src="https://news.google.com/swg/js/v1/swg-basic.js"> “Sampah Serapah”, Lahir dari Keresahan Atas Kondisi Sosial Bangsa, Naskah Perdana Komunitas Penikmat Teater Berau  

“Sampah Serapah”, Lahir dari Keresahan Atas Kondisi Sosial Bangsa, Naskah Perdana Komunitas Penikmat Teater Berau  

waktu baca 3 menit
Selasa, 18 Agu 2026 20:12 23 huldi amal

Komunitas Penikmat Teater Berau menandai langkah perjalanan menuju satu tahun mereka dengan menghadirkan pementasan bertajuk “Sampah Serapah”, karya Isman Rh. Pementasan yang disutradarai Garry Cantona ini menjadi Pentas Prolog sekaligus ruang perkenalan komunitas kepada publik khususnya di Bumi Batiwakkal.

Pentas yang digelar pada 15–16 Agustus 2026 di Aula Busak Kanangan SMP Negeri 3 Tanjung Redeb tersebut mendapat sambutan cukup baik. Sekitar 100 penonton hadir menyaksikan pertunjukan yang mengangkat keresahan terhadap kondisi sosial di Indonesia melalui pendekatan surealis.

Salah seorang anggota komunitas Penikmat Teater, Andriane Uran, mengatakan pemilihan naskah Sampah Serapah tidak semata karena durasinya yang relatif singkat, tetapi juga karena memiliki keresahan yang kuat terhadap kondisi yang terjadi di Indonesia.
“Selain karena naskahnya pendek, tapi sarat keresahan tentang kondisi di Indonesia,” ucapnya.

Dalam proses kreatifnya, komunitas mengembangkan pementasan dengan pendekatan surealis. Hal tersebut terlihat melalui dialog, tata artistik, hingga gestur simbolik yang digunakan para pemain di atas panggung.

Menariknya, konsep tersebut juga diterjemahkan melalui penggunaan material yang tidak biasa. Kata “sampah” dalam judul diasosiasikan sebagai bentuk keresahan. Namun, secara artistik justru dimanfaatkan menjadi bagian dari pertunjukan, salah satunya melalui penggunaan limbah fashion sebagai kostum.

Menurutnya, pemanfaatan kembali sampah tersebut memiliki keterkaitan dengan pesan tentang harapan yang ingin disampaikan dalam pertunjukan. “Masih ada harapan, walaupun suatu keadaan atau suatu barang sudah dilabeli sebagai sampah,” jelasnya.

Pementasan ini sekaligus menjadi bagian dari program kerja komunitas yang diarahkan sebagai pembuka perjalanan Penikmat Teater. Konsep “Prolog” dipilih karena menjadi pentas pertama yang benar-benar diproduksi oleh komunitas tersebut.

Andriane menjelaskan, sebelumnya para anggota Penikmat Teater lebih banyak terlibat dalam kolaborasi, mengisi kegiatan, maupun menjadi penonton pertunjukan kelompok lain. Melalui Pentas Prolog, mereka mulai membangun panggung sendiri. “Ini benar-benar kami yang buat sendiri. Pentas pertama kami di Penikmat Teater,” katanya.

Ke depan, Pentas Prolog diharapkan tidak berhenti sebagai satu pertunjukan. Komunitas telah menyiapkan konsep berkelanjutan melalui Pentas Dialog yang akan hadir secara berkala, sebelum nantinya ditutup dengan Pentas Epilog. “Pasti akan ada pentas selanjutnya, tapi namanya bukan Pentas Prolog. Akan ada pentas-pentas Dialog. Entah Dialog 1, Dialog 2, Dialog 3 dan seterusnya,” ungkapnya.

Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya komunitas menjaga keberlanjutan aktivitas teater, sekaligus membuka ruang bagi regenerasi pelaku seni pertunjukan. Namun, proses menuju pementasan bukan tanpa tantangan. Sebagian besar pemain dan kru merupakan pekerja dengan kesibukan masing-masing. Latihan pun harus menyesuaikan waktu, terutama pada malam hari.

Andriane menyebut kondisi tersebut membuat latihan dengan formasi lengkap cukup sulit dilakukan. Bahkan, pada masa-masa akhir persiapan, sejumlah pemain harus tetap menjalani latihan setelah pulang bekerja sehingga beberapa di antaranya mengalami kelelahan. “Kadang-kadang waktu berkumpul latihan full lengkap itu jarang banget. Di detik-detik terakhir atau minggu-minggu terakhir baru bisa,” ujarnya.

Tantangan lainnya adalah menyatukan para pelaku teater yang berasal dari latar belakang berbeda. Para pemain dan tim artistik tidak berasal dari satu organisasi atau sanggar, melainkan dipertemukan dalam satu proses kreatif. Meski demikian, keberagaman tersebut justru menjadi kekuatan bagi Penikmat Teater untuk membangun ruang kolaborasi lintas generasi dan lintas komunitas. “Penikmat Teater berharap semakin banyak panggung pertunjukan lahir di Berau. Seni pertunjukan, khususnya teater, diharapkan tidak berhenti ketika seseorang memasuki dunia kerja, tetapi tetap menjadi ruang ekspresi, apresiasi, sekaligus pertemuan antarpelaku seni,” tutupnya. (Riska)

LAINNYA
x