saja sudah terbentuk 40 poktan milenial.

“Insya Allah, target kami akan tercapai, ” ucapnya.

Sutikno berani menarget 400 poktan dari generasi milenial, karena Pemkab Kukar memberikan perhatian lebih kepada anak muda yang terjun ke sektor pertanian dengan sejumlah bantuan-bantuan.

“Pesan Bupati, agar petani milenial difasilitasi secara penuh, berupa alsintan yang modern,” ucapnya lagi.

Sutikno membandingkan, dulu mengajak anak muda untuk bertani sangat sulit, karena identik dengan kotor lumpur. Saat ini, pertanian sudah modern dengan mekanisasi mesin, sehingga bertani lebih mudah dan bangga, karena dioperasikan melalui alsintan modern.

“Ayo anak muda, jangan malu jadi petani, ” sebutnya lagi.

Untuk sebaran Poktan milenial, tersebar dibeberapa kecamatan. Ada di Loa Kulu, Tenggarong, Muara Jawa, Samboja, Loa Janan dan Sebulu.

“Karena sudah ada buktinya, petani milenial sukses, dan difasilitasi alsintan oleh Pemkab Kukar, maka akan banyak poktan milenial yang tumbuh di Kukar, ” ucapnya.

Salah satu petani milenial Tenggarong, Ridho Mahathir bercerita, awal tergiur bertani, dari tahun 2017. Ia pun awalnya tidak mengerti ilmu pertanian, namun sering diskusi pertanian bersama teman-temannya. Dan tukar ilmu tersebut termasuk usaha tani pertanian, baru muncul keinginan untuk bertani.

Lahan pertama kali bertani, sebut pemuda 24 tahun tersebut, meminjam dengan keluarga yang luasnya 1 hektare di Desa Bendang Raya Tenggarong. Ridho membuka lahan seluas 15 x 10 meter dan mulai menanam 150 pohon cabai.

Pada panen pertama, harga cabai yang ditanam Ridho sedang tinggi tembus Rp 100 ribu per kilogramnya.

“Lumayan keuntungannya tembus Rp 6 juta, padahal modalnya hanya benih dan perawatan secukupnya saja,” tuturnya.

Melihat potensi pasarnya yang menjanjikan, Dirinya bersama ketiga temannya, menggarap lahan seluas 1 hektare lagi. Tanaman yang mereka pelihara bervariasi, disesuaikan siklus tanam dan permintaan pasar.

Kebanyakan tanaman yang ditanam Ridho dan kawannya seperti sawi, tomat, kubis dan cabai. Hasilnya cukup besar keuntungan yang diperoleh. Setiap panen, keuntungan bisa mencapai 10 ton dengan pendapatan menyentuh Rp 60 juta.

“Saat panen kami jual ke Tenggarong, Samarinda, Balikpapan, Bontang, hingga Banjarmasin dan Palu, ” tuturnya.

Penulis: Andri

banner pemkab berau baru
LAINNYA
x