src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Virus Nipah Mematikan Muncul di India, Kemenkes Wanti-wanti Gejala dan Sumber Penularan

Virus Nipah Mematikan Muncul di India, Kemenkes Wanti-wanti Gejala dan Sumber Penularan

4 minutes reading
Tuesday, 27 Jan 2026 09:57 124 gleadis

HEADLINEKALTIM.CO – Munculnya kembali virus Nipah kembali mengguncang perhatian dunia. Setelah India melaporkan kemunculan terbaru virus mematikan ini, sejumlah negara seperti Taiwan dan Thailand langsung meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat skrining di pintu-pintu kedatangan internasional. Indonesia pun tak tinggal diam. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk waspada, terutama terhadap potensi penularan virus Nipah melalui makanan yang terkontaminasi.

Dilansir dari Detik Health, Virus Nipah bukanlah penyakit baru, namun setiap kemunculannya selalu membawa ancaman serius. Penyakit zoonosis ini dikenal memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 75 persen pada kasus tertentu. Artinya, dari empat orang yang terinfeksi, tiga di antaranya berisiko meninggal dunia. Angka tersebut menjadikan virus Nipah sebagai salah satu virus paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah wabah penyakit menular.

Virus Nipah merupakan virus zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Kelelawar buah dari genus Pteropus diketahui sebagai reservoir alami virus ini. Dalam banyak kasus, penularan terjadi bukan melalui kontak langsung dengan kelelawar, melainkan lewat makanan atau buah yang telah terkontaminasi air liur atau urine hewan tersebut.

Buah-buahan yang tampak segar di luar, ternyata bisa menyimpan ancaman tak kasatmata. Bekas gigitan kecil pada permukaan buah sering kali luput dari perhatian, padahal di sanalah virus bisa berpindah ke manusia. Situasi ini menjadi perhatian serius Kemenkes, mengingat kebiasaan konsumsi buah segar masih sangat umum di masyarakat Indonesia.

Karena itu, Kemenkes menekankan pentingnya kehati-hatian dalam memilih dan mengolah makanan, khususnya buah-buahan. Masyarakat diminta untuk tidak mengonsumsi buah yang menunjukkan bekas gigitan hewan, serta selalu mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi.

Selain dari makanan, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi maupun antarmanusia, terutama melalui cairan tubuh. Meski penularan antarmanusia relatif lebih jarang, risikonya tetap ada, khususnya di lingkungan dengan sanitasi yang buruk atau pada perawatan pasien tanpa perlindungan yang memadai.

Imbauan Kemenkes: Jangan Anggap Remeh

Menghadapi ancaman ini, Kemenkes mengeluarkan imbauan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga daya tahan tubuh. Dalam pernyataan resminya, Kemenkes menekankan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat sebagai benteng pertama melawan infeksi.

“Perkuat imunitas tubuh dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan pakai air dan sabun, konsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, dan rutin beraktivitas fisik,” demikian imbauan Kemenkes, Senin (26/1/2026).

Imbauan tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan tidak selalu harus rumit. Kebiasaan sederhana yang konsisten justru memiliki dampak besar dalam menurunkan risiko penularan penyakit menular, termasuk virus Nipah.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat untuk menghindari kontak langsung dengan hewan yang sakit atau diduga terinfeksi. Langkah ini penting terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan populasi kelelawar yang cukup tinggi atau yang beraktivitas di area perkebunan dan hutan.

Seiring meningkatnya mobilitas global, risiko penyebaran lintas negara menjadi tantangan tersendiri. Kemenkes secara khusus mengimbau masyarakat yang bepergian ke India atau negara lain yang melaporkan kasus virus Nipah agar mematuhi protokol kesehatan yang berlaku di negara tujuan.

Bukan hanya saat berada di luar negeri, kewaspadaan juga harus berlanjut setelah kembali ke Tanah Air. Kemenkes meminta para pelaku perjalanan untuk memantau kondisi kesehatan mereka setidaknya selama 14 hari pascakepulangan. Masa ini dianggap sebagai periode krusial munculnya gejala awal infeksi.

Apabila dalam rentang waktu tersebut muncul gejala seperti demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran, hingga kejang, masyarakat diminta untuk tidak menunda pemeriksaan medis. Segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat dinilai sebagai langkah paling tepat, baik untuk keselamatan pribadi maupun untuk mencegah potensi penularan lebih luas.

Virus Nipah dikenal memiliki spektrum gejala yang luas, mulai dari gejala ringan hingga kondisi yang sangat berat. Pada fase awal, gejala bisa menyerupai flu biasa, seperti demam dan batuk. Namun dalam waktu singkat, kondisi dapat memburuk dengan cepat.

Pada kasus berat, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga radang otak atau ensefalitis. Radang otak inilah yang sering menjadi penyebab utama kematian, ditandai dengan penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.

Hingga kini, belum ada obat antivirus spesifik maupun vaksin yang benar-benar efektif untuk mengatasi virus Nipah. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan suportif dan pengendalian gejala. Fakta ini semakin menegaskan bahwa pencegahan adalah kunci utama dalam menghadapi ancaman virus mematikan ini.

 

WhatsApp
Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co

Gabung

LAINNYA
x