src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Komisi III DPRD Kaltim bersama jajaran RSUD Abdoel Wahab Sjahranie meninjau kesiapan Gedung Pandurata yang ditargetkan mulai beroperasi awal 2027, Senin (20/7/2026). (Foto: Retno/Headlinekaltim.co)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA – Gedung Pandurata RSUD Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda segera difungsikan sebagai fasilitas perawatan baru. Bangunan yang telah rampung secara fisik tersebut masih membutuhkan penyempurnaan sejumlah fasilitas pendukung sebelum mulai melayani pasien pada awal 2027.
Kehadiran gedung baru ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan kapasitas perawatan di rumah sakit rujukan terbesar di Kalimantan Timur tersebut. Selama ini, tingginya jumlah pasien membuat kebutuhan ruang rawat terus meningkat, termasuk kepadatan layanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Kesiapan pengoperasian Gedung Pandurata menjadi perhatian Komisi III DPRD Kaltim saat melakukan kunjungan kerja ke RSUD AWS, Senin 20 Juli 2026. Dalam kunjungan tersebut, jajaran legislatif memastikan progres pembangunan sekaligus meminta kepastian waktu pemanfaatan gedung bagi masyarakat.
Ketua Komisi III DPRD Kaltim, Abdulloh, mengatakan, pembangunan gedung perawatan tersebut perlu segera ditindaklanjuti agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat. Selain melihat kondisi fisik bangunan, ia juga memastikan kapan gedung tersebut benar-benar bisa digunakan.
“Kami ingin memastikan tindak lanjut pembangunan gedung perawatan ini, terutama kapan bisa dipergunakan dan dioperasikan untuk masyarakat,” ujar Abdulloh.
Selain kesiapan gedung utama, Komisi III juga menyoroti sejumlah fasilitas pendukung yang masih perlu diperhatikan sebelum operasional berjalan. Salah satunya terkait ketersediaan area parkir yang dinilai masih terbatas seiring bertambahnya aktivitas pelayanan rumah sakit ke depan.
Abdulloh menyebut, pemerintah telah menyiapkan rencana pengembangan lahan untuk mendukung kebutuhan kawasan rumah sakit. Lahan tersebut nantinya akan dimanfaatkan untuk memperluas area pendukung, termasuk kebutuhan parkir.
“Ada rencana pengembangan lahan dari Kementerian Kesehatan dengan luas sekitar 5.336 meter persegi untuk ekspansi ke depan,” ungkapnya.
Tidak hanya parkir, akses jalan menuju rumah sakit juga menjadi perhatian. Menurut Abdulloh, kualitas infrastruktur jalan memiliki peran penting dalam menunjang keselamatan pasien, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan cepat dalam kondisi darurat.
“Jalan lingkungan juga menjadi perhatian karena bagaimana pasien bisa sampai ke rumah sakit dengan selamat. Itu bagian dari pelayanan yang harus diperhatikan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menyampaikan secara umum kondisi Gedung Pandurata sudah siap digunakan. Namun, masih terdapat beberapa bagian yang membutuhkan penyempurnaan sebelum pelayanan dimulai.
Perbaikan tersebut, kata dia, bersifat ringan dan tidak menghambat rencana operasional. Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk pemenuhan kebutuhan alat kesehatan serta interior gedung melalui dukungan Dinas Kesehatan dan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) rumah sakit.
“Yang perlu diperbaiki sifatnya kecil, tidak besar. Dinas Kesehatan sudah menyiapkan anggaran untuk alat kesehatan, sementara interior juga didukung dari BLUD rumah sakit,” jelasnya.
Untuk kebutuhan alat kesehatan, Jaya menyebut estimasi anggaran secara keseluruhan mencapai sekitar Rp250 miliar. Namun, pemerintah baru mengalokasikan Rp100 miliar pada tahun ini, sehingga pemenuhannya akan dilakukan secara bertahap menyesuaikan tahapan pengoperasian gedung.
Ia menyebut, operasional Gedung Pandurata tidak akan langsung berjalan penuh untuk seluruh bagian gedung. Pemanfaatan akan dilakukan secara bertahap agar pelayanan dapat segera berjalan tanpa harus menunggu seluruh kebutuhan fasilitas terpenuhi.
“Pengoperasiannya nanti bertahap, dari bagian pertama, kedua, sampai keseluruhan. Kalau menunggu semuanya lengkap tentu membutuhkan waktu lebih lama, sementara kebutuhan masyarakat terhadap ruang perawatan sangat tinggi,” tambahnya.
Percepatan operasional Gedung Pandurata menjadi langkah penting untuk mengurangi tekanan layanan di RSUD AWS. Dengan tambahan kapasitas ruang perawatan, masyarakat diharapkan tidak lagi menghadapi keterbatasan tempat tidur saat membutuhkan pelayanan kesehatan. “Akhirnya kita buat di sini lebih banyak lagi, sehingga masyarakat tidak perlu lagi khawatir kurang tempat tidur dan sebagainya. Makanya kita lakukan percepatan untuk operasional gedung Pandurata,” tandas Jaya. (Retno)