src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js">
Peserta Pottery Class di Rene Matcha. (Foto: Riska/headlinekaltim.co)POTTERY Class by Clayland kini semakin populer di Kabupaten Berau. Workshop kreatif ini mempelajari cara membuat keramik/tembikar dari tanah liat untuk menghasilkan barang fungsional seperti piring, cangkir, vas atau mangkuk.
Wajah-wajah peserta nampak begitu antusias mengikuti workshop tersebut. Pottery class ini dibalut dengan suasana yang santai di sebuah kafe. Mereka duduk dengan rapi sambil menggunakan celemek yang disediakan. Di atas meja dipenuhi dengan bahan dan peralatan, seperti sudah siap untuk berkreativitas menggunakan tanah liat.
Alunan musik memenuhi ruangan kafe dengan lembut. Peserta juga terlihat fokus menyimak dan mempraktikkan arahan dari instruktur profesional asal Solo. Workshop ini menjadi alternatif untuk melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari, sambil belajar dan berkreasi membuat keramik atau tembikar.
Penggagas Clayland, Desy Prasetyowati menyampaikan, pottery class kali ini dibagi menjadi dua hari, yaitu tanggal 24 dan 25 Januari 2026 di Rene Matcha, Jalan Tendean, Kabupaten Berau. Ia membuka kelas dengan kuota sebanyak 20 orang, tapi yang daftar sekitar 18 orang.
“Kelasnya dibuat 2 hari. Kalau dijadikan satu bakal penuh, mengingat tempatnya kurang memadai untuk 18 orang sekaligus,” jelasnya.
Cici, sapaan akrabnya, mengaku pernah tinggal di Kabupaten Berau sejak awal tahun 2023, sekitar 3 tahun di Berau. Namun, karena ada sesuatu hal, ia memutuskan untuk pindah ke Solo.
Awalnya, Januari 2026 ini dirinya ingin liburan ke Berau. “Ternyata teman-teman di Berau itu banyak yang mau ikut pottery class lagi. Akhirnya aku buka lagi, biar di Berau kegiatannya gak cuma liburan aja,” ungkapnya.
Melihat antusias dan minat peserta inilah yang mendasari Cici kembali membuka pottery class di Berau. Sebelumnya, perempuan kelahiran 1998 ini memang sudah beberapa kali membuat workshop tersebut selama tinggal di Bumi Batiwakkal.
Menurutnya, ini menjadi peluang buat Clayland karena memang belum ada yang membuat workshop semacam ini khususnya di Kabupaten Berau. Ia juga pernah berkolaborasi dengan beberapa komunitas dan sekolah yakni SMAN 2 Berau. Clayland pernah membuat workshop di Kedai Singkuang, Ruang Sapta, Taman Cendana, Art Market di Pour Indonesia , Fourmo dan belum lama ini di Rene Matcha.
“Antusiasnya lumayan, karena info Pottery bulan Januari 2026 di Berau ini aku share H-satu bulan. Tetapi, saat mendekati H-seminggu banyak banget yang daftar lagi,” ucapnya.
Alumni ISI Surakarta jurusan kriya ini mengatakan, sebenarnya banyak peserta yang ingin ikut pottery class di Berau. Namun, waktunya belum pas. Ada beberapa peserta yang bisa minggu depannya. “Apakah saya harus adakan di Berau lagi untuk bulan selanjutnya?” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menjelaskan, kalau untuk bahan dan peralatan sudah disediakan semua, jadi peserta tinggal datang. Entry fee berkisar Rp250.000, terdiri dari 400 gram tanah liat, alat dan apron, pewarna food grade termasuk biaya pembakaran. Hasil keramik/tembikar bisa digunakan karena melalui proses pembakaran.
“Kebanyakan mereka bikin piring dan tempat aksesoris, jarang kalau bikin gelas. Ada juga yang bikin kalender yang life time sama figur. Dari semua kelas itu banyak yang bikin wadah buat aksesoris,” jelasnya.
Cici memaparkan, untuk proses saat workshop itu menggunakan teknik handbuilding atau teknik membuat tanah liat menggunakan tangan, yang sering dipakai itu teknik pinching (mencubit) sama slab (lempengan).
Menurutnya, kedua teknik tersebut sering digunakan karena lebih mudah untuk diikuti arahan-arahannya. Setelah dibentuk semirip mungkin dengan referensi yang mereka punya, peserta mulai mewarnai tanah liat tersebut.
“Itu nunggu beberapa hari dulu sampai agak kering lalu dikasih glazing (pelapisan glasir) baru dibakar. Ada dua kali proses pembakaran, selama 8-10 jam dengan suhu tinggi agar keramik kuat dan aman digunakan,” bebernya.
Proses pembakaran bakal dilakukan di Solo, dengan estimasi waktu selesai sekitar 3-4 minggu. Tergantung antrean dari tempat pembakarannya. Selain itu, kapasitas tungku pembakaran terbatas. “Hasil keramiknya nanti dikirim ke Berau karena memang di Berau belum ada alat untuk proses pembakaran ini,” ujarnya.
Wanita yang sudah menetap di Solo ini menceritakan bahwa lumayan panjang perjalanan Clayland menghadirkan pottery class di Kabupaten Berau. Ia merasa bersyukur karena teman-temannya di Berau mendukung penuh untuk membuat kelas kreatif ini. Setiap yang ikut workshop ada peserta yang kembali ikut dan orang-orang baru yang pengen mencoba membuat keramik/tembikar.
“Semoga ada investor yang masuk, jadi aku bisa buka studio di Berau dan memfasilitasi teman-teman yang ingin belajar pottery secara rutin,” ungkapnya.
Salah satu peserta, Rakan menuturkan bahwa pottery class merupakan salah satu kegiatan positif dan menyenangkan. Sehingga, wajib diikuti oleh teman-teman yang ingin mencari aktivitas baru dan unik.
“Kita ketemu dengan sesama peserta yang saling antusias, sehingga menambah kenalan yang menyukai aktivitas di bidang yang serupa seperti workshop yang satu ini,” bebernya.
Rakan mengaku pernah mengikuti clay/pottery di Yogyakarta. Kata dia, bedanya waktu itu bukan kelas, lebih ke workshop mandiri. “Kalau di Berau ini pertama kali aku ikut. Workshop kemarin aku bikin tray untuk incense stick holder,” pungkasnya. (Riska)