src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
[8/17/2026 10:41 PM] Riska Berau: [ 4 photos ]Lokakarya penulisan buku cerita anak bergambar berbasis objek pemajuan kebudayaan Berau di Milkway Coffee, Jalan Mangga 3, Tanjung Redeb. (Foto: Ist/Gerobooks Berau)KEKAYAAN budaya Kabupaten Berau tak hanya perlu dilestarikan melalui pertunjukan dan tradisi, tetapi juga dihadirkan dalam cerita yang dekat dengan dunia anak. Gagasan inilah yang mendorong Komunitas Gerobooks Berau menggelar Lokakarya penulisan buku cerita anak bergambar berbasis objek pemajuan kebudayaan Berau pada 15-16 Agustus 2026.
Ketua Komunitas Gerobooks Berau, Risna Herjayanti, mengatakan kegiatan ini dirancang sebagai gerakan literasi budaya yang menjadikan kekayaan lokal Berau sebagai sumber inspirasi bagi karya sastra anak. Menurutnya, Berau memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Selain dihuni tiga suku asli, yakni Banua, Bajau, dan Dayak, Berau juga memiliki beragam tradisi, kesenian, kuliner, hingga situs sejarah yang menjadi identitas daerah.
“Kekayaan tersebut menjadi sumber inspirasi kami untuk membangun karakter, kreativitas, dan jati diri generasi masa depan, khususnya di Kabupaten Berau,” jelasnya
Ia menyebut sejumlah kekayaan budaya Berau yang dapat diangkat menjadi cerita anak, mulai dari Museum Batiwakkal dan Keraton Sambaliung, tari Dalling, Jappin dan tari Dayak, hingga kuliner khas seperti Ancur Paddas, Kue Sarang Semut dan Kue Talinga Sagayi. Begitu pula dengan tradisi seperti Pesta Adat Meja Panjang di Kampung Merasa, Pesta Mak Jamu di Tanjung Batu serta lomba Perahu Panjang di tepian Sungai Segah.
Namun, Risna menilai kekayaan tersebut belum banyak terdokumentasikan dalam bentuk buku, khususnya buku cerita anak bergambar yang mudah diakses dan menarik bagi anak-anak. “Cerita lokal Berau sebagian besar masih diwariskan secara lisan sehingga belum terdokumentasikan dalam kemasan yang menarik. Kalau khusus buku cerita anak bergambar, yang beredar di sekolah maupun perpustakaan TBM masih hitungan jari,” katanya.
Di tengah semakin masifnya penggunaan gawai dan paparan budaya populer, keberadaan buku berbasis budaya lokal dinilai semakin penting. Anak-anak diharapkan tidak hanya menjadi konsumen budaya dari luar, tetapi juga mengenal budaya yang tumbuh di lingkungan mereka sendiri. Karena itu, program ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan buku, tetapi juga membangun ekosistem kreatif dengan mempertemukan penulis, ilustrator, budayawan, akademisi, guru, komunitas literasi, pemerintah daerah dan masyarakat.
“Konsep utama program ini adalah ‘Dari Warisan Budaya Menjadi Cerita Anak Bergambar’. Jadi OPK yang ada di Berau kami jadikan sumber inspirasi untuk menghadirkan cerita yang hangat, dekat dengan dunia anak, penuh imajinasi, tetapi tetap membawa nilai-nilai budaya,” ungkapnya.
Dalam program tersebut, peserta mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari eksplorasi budaya, penyusunan ide cerita, penulisan naskah, pengembangan karakter, pembuatan ilustrasi, penyuntingan, desain buku hingga penerbitan. Peserta juga mendapatkan pendampingan melalui lokakarya dan klinik karya bersama mentor penulisan, ilustrasi, editor dan budayawan.
Risna mengatakan program tersebut juga merupakan bagian dari perjalanan Gerobooks Berau yang selama sekitar dua tahun terakhir aktif menghadirkan kegiatan literasi dan seni untuk anak. Mulai dari Book Party dengan menghadirkan bahan bacaan bermutu, pameran lukisan hingga pertunjukan teater anak inklusi yang berkolaborasi dengan SLB Negeri Tanjung Redeb.
Puncak Festival BaBaDa dijadwalkan berlangsung pada 26–27 September 2026 di Story Mount, Jalan Gunung Panjang. Selama dua hari, kegiatan akan dikemas sebagai ruang pertemuan antara penulis, ilustrator, seniman, pembaca kecil, orang tua dan masyarakat. Sejumlah agenda akan dihadirkan, di antaranya peluncuran buku, dongeng interaktif, diskusi karya, pameran ilustrasi, lokakarya kreatif anak dan keluarga, pertunjukan seni tradisi, art market, bazar UMKM serta ruang baca.
“Kami ingin anak-anak mengenal budaya bukan hanya melalui penjelasan, tetapi melalui pengalaman yang menyenangkan. Mereka bisa membaca, melihat ilustrasi, mendengar musik, berkarya dan merasakan langsung pengalaman budaya tersebut,” tuturnya.
Gerobooks Berau berharap lahir karya-karya cerita anak yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu menjadi media untuk memperkenalkan identitas budaya Berau kepada generasi muda. “Harapannya bukan hanya menghasilkan buku, tetapi membangun ekosistem kreatif dan memperkuat literasi budaya, sekaligus mendorong tumbuhnya industri kreatif lokal yang mampu mengangkat identitas Berau melalui karya,” demikian Risna. (Riska)