src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> Disbudpar Berau Kenalkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat ke Pelajar

Disbudpar Berau Kenalkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat ke Pelajar

waktu baca 2 menit
Rabu, 15 Jul 2026 16:24 19 huldi amal

HEADLINEKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Pelestarian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat, tetapi juga generasi muda. Salah satu langkah menanamkan kesadaran tersebut melalui sosialisasi yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Berau di SMP Negeri 3 Tanjung Redeb pada Rabu, 15 Juli 2025. Sosialisasi ini menyasar para pelajar agar memahami pentingnya menjaga kekayaan alam, hayati, dan budaya yang dimiliki daerah.

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Disbudpar Berau, Asri, mengatakan sosialisasi tersebut bertujuan memberikan pemahaman dasar mengenai konsep geopark sekaligus mengenalkan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang berada di dua kabupaten, yakni Berau dan Kutai Timur.

Menurutnya, kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memiliki 26 situs geologi, terdiri dari 15 geosite di Kabupaten Berau dan 11 geosite di Kabupaten Kutai Timur. “Kami ingin siswa memahami bahwa geopark bukan hanya tempat wisata, tetapi sebuah kawasan yang memiliki kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan keragaman budaya yang harus dijaga bersama,” ujarnya.

Asri menjelaskan, konsep geopark dibangun atas tiga pilar utama, yakni geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keanekaragaman hayati), dan cultural diversity (keragaman budaya). Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan menjadi identitas kawasan yang harus dilestarikan.

Dalam sosialisasi itu, para siswa juga diperkenalkan dengan berbagai geosite yang berada di Kabupaten Berau, seperti Labuan Cermin, Air Terjun Tembalang, Air Panas Asin Pemapak, Telaga Biru Tulung Ni’ Lenggo, Kampung Merabu dengan Goa Tapak Tangan Purba, Tanjung Sinondok, Danau Kakaban, Maratua yang memiliki Goa Halo Tabung dan Goa Haji Buang, Hutan Dumaring, Taman Sungai Dumaring, Keraton Gunung Tabur, hingga Museum Batiwakkal.

Ia menjelaskan, geopark merupakan kawasan istimewa yang menyimpan warisan alam bernilai tinggi. Keberadaannya tidak hanya bertujuan melindungi bentang alam, tetapi juga menjaga habitat satwa, melestarikan budaya masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata berkelanjutan.

“Pegunungan Karst Sangkulirang-Mangkalihat merupakan salah satu kawasan karst terbesar dan terindah di Indonesia. Kawasan ini terbentuk secara alami selama jutaan tahun dan menyimpan gua-gua purba serta sungai bawah tanah yang menjadi kekayaan geologi dunia,” jelasnya.

Asri berharap para pelajar dapat menjadi agen perubahan yang ikut menyebarkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. “Kalau anak-anak sudah mengenal geopark sejak dini, mereka akan memiliki rasa bangga terhadap daerahnya dan ikut menjaga lingkungan, budaya, serta potensi wisata yang dimiliki Berau,” pungkasnya. (Riska)

LAINNYA
x