src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Herdiansyah Hamzah. (sumber: voaindonesia.com)HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA–Terpilihnya Prof Dr Rudianto Amirta sebagai Rektor Universitas Mulawarman masih menyisakan polemik. Ormas lokal Kaltim menggelar aksi di depan gerbang kampus Unmul dan menyoal transparansi pemilihan.
Dosen Fakultas Hukum Herdianyah Hamzah menegaskan posisinya soal kritiknya terhadap mekanisme pemilihan Rektor, khususnya porsi 35 persen hak suara Menteri. Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan cara kekuasaan mengontrol dan mengendalikan kampus.
“Logikanya sederhana, tidak ada makan siang gratis. Suara 35 persen itu akan ditukar dengan kepatuhan pada kekuasaan,” kata pria yang akrab disapa Castro, Kamis 1 Oktober 2026.
Castro menyebut sikapnya konsisten sejak lama. Ia mengaku telah menyampaikan kritik serupa melalui sejumlah tulisan di media nasional dan lokal.
Di lain sisi, dia juga mengecam aksi organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menduduki kampus dan memaksa kampus ditutup. Ia menilai tindakan itu keliru. “Ini bentuk premanisme yang jangan sampai dinormalisasi. Tidak boleh kita biarkan. Yang masih punya nalar sehat harus bersuara. Jangan diam,” tegasnya.
Ia berbeda dengan pihak-pihak yang baru bersuara setelah calon yang mereka dukung kalah. Menurut dia, kritik semacam itu cenderung selektif karena tidak muncul saat calon mereka menang. “Sampai kapan pun saya akan konsisten mengkritik soal ini, terlepas siapa pun calon dan pemenangnya,” ujarnya. (RETNO)