HEADLINEKALTIM.CO, SAMARINDA - Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Samarinda mengalami penurunan pada siang hingga sore hari. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda mencatat kondisi udara pada rentang waktu sekitar pukul 13.00 hingga 17.00 WITA berada dalam kategori tidak sehat, terutama di kawasan yang memiliki aktivitas kebakaran lahan cukup tinggi. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan berdasarkan analisa yang dilakukan tim DLH, kualitas udara pada pagi hingga menjelang siang masih cenderung berada pada kondisi baik hingga sedang. “Kalau pagi sampai jam 11-an bagus, hijau, sedang. Nah, setelah itu sore akan mengalami penurunan,” ungkap Suwarso saat dikonfirmasi Senin, 7 September 2026. Dijelaskannya, penurunan kualitas udara paling terasa di wilayah Samarinda Utara, Palaran dan Sambutan. Ketiga wilayah tersebut menjadi perhatian karena aktivitas kebakaran lahan yang relatif lebih sering terjadi sehingga berpotensi memengaruhi kondisi udara di sekitarnya. Meski demikian, Suwarso menegaskan kondisi tersebut tidak menggambarkan kualitas udara seluruh wilayah Samarinda. Perubahannya juga bersifat fluktuatif dan bergantung pada lokasi serta waktu pengukuran. “Pokoknya daerah-daerah yang tingkat kebakaran lahannya tinggi, rata-rata kualitas udaranya tidak sehat. Tapi fluktuatif, nanti pagi sampai jam 11-an bagus, hijau, sedang,” sebut dia. Untuk mengantisipasi dampak terhadap masyarakat, terutama kelompok yang beraktivitas di luar ruangan, DLH Samarinda tengah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Pembahasan juga diarahkan pada wilayah yang terdampak langsung oleh kondisi udara tidak sehat, termasuk lingkungan sekolah. Dikatakan Suwarso, salah satu opsi yang sedang dimatangkan adalah tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan penerapan kewajiban penggunaan masker. Langkah tersebut dinilai lebih aman dibandingkan meliburkan siswa tanpa pengawasan, karena anak-anak justru berpotensi lebih banyak beraktivitas di luar rumah. “Sedang kita diskusikan, kita mantapkan keputusannya untuk tetap dipakai masker sekolah itu. Karena kita khawatir kalau ada diliburkan juga anak-anak berkeliaran malah berisiko tinggi. Jadi tetap sekolah tapi tetap pakai masker,” tuturnya. Selain berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, DLH juga telah melakukan sosialisasi secara langsung di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki risiko tinggi. Pembagian masker juga dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi paparan udara yang kurang baik akibat kebakaran lahan. Salah satu lokasi yang telah didatangi tim DLH yakni Makroman. Sosialisasi tersebut menyasar masyarakat di kawasan yang berpotensi terdampak asap maupun aktivitas kebakaran lahan. Di samping itu, DLH Samarinda bersama sejumlah instansi juga menyiapkan pemantauan kualitas udara yang lebih terukur di lapangan. Alat pemantauan kualitas udara portable akan ditempatkan di tiga lokasi yang dinilai membutuhkan pemantauan lebih dekat, yakni Bantuas, Makroman dan Betapus. Peralatan tersebut diperoleh melalui kerja sama dengan sejumlah instansi, di antaranya Laboratorium Kesehatan Provinsi, Baristan dan Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hasil pengukuran di lapangan nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi udara secara lebih spesifik pada wilayah yang terdampak kebakaran lahan. Suwarso memastikan pemasangan alat tersebut dilakukan dalam waktu dekat. Dengan adanya pengukuran di tiga lokasi, DLH dapat memantau perubahan kualitas udara secara lebih berkala, terutama pada jam-jam ketika kondisi udara mulai mengalami penurunan.“Besok (Selasa) sudah dipasang di tiga titik itu ya,” pungkas Suwarso. (Retno) Berita Terkini, Ikuti Saluran WhatsApp headlinekaltim.co Gabung