src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Ngobrol santai bersama antara BPJS Kesehatan Samarinda dengan wartawan Kukar.(Sumber : Andri Headlinekaltim)HEADLINEKALTIM.CO, TENGGARONG– BPJS Kesehatan Cabang Samarinda mengadakan acara mengobrol santai bersama wartawan di Tenggarong, Kukar, Selasa 18 Agustus 2026, bertempat di kedai Mbah Sumirah Timbau. Kabag Sumber Daya Manusia Umum dan Komunikasi (SDMUK) BPJS Samarinda, Samiaji menyebut, menjalin silaturahmi dan komunikasi bersama penggiat pers bertujuan untuk mengakselerasi pemberitaan terkait kinerja yang dilakukan lembaganya. “Tantangan kami adalah pemberitaan hoaks atau disinformasi di media sosial,” ucap Samiaji yang pernah bertugas di Kantor BPJS Kesehatan Banjarmasin ini.
Samiaji menyebut, wartawan bertugas menyajikan informasi secara lengkap. Informasi yang lengkap akan membuat pembacanya cerdas karena mendapatkan informasi secara utuh. “Makanya, jalinan kemitraan dengan teman-teman pers sangat penting bagi kami,” katanya.
Saat ini, lembaga non kementerian tersebut telah membuka berbagai kanal pembayaran untuk memudahkan masyarakat dengan bekerja sama berbagai mitra kerja. “Saat ini pembayaran serba digital yang memudahkan masyarakat, terutama bagi Gen-Z,” sebutnya.
Samiaji menekankan bahwa mendaftar kepesertaan BPJS tidak dipungut biaya. Sedangkan pembiayaan iuran kepesertaan ada yang ditanggung pemerintah pusat, daerah, perusahaan dan peserta secara mandiri. “Bahkan, saat ini bisa lakukan pendaftaran secara online,” ucapnya.
Dari segi layanan kesehatan, peserta tetap mendapatkan hak yang sama. Setiap peserta BPJS Kesehatan tetap akan mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang sudah bermitra dengan BPJS. Bahkan penyakit berat tetap dilayani menyesuaikan ketentuan yang berlaku. “Tergantung konteksnya di lapangan. Ada yang di rumah sakit tidak diterima saat masuk IGD, sedangkan yang lain menerima dengan baik. Penentu layak dan tidak layaknya dirawat di IGD adalah dokter yang bertugas,” jelasnya.
Wartawan Samarinda Pos, Wahidin Noor meluruskan bahwa informasi yang tidak berimbang biasanya berasal dari akun media sosial. “Sedangkan tahapan pemberitaan yang kami lakukan memakai prinsip berimbang dan dikoreksi di tingkat redaksi. Berita yang dibuat tidak langsung tayang, tapi diperiksa dulu pihak editor,” terangnya.(Andri)