src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">

HEADLINEKALTIM.CO – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam upaya melindungi perempuan dari kanker leher rahim atau kanker serviks. Kanker serviks, skrining kanker serviks, HPV, kesehatan perempuan, dan deteksi dini menjadi isu krusial yang hingga kini belum sepenuhnya tertangani. Dari estimasi sekitar 400 ribu perempuan Indonesia yang hidup dengan risiko kanker serviks, baru sekitar 36 ribu kasus yang berhasil terdeteksi oleh sistem layanan kesehatan nasional.
Dilansir dari CNN Indonesia, Kesenjangan besar antara estimasi dan temuan kasus tersebut mencerminkan satu kenyataan pahit: kesadaran masyarakat terhadap pentingnya skrining kanker serviks masih sangat rendah. Padahal, kanker ini merupakan salah satu jenis kanker paling mematikan bagi perempuan, namun sebenarnya bisa dicegah dan dikendalikan jika terdeteksi sejak dini.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengibaratkan kondisi ini seperti fenomena gunung es. Apa yang terlihat di permukaan hanyalah sebagian kecil dari masalah yang sesungguhnya.
“Berarti kan masih banyak fenomena gunung es yang belum kita temukan dan kita selalu tahu kalau kita berbicara kanker di Indonesia itu angka kematiannya itu bisa sampai dengan 60-70 persen dan ini juga berlaku untuk kanker leher rahim,” kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Siti Nadia Tarmizi saat ditemui di Gedung Prof Sujudi, Kemenkes RI, Selasa (27/1), mengutip Detik.
Tingginya angka kematian akibat kanker serviks tidak lepas dari keterlambatan diagnosis. Banyak perempuan baru memeriksakan diri ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut, saat pengobatan menjadi lebih sulit dan peluang hidup menurun drastis.
Secara nasional, cakupan skrining kanker serviks di Indonesia baru mencapai sekitar 7 persen. Angka ini masih sangat jauh dari target ideal dan menunjukkan betapa besar pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.
Beragam faktor menjadi penyebab rendahnya skrining. Mulai dari kurangnya pengetahuan, rasa takut terhadap hasil pemeriksaan, stigma sosial, hingga keterbatasan tenaga kesehatan dan akses layanan, terutama di daerah terpencil.
Tidak sedikit perempuan yang masih menganggap pemeriksaan kesehatan reproduksi sebagai hal tabu. Ada pula yang merasa takut divonis sakit, sehingga memilih menghindari pemeriksaan sama sekali.
Di tengah tantangan tersebut, upaya deteksi dini kanker serviks menunjukkan perkembangan yang cukup menggembirakan dalam dua tahun terakhir.
Pada tahun 2024, tercatat sekitar 150 ribu perempuan menjalani skrining kanker serviks. Jumlah ini melonjak tajam pada 2025, dengan 666 ribu perempuan telah diperiksa. Meski masih jauh dari target nasional, peningkatan ini menjadi sinyal positif bahwa kesadaran mulai tumbuh.
“Dengan segala keterbatasan, kita bisa mengejar hingga 666 ribu skrining. Ini patut diapresiasi,” kata Nadia.
Lonjakan tersebut tidak terjadi begitu saja. Berbagai kampanye kesehatan, perluasan layanan di puskesmas, serta keterlibatan pemerintah daerah turut berkontribusi mendorong perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksinya.
Dari ratusan ribu perempuan yang menjalani skrining, sekitar 4 persen terdeteksi positif HPV, virus yang menjadi penyebab utama kanker serviks. Selain itu, sekitar 17 ribu perempuan telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode IVA test.
Deteksi pada tahap awal ini dinilai sangat krusial. Dengan mengetahui kondisi sejak dini, pasien dapat segera mendapatkan penanganan sebelum sel kanker berkembang lebih jauh.
Langkah ini diyakini telah menyelamatkan ribuan perempuan dari ancaman kanker serviks stadium lanjut, yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian.
Meski deteksi dini mengalami kemajuan, tantangan belum sepenuhnya teratasi. Tidak semua kasus yang terdeteksi dapat ditindaklanjuti hingga tahap pengobatan lanjutan.
“Banyak kendala di lapangan, mulai dari ketakutan pasien, stigma, hingga kesulitan mengakses rumah sakit rujukan,” jelas Nadia.
Di sejumlah daerah, keterbatasan fasilitas kesehatan rujukan membuat pasien harus menempuh jarak jauh untuk mendapatkan perawatan. Kondisi ini kerap membuat pasien menunda atau bahkan menghentikan proses pengobatan.
Masalah sosial dan ekonomi juga turut memengaruhi keputusan pasien, terutama bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga.
Pemerintah menargetkan cakupan skrining kanker serviks nasional mencapai 75 persen, lebih tinggi dari standar global yang berada di angka 70 persen. Untuk mencapai target tersebut, Kementerian Kesehatan kini memfokuskan pemeriksaan pada metode HPV DNA, yang dinilai lebih akurat dibandingkan pap smear.
Metode ini mampu mendeteksi keberadaan virus HPV sebelum terjadi perubahan sel yang berujung pada kanker, sehingga memberikan waktu lebih panjang untuk pencegahan.
Sebagai bagian dari percepatan, pemeriksaan HPV DNA kini tersedia secara gratis melalui program cek kesehatan, termasuk di puskesmas. Langkah ini diharapkan dapat menghapus hambatan biaya yang selama ini menjadi alasan utama rendahnya partisipasi skrining.
Salah satu tantangan terbesar kanker serviks adalah sifatnya yang sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Banyak perempuan merasa sehat dan tidak memiliki keluhan, padahal proses penyakit sudah berlangsung di dalam tubuh.
Karena itu, skrining rutin menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko fatalitas. Semakin dini kanker terdeteksi, semakin besar pula peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien.