src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Museum Kota Tua, Kecamatan Teluk Bayur. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau memastikan pengembangan Museum Kota Tua di Kecamatan Teluk Bayur tidak dilakukan secara asal. Alih-alih hanya menjadi tempat memajang benda-benda bersejarah, museum tersebut akan dirancang sesuai standar kemuseuman dengan konsep, tata letak, hingga sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan pihaknya memperoleh banyak masukan dari tim verifikasi yang salah satunya merupakan ahli geologi sekaligus memiliki pemahaman di bidang kemuseuman. Dari hasil diskusi tersebut, Disbudpar menyadari bahwa pembangunan museum harus diawali dengan penyusunan konsep yang matang.
Menurutnya, langkah pertama yang akan dilakukan adalah menggandeng konsultan atau pihak ketiga untuk menyusun kajian tata letak museum. Kajian tersebut akan disesuaikan dengan visi dan misi museum sehingga setiap koleksi memiliki penempatan dan alur cerita yang jelas.
“Kalau asal menaruh barang, itu bukan museum namanya, tetapi hanya galeri koleksi. Museum memiliki standar tersendiri, mulai dari konsep, penataan koleksi, hingga narasi yang ingin disampaikan kepada pengunjung,” ujarnya.
Yudha menjelaskan, visi dan misi museum menjadi dasar dalam menentukan tema, jenis koleksi yang ditampilkan, serta penyusunan ruang pamer. Oleh karena itu, keterlibatan akademisi dan tenaga ahli dinilai penting agar Museum Kota Tua Berau memiliki identitas yang kuat dan mampu memberikan pengalaman edukatif bagi masyarakat.
Selain penataan koleksi, Disbudpar Berau juga menaruh perhatian pada aspek pengelolaan museum. Ia menegaskan bahwa museum membutuhkan pengelola yang memahami ilmu kemuseuman, termasuk kemampuan menjadi pemandu yang mampu menjelaskan sejarah dan nilai dari setiap koleksi kepada pengunjung.
“Pengelola museum tidak bisa sembarangan. Mereka harus memiliki pengetahuan khusus karena nantinya menjadi guide yang menjelaskan isi museum kepada masyarakat,” ucapnya.
Disbudpar berharap Museum Kota Tua Berau nantinya tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga pusat edukasi dan pelestarian warisan budaya yang mampu memperkuat identitas daerah.
Terkait kebutuhan SDM, Yudha menyebut tidak harus merekrut tenaga baru. Disbudpar membuka peluang bagi masyarakat, termasuk anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), untuk terlibat sepanjang memiliki minat dan bersedia mengikuti pelatihan maupun sertifikasi di bidang kemuseuman.
“Pokdarwis tentu bisa diberdayakan, tetapi mereka perlu dibekali kompetensi khusus. Kami akan menyiapkan pembekalan, bimbingan teknis hingga sertifikasi agar pengelola museum benar-benar memahami bidang seni, budaya, dan kemuseuman,” pungkasnya. (Riska)