src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Plt Kepala SMAN 3 Loa Kulu, Neny Prastuty Handayani.(sumber : Andri/Headlinekaltim)
HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG – Di balik dedikasinya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 3 Loa Kulu, tersimpan perjalanan panjang penuh perjuangan yang dilalui Neny Prastuty selama mengabdi sebagai pendidik di wilayah pedalaman Kalimantan Timur.
Bagi Neny Prastuty, medan berat, keterbatasan fasilitas, hingga akses transportasi yang sulit bukanlah hal baru. Jauh sebelum memimpin SMAN 3 Loa Kulu, dia telah merasakan kerasnya kehidupan sebagai guru di kawasan Hulu Mahakam.
Karirnya sebagai aparatur sipil negara dimulai saat mendapat penugasan di SMPN 1 Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Meski hanya sekitar satu tahun bertugas, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam, termasuk harus hidup terpisah dari sang suami yang ketika itu mengajar di SMPN 1 Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat.
Menurut Neny Prastuty, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi saat itu adalah keterbatasan air bersih. “Tantangannya, air bersih mengalir susah, jadi kami harus hemat air. Kasihan juga anak-anak kalau sering ambil air ke sungai, karena jarak sekolah dengan pinggir sungai terlalu jauh,” kenangnya.
Usai bertugas di Kutai Timur, perempuan ini mengikuti sang suami ke Muara Pahu. Namun, ia tidak mengajar di sekolah yang sama dengan suaminya. Sebaliknya, Neny Prastuty dipercaya mengajar di SD Terbuka Muara Pahu yang hanya dapat dijangkau menggunakan perahu.
Saat itu, perjalanan menuju sekolah harus ditempuh melalui jalur sungai. Kondisi listrik yang terbatas menjadi tantangan lain yang harus dihadapi setiap hari. Setiap kali berangkat mengajar menggunakan perahu, bibirnya tak henti komat-kamit merapal doa. Kekhawatiran akan kecelakaan di sungai sudah jadi ‘sport’ jantung. Rutin.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, ada satu kenangan yang hingga kini masih membekas di ingatannya. Saat generator listrik desa mengalami kerusakan hingga satu bulan, es batu menjadi barang mewah yang sangat dinantikan masyarakat.
“Es batu jadi hadiah luar biasa dan istimewa saat musim panas, bikin es bersama-sama, padahal es batu yang saya bawa es batu kotak balokan dulu,” kenang Neny.
Selain itu, pengalaman mengajar di Kutai Barat juga memperlihatkan kuatnya budaya gotong royong masyarakat setempat. Sebagian besar warga yang berprofesi sebagai nelayan sungai dan merupakan orang tua siswa kerap memberikan hasil tangkapan mereka kepada para guru.
“Silahkan ambil saja ikan dan udang tidak usah beli, karena kami terima kasih, anak kami diajarkan ilmu di sekolahan ibu,” kenangnya.
Selama empat tahun mengajar di Muara Pahu, Neny Prastuty dan suaminya akhirnya memutuskan pindah ke Kabupaten Kutai Kartanegara. Faktor kesehatan anak menjadi pertimbangan utama.
Akses layanan kesehatan yang terbatas membuat keluarga kecil mereka harus mengambil keputusan besar untuk berpindah tugas. “Anak saya sering sakit, sedangkan kedatangan dokter ke Desa Muara Pahu, dua bulan hanya satu kali kunjungan. Selain itu, mengajar dengan menggunakan perahu penuh dengan kekhawatiran,” ujarnya.
Karir Neny Prastuty kemudian berlanjut di SMPN 1 Kota Bangun. Setelah hampir 15 tahun mengajar di tingkat SMP, ia melanjutkan pengabdian di jenjang SMA. Sekolah pertama yang menjadi tempat mengajarnya adalah SMAN 1 Tenggarong sebelum kemudian bertugas di SMKN 1 Tenggarong.
Kini, dia dipercaya memimpin SMAN 3 Loa Kulu sebagai Plt Kepala Sekolah. Sekolah yang berlokasi di Desa Sungai Payang tersebut baru resmi berdiri pada 2024 setelah sebelumnya berstatus sekolah filial dari SMAN 2 Loa Kulu.
Setiap hari, Neny Prastuty harus menempuh perjalanan lebih dari satu jam dari Tenggarong menuju sekolah. Saat musim hujan, kondisi jalan yang masih didominasi pasir dan batu membuat perjalanan menjadi jauh lebih berisiko.
Bahkan, demi keselamatan siswa, pihak sekolah kerap memulangkan peserta didik lebih awal ketika cuaca mendung dan berpotensi hujan deras.
“Makanya semua guru yang bertugas disini, sudah pernah alami kecelakaan tunggal jatuh dari motor karena licin,” ungkapnya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Neny Prastuty melihat potensi besar di sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, banyak “berlian tersembunyi” yang dimiliki para siswa SMAN 3 Loa Kulu.
Semangat para guru yang datang dari Samarinda dan Tenggarong juga menjadi energi positif bagi perkembangan sekolah. Mereka tetap mengajar dengan penuh keikhlasan meski harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap hari.
Bagi dia, pengalaman mengajar di Muara Bengkal dan Muara Pahu membuat tantangan yang dihadapi saat ini terasa jauh lebih ringan.
“Makanya kata suami saya, ini masih mending cuma jalan, coba dulu di Kubar, kemana-mana harus naik perahu,” jelasnya.
Sebagai sekolah yang masih tergolong baru, SMAN 3 Loa Kulu masih membutuhkan berbagai pembenahan, terutama pada aspek sarana dan prasarana pendidikan. Saat ini sekolah tersebut menampung sekitar 150 siswa dan masih memerlukan tambahan ruang belajar untuk menunjang proses pembelajaran.
Namun bagi Neny Prastuty, yang paling penting adalah memastikan anak-anak tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan setelah lulus SMP dan tidak putus sekolah karena keterbatasan akses.
“Yang penting siswa mau lanjut bersekolah setelah SMP, untuk cegah putus sekolah. Kita harus berkorban demi pendidikan masyarakat,” pungkasnya. (Andri**)